Ganggu Pasokan Bahan Bakar, Ukraina Targetkan Kilang Minyak & Tanker Rusia

S Sawalika 16 Jul 2026 0 dilihat 3 menit baca

Ukraina terus meningkatkan intensitas serangan jarak jauh terhadap infrastruktur energi Rusia dalam beberapa pekan terakhir. Kilang minyak, terminal ekspor, stasiun pemompaan, hingga kapal tanker menjadi sasaran gelombang drone yang diluncurkan Kyiv, dengan tujuan utama melumpuhkan sumber pendapatan sekaligus pasokan bahan bakar yang menopang mesin perang Moskow.

Dalam sepekan terakhir saja, drone Ukraina tercatat menghantam sejumlah fasilitas penting, mulai dari kilang minyak Omsk milik Gazprom Neft di Siberia—salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar Rusia—hingga kilang TANECO dan TAIF-NK di Tatarstan, kilang Saratov, serta pangkalan udara militer di Voronezh. Serangan terhadap Omsk tergolong istimewa karena lokasinya yang sangat jauh, sekitar 2.700 kilometer dari wilayah yang dikuasai Ukraina, menunjukkan jangkauan drone Ukraina yang terus bertambah jauh ke pedalaman Rusia.

Tak hanya kilang, Ukraina juga menyasar pelabuhan-pelabuhan strategis di Laut Baltik seperti Ust-Luga dan Vysotsk yang menjadi jalur ekspor minyak Rusia, serta stasiun pemompaan minyak di Bashkortostan yang berjarak sekitar 1.450 kilometer dari perbatasan Ukraina. Pekan sebelumnya, serangan besar-besaran juga menghantam terminal minyak utama di St Petersburg, kota kedua terbesar Rusia. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut terminal itu sebagai infrastruktur kunci yang menghasilkan pendapatan bagi upaya perang Rusia, sekaligus mengeklaim serangan turut menghantam pangkalan Angkatan Laut Rusia di Kronstadt.

Zelensky menyebut rangkaian operasi ini sebagai bagian dari kampanye yang ia sebut "sanksi jarak jauh" terhadap Rusia—sebuah cara untuk membuat perang benar-benar terasa di dalam negeri Rusia sendiri, sebagai balasan atas penolakan Moskow mengakhiri invasi. Bagi Kyiv, seluruh fasilitas minyak dan gas Rusia dianggap sebagai target militer yang sah, mengingat besarnya ketergantungan Kremlin pada ekspor bahan bakar fosil untuk membiayai kelanjutan perang.

Ukraina bahkan mengeklaim bahwa hampir 43 persen kapasitas penyulingan minyak Rusia telah dinonaktifkan akibat rangkaian serangan tersebut, meski klaim ini belum bisa diverifikasi secara independen oleh pihak lain.

Dampak dari gempuran bertubi-tubi ini mulai terasa nyata di dalam negeri Rusia. Lebih dari 90 persen wilayah Rusia dilaporkan telah menerapkan penjatahan bahan bakar dalam berbagai bentuk atau mengalami kelangkaan bensin dan solar. Antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar serta kebijakan pembatasan penjualan menjadi pemandangan umum di sejumlah daerah.

Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan membuat pengakuan langka mengenai kekurangan bahan bakar yang dipicu serangan Ukraina—hal yang jarang ia lakukan secara terbuka. Sebagai respons, Putin menandatangani undang-undang kedaruratan yang dirancang untuk mengamankan dan meningkatkan pasokan energi ke pasar domestik, sekaligus memberlakukan larangan ekspor sejumlah produk bahan bakar tertentu.

Di tengah gempuran terhadap infrastruktur energinya, Rusia terus melancarkan serangan balasan berskala besar ke wilayah Ukraina menggunakan kombinasi drone dan rudal balistik. Kementerian Pertahanan Rusia mengeklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat ratusan drone Ukraina dalam semalam, meski sejumlah drone dan rudal tetap menembus pertahanan dan menimbulkan kerusakan di berbagai lokasi.

Di sisi lain, pertempuran darat juga masih berlangsung sengit. Rusia dilaporkan merebut sejumlah wilayah di kawasan timur Ukraina, termasuk kota strategis yang telah lama menjadi incaran Moskow, meski klaim tersebut dibantah oleh pihak Ukraina.

Dengan intensitas serangan yang terus meningkat dan dampaknya yang semakin dirasakan di berbagai wilayah Rusia yang membentang sebelas zona waktu, strategi Ukraina menargetkan sektor energi tampaknya akan terus menjadi salah satu front utama dalam perang yang telah berlangsung bertahun-tahun ini—sebuah upaya untuk melemahkan kemampuan finansial dan militer Rusia dari jarak jauh, tanpa harus terlibat konfrontasi langsung di garis depan.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait