SUKABUMI – Aktivitas kegempaan kembali mengguncang wilayah Jawa Barat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya gempa bumi tektonik yang berpusat di darat di wilayah Kabupaten/Kota Sukabumi pada Kamis siang, 21 Mei 2026. Peristiwa yang terjadi tepat pada pukul 11.56 WIB tersebut sempat memicu kepanikan warga yang sedang beraktivitas di dalam ruangan.
Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh BMKG, episenter gempa bumi terletak pada koordinat titik koordinat lokal, dengan pusat gempa berada di darat pada jarak sekitar 16 kilometer arah Barat Laut Kota Sukabumi. Gempa ini dikonfirmasi memiliki kedalaman yang cukup dangkal (shallow earthquake), karakteristik yang umum ditemukan pada jaringan sesar aktif di daratan Jawa Barat.
Kronologi dan Guncangan yang Dirasakan
Guncangan terjadi begitu cepat namun terasa cukup kuat di beberapa area terdekat dari pusat gempa. Menurut penuturan sejumlah warga di wilayah Sukabumi Utara dan sekitarnya, getaran dirasakan selama beberapa detik dengan intensitas yang mengejutkan.
"Tadi sedang istirahat siang, tiba-tiba kaca jendela bergetar kencang dan meja kerja terasa bergoyang. Semua rekan kantor langsung berhamburan keluar ke titik kumpul," ujar salah satu karyawan swasta di pusat Kota Sukabumi.
Berdasarkan skala intensitas MMI (Modified Mercalli Intensity) yang dipetakan oleh BMKG, guncangan gempa bumi ini dirasakan nyata di dalam rumah oleh masyarakat luas. Pada skala II-III MMI, getaran dirasakan nyata seakan-akan ada truk besar yang berlalu, menyebabkan benda-benda ringan yang digantung bergoyang dan kaca jendela berderit.
Hingga berita ini diturunkan, getaran juga dilaporkan terindikasi kuat di beberapa wilayah penyangga sekitar Sukabumi, termasuk sebagian wilayah Kabupaten Bogor bagian selatan dan Cianjur yang secara geografis berdekatan dengan jalur patahan darat.
Analisis BMKG: Karakteristik Gempa Darat
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG menjelaskan bahwa melihat dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar atau patahan aktif lokal di daratan.
Jawa Barat, khususnya wilayah Sukabumi, Cianjur, dan Bogor, dikenal memiliki jaringan struktur geologi yang sangat kompleks. Beberapa sesar aktif, baik yang sudah terpetakan dengan detail maupun sesar-sesar lokal lainnya, kerap menjadi pemicu pelepasan energi tektonik secara berkala.
Karena pusatnya berada di wilayah daratan dan kekuatannya yang berada di skala tektonik lokal, BMKG memastikan bahwa gempa bumi ini sama sekali tidak berpotensi memicu gelombang tsunami. Oleh karena itu, masyarakat di pesisir pantai selatan Sukabumi (seperti Pelabuhan Ratu dan sekitarnya) diimbau untuk tidak panik berlebihan terkait isu tsunami.
Dampak Kerusakan dan Penanganan Darurat
Hingga Kamis sore, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota dan Kabupaten Sukabumi bersama relawan setempat masih melakukan pemantauan intensif, penyisiran, dan penilaian dampak (damage assessment) di lapangan.
Fokus pemeriksaan diarahkan pada pemukiman warga yang berada di radius terdekat dengan episenter gempa, serta fasilitas publik seperti sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah. Laporan awal menunjukkan beberapa bangunan tua atau rumah dengan struktur dinding yang kurang kuat mengalami retak rambut di bagian luar, namun belum ada laporan mengenai kerusakan struktural skala besar yang masif atau korban jiwa akibat kejadian ini.
Pihak BPBD mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan ke posko terdekat jika menemukan kerusakan yang membahayakan pada struktur bangunan tempat tinggal mereka.
Rekomendasi Penting Bagi Masyarakat
Menyikapi peristiwa tektonik darat ini, BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting guna mengantisipasi skenario lanjutan:
-
Hindari Bangunan Retak: Warga diminta untuk sementara waktu menghindari bangunan yang retak-retak atau rusak akibat korsleting atau guncangan gempa, guna menghindari risiko ambruk jika terjadi gempa susulan.
-
Periksa Keamanan Rumah: Sebelum kembali masuk ke dalam rumah pasca-evakuasi, pastikan struktur utama rumah (tiang dan atap) dalam kondisi aman, serta tidak ada kebocoran gas atau korsleting listrik.
-
Waspada Informasi Hoaks: Masyarakat diharap tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak bertanggung jawab mengenai prediksi gempa susulan raksasa. Pastikan seluruh informasi resmi hanya bersumber dari kanal komunikasi BMKG (aplikasi InfoBMKG, media sosial resmi, atau situs web bbn.bmkg.go.id).
Aktivitas gempa susulan (aftershocks) dengan intensitas yang jauh lebih kecil adalah hal yang wajar terjadi pasca-gempa utama demi mencapai kestabilan tektonik kembali. Oleh karena itu, ketenangan yang terukur dan sikap tanggap bencana menjadi kunci utama keselamatan warga di wilayah rawan gempa.