Industri EV China Pacu Pengembangan Baterai Solid-State untuk Komersialisasi 2027

S Sawalika 22 Agu 2026 0 dilihat 4 menit baca

Persaingan teknologi baterai kendaraan listrik (EV) di China memasuki babak baru. Sepanjang 2026, hampir seluruh produsen baterai dan otomotif papan atas negeri itu—mulai dari CATL, BYD, hingga Geely dan Chery—mengumumkan peta jalan komersialisasi baterai solid-state, dengan tahun 2027 muncul sebagai titik konvergensi yang mencolok di antara para pemain besar.

Berbeda dengan baterai lithium besi fosfat (LFP) dan lithium ternary yang sudah didominasi segelintir pemasok, sektor baterai solid-state di China justru diramaikan oleh berbagai pendekatan kimia elektrolit yang bersaing—mulai dari sulfida, oksida, polimer, hingga arsitektur hibrida "condensed-state". QingTao Energy menargetkan komersialisasi sekitar 2027, sementara Sunwoda Electronic dan SVOLT Energy masing-masing mengembangkan desain berbasis polimer dan sulfida.

CATL sebagai produsen baterai EV terbesar dunia juga menetapkan target serupa. Perusahaan yang menguasai sekitar 42 persen pangsa pasar baterai EV global ini menyatakan berencana memulai produksi massal baterai solid-state pada 2027, dengan adopsi yang lebih luas diperkirakan terjadi pada 2030. BYD, pesaing terdekatnya, memiliki rencana yang sejalan. BYD bertujuan memulai produksi terbatas baterai solid-state berbasis sulfida pada 2027, lalu meningkatkannya ke produksi massal pada 2030.

Geely tak mau ketinggalan. Pada 2027, Geely menargetkan industrialisasi skala kecil baterai solid-state dengan 1.000 kendaraan demonstrasi yang beroperasi, sementara tujuan jangka panjangnya adalah menuntaskan penataan industri baterai solid-state pada 2030. Densitas energi sel baterai Geely diproyeksikan menembus 500 Wh/kg.

Chery bahkan mengklaim kemajuan yang lebih agresif. Produsen yang juga eksportir mobil terbesar China ini memperkenalkan baterai solid-state berdensitas energi hingga 600 watt-jam per kilogram di bawah merek Rhino, dengan validasi kendaraan dimulai tahun ini dan komersialisasi skala besar ditargetkan pada 2027. Baterai bersandi Rhino S itu diklaim mampu memberikan jarak tempuh lebih dari 1.500 kilometer serta tetap stabil pada suhu serendah minus 30 derajat Celsius.

Untuk mempercepat industrialisasi, otoritas China turut menyiapkan kerangka regulasi. China memperkenalkan standar nasional pertama di dunia untuk baterai solid-state EV, lewat dokumen yang membahas istilah dan klasifikasi, sebagai langkah awal dari total empat standar yang direncanakan. Langkah ini dipandang sebagai upaya China untuk menetapkan aturan main global di segmen teknologi baterai generasi berikutnya, sekaligus menjembatani kesenjangan antara riset laboratorium dan produk industri yang bisa diproduksi secara massal.

Selain itu, GAC Group turut mencatat capaian penting di sisi manufaktur. Perusahaan ini telah menyelesaikan jalur produksi baterai solid-state kapasitas tinggi pertamanya dan tengah menjalankan uji coba skala kecil, dengan kapasitas produksi massal baterai di atas 60 ampere-jam—ambang batas yang dianggap cukup untuk aplikasi kendaraan.

Produsen lain seperti CALB, Gotion High-Tech, dan Farasis Energy juga mengonfirmasi rencana serupa. CALB, produsen baterai terbesar ketiga di China, mengumumkan rencana validasi EV skala kecil untuk 2027 dan menargetkan peningkatan produksi solid-state pada 2030–2032, sementara Gotion yang didukung Volkswagen berencana uji jalan pada 2027 sebelum produksi komersial penuh pada 2029–2030.

Meski optimisme tinggi, sejumlah analis mengingatkan bahwa jalan menuju produksi massal masih terjal. Analis industri mencatat bahwa produksi skala besar baterai solid-state masih menghadapi kendala besar, termasuk proses manufaktur, kendali biaya, dan keandalan jangka panjang, dengan titik terobosan utama diperkirakan baru akan tercapai setelah 2030. Bahkan sejumlah pakar bersikap lebih skeptis; pakar Ouyang Minggao memprediksi baterai solid-state hanya akan meraih sekitar 1 persen pangsa pasar dalam satu dekade ke depan.

Dinamika ini menempatkan 2027 bukan sebagai tahun peluncuran massal, melainkan sebagai titik uji jalan dan validasi skala terbatas—semacam garis start resmi sebelum baterai solid-state benar-benar menggantikan baterai lithium-ion konvensional pada pergantian dekade berikutnya. Bagi konsumen, hal ini berarti kendaraan listrik dengan jarak tempuh mendekati 1.000 kilometer per pengisian, waktu pengisian daya yang jauh lebih singkat, serta tingkat keamanan yang lebih tinggi bukan lagi sekadar wacana laboratorium, melainkan target industri yang mulai memiliki tenggat waktu konkret.

Yang jelas, dengan lebih dari selusin produsen besar—dari CATL, BYD, Geely, Chery, SAIC, GAC, hingga Changan dan Dongfeng—kompak mengarah ke tenggat 2027, China tampak berupaya memastikan posisinya sebagai pemimpin dalam transisi menuju generasi baterai kendaraan listrik berikutnya, sekaligus memperkuat dominasinya di rantai pasok baterai global yang saat ini sudah dikuasai lebih dari separuh oleh produsen-produsen asal negara tersebut.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait