Bekasi - Lanskap perdagangan di Kota Bekasi dan sekitarnya tengah mengalami pergeseran insting yang cukup tajam. Perlahan namun pasti, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal kini mulai meninggalkan pola dagang konvensional dan beralih total ke ekosistem digital. Fenomena ini pun memicu penurunan traksional yang cukup signifikan pada sejumlah pasar ritel fisik yang selama ini menjadi pusat nadi ekonomi warga Kota Patriot.
Berdasarkan pantauan di lapangan sejak awal pekan ini, beberapa pusat perbelanjaan tradisional seperti Pasar Baru Bekasi dan kawasan pertokoan di sepanjang Jalan Ir. H. Juanda tampak lebih lengang dari biasanya. Penurunan omzet pedagang luring (offline) ditengarai bukan lagi karena daya beli masyarakat yang melemah, melainkan akibat perpindahan ruang transaksi yang kini beralih ke layar gawai.
Menurut pengamat ekonomi daerah dari Universitas Islam '45' (Unisma) Bekasi, Dr. Hendra Gunawan, transformasi ini bukan lagi sekadar tren musiman yang bisa diabaikan. Ini telah menjadi strategi bertahan hidup yang mutlak. Menurutnya, konsumen urban Bekasi saat ini jauh lebih menghargai efisiensi waktu dan kemudahan logistik, yang pada akhirnya memaksa pedagang konvensional untuk memutar otak agar tidak gulung tikar.
"Kalau tidak ikut masuk ke platform digital, pilihannya cuma dua bagi pedagang hari ini: stagnan atau tenggelam. Pembeli sekarang mencari kepraktisan. Mereka bisa membandingkan harga dari lima toko berbeda sambil duduk di rumah. Ini yang tidak bisa dilawan oleh toko fisik jika mereka tetap kaku," ujar Hendra saat diwawancarai, Rabu (17/6).
Dilema Adaptasi di Tingkat Akar Rumput
Namun, migrasi massal ke pasar digital ini tidak serta-merta berjalan mulus bagi semua pihak. Bagi generasi pedagang senior yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari interaksi tatap muka di lapak fisik, teknologi baru ini kerap menjadi momok yang membingungkan.
Faktor gagap teknologi (gaptek) dan rumitnya sistem logistik digital sering kali menjadi batu sandungan utama. Akibatnya, terjadi ketimpangan pendapatan yang cukup mencolok antara pedagang muda yang adaptif dengan pedagang tua yang masih bertahan dengan cara lama.
-
Faktor Pendorong Migrasi Digital: Biaya operasional toko fisik yang tinggi (sewa tempat, listrik), jangkauan pasar yang tidak terbatas geografis, serta kemudahan sistem pembayaran nontunai (cashless) lewat QRIS.
-
Hambatan Ritel Konvensional: Minimnya literasi digital pada pedagang paruh baya, ketergantungan pada tengkulak tradisional, dan berkurangnya budaya tawar-menawar langsung yang dulu menjadi daya tarik pasar.
Di sisi lain, bagi mereka yang berhasil keluar dari zona nyaman, hasilnya terbukti manis. Ridwan Hakim (34), seorang perajin sepatu lokal asal Kecamatan Bekasi Timur, mengaku omzetnya justru melonjak hingga 40 persen setelah ia memutuskan untuk mengurangi porsi toko fisiknya dan fokus pada penjualan melalui live streaming di media sosial serta platform e-commerce.
"Dulu saya harus tunggu orang lewat depan toko, itu pun belum tentu mampir. Sekarang, modal kamera ponsel dan koneksi internet, saya bisa jualan ke pembeli yang ada di luar pulau bahkan luar negeri. Memang awalnya pusing belajar algoritma, tapi tidak ada pilihan lain kalau mau dapur tetap ngebul," tutur Ridwan dengan logat khasnya.
Pemerintah Daerah Perlu Turun Tangan
Menanggapi fenomena yang kian masif ini, Dinas Koperasi dan UKM Kota Bekasi menyatakan tidak bisa melarang arus digitalisasi ini. Kendati demikian, pemerintah daerah mengaku tengah merancang program inkubasi khusus untuk menjembatani para pedagang pasar tradisional agar tidak tergilas zaman.
Langkah taktis yang direncanakan dalam waktu dekat adalah pelatihan pembuatan konten kreatif, manajemen inventaris digital, serta fasilitasi pembuatan akun toko daring yang legal bagi para pedagang kecil. Diharapkan, dengan adanya pendampingan ini, pasar tradisional di Bekasi tidak akan mati, melainkan bertransformasi menjadi pusat pemenuhan (fulfillment center) yang modern dan tetap bernyawa.