Pada Senin, 2 November 2026, dunia kembali diingatkan akan potensi alam Indonesia yang tak pernah benar-benar tidur. Gunung Dukono, salah satu gunung api paling aktif di Provinsi Maluku Utara, dilaporkan kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan dua kali erupsi beruntun yang terjadi pada pagi hari. Peristiwa ini sontak menjadi perhatian bagi warga sekitar, tim mitigasi bencana, serta para pengamat vulkanologi yang terus memantau pergerakan gunung yang terletak di Kabupaten Halmahera Utara tersebut.
Erupsi pertama terjadi tepat pada pukul 09.11 WIT. Berdasarkan laporan resmi dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Dukono, letusan pada fase pertama ini menyemburkan kolom abu yang cukup tinggi, yakni mencapai sekitar 950 meter di atas puncak gunung. Abu vulkanik yang terlontar ke udara terlihat berwarna kelabu hingga hitam pekat, menandakan bahwa material yang dikeluarkan masih mengandung banyak batuan dan gas vulkanik. Angin yang bertiup saat itu membawa kolom abu ke arah barat laut, sehingga wilayah-wilayah yang berada di jalur tersebut diminta untuk lebih waspada terhadap potensi hujan abu.
Tak berselang lama, sekitar pukul 09.53 WIT, Gunung Dukono kembali bergejolak. Namun, berbeda dengan erupsi pertama, pada letusan kedua ini tinggi kolom abu tidak dapat teramati secara visual. Hal ini disebabkan oleh kondisi cuaca di sekitar puncak gunung yang saat itu tertutup awan tebal. Meskipun demikian, instrumen seismik yang terpasang di sekitar gunung tetap merekam adanya getaran yang signifikan, menandakan bahwa aktivitas vulkanik di bawah permukaan masih berlangsung intens. Ketidakmampuan pengamatan visual ini justru menjadi pengingat bahwa pemantauan alat menjadi sangat krusial ketika alam tidak bisa dilihat secara langsung.
Hingga berita ini diturunkan, status Gunung Dukono masih berada di Level II atau Waspada. Status ini telah disandang gunung tersebut sejak lama, mengingat karakteristik Dukono yang memang kerap mengalami erupsi kecil secara terus-menerus. Meski demikian, pihak berwenang tetap mengimbau masyarakat untuk tidak lengah. Warga yang tinggal di sekitar gunung, terutama mereka yang berada di lembah-lembah aliran sungai dan area yang berpotensi dilalui abu vulkanik, diminta untuk selalu menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Masker ini berfungsi untuk melindungi saluran pernapasan dari paparan partikel abu yang dapat menyebabkan iritasi pada mata dan gangguan pernapasan, khususnya bagi anak-anak dan lansia.
Selain itu, masyarakat juga dilarang untuk mendekati kawah atau berada dalam radius tertentu dari puncak gunung demi keselamatan bersama. Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah menyiagakan personel untuk memantau kondisi di lapangan dan memberikan edukasi kepada warga mengenai langkah-langkah mitigasi yang harus dilakukan jika terjadi hujan abu yang lebih tebal. Koordinasi antara PGA, BPBD, dan pemerintah desa terus dilakukan guna memastikan informasi terkini dapat tersampaikan dengan cepat dan akurat.
Bagi para pengamat dan peneliti, aktivitas Gunung Dukono pada hari ini menjadi data penting untuk memahami pola erupsi gunung api stratovolcano tersebut. Dukono dikenal sebagai gunung api yang memiliki karakteristik letusan eksplosif yang bersifat magmatik maupun freatik. Kombinasi antara laporan visual yang terbatas pada erupsi kedua dan data seismik yang terekam menjadi bukti bahwa sistem peringatan dini berbasis teknologi sangatlah vital dalam menghadapi situasi seperti ini. Masyarakat pun diharapkan tidak mudah terpancing oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Pasca-erupsi, situasi di sekitar Gunung Dukono dilaporkan masih relatif kondusif. Aktivitas warga di luar ruangan tetap berjalan, namun dengan kewaspadaan yang lebih tinggi. Beberapa penerbangan yang melintas di jalur udara sekitar Maluku Utara juga telah mendapatkan notifikasi dari otoritas penerbangan terkait adanya sebaran abu vulkanik, meskipun belum ada laporan pembatalan penerbangan secara signifikan. Dengan status Waspada yang masih melekat, Gunung Dukono mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya akan keindahan alam sekaligus tantangan geologis. Kesiapsiagaan, kepatuhan terhadap imbauan pemerintah, serta literasi kebencanaan yang baik menjadi kunci utama untuk tetap aman dan tenang menjalani aktivitas sehari-hari di sekitar gunung api yang aktif ini.