Jakarta — Huawei dan Qualcomm secara resmi mengumumkan perjanjian lisensi paten multi-tahun yang mencakup lisensi silang portofolio paten kedua perusahaan di berbagai bidang teknologi strategis, termasuk 5G, komputasi, kecerdasan buatan (AI), dan jaringan. Perjanjian ini menandai tonggak sejarah karena untuk pertama kalinya Qualcomm menjadi pihak yang membayar lisensi kepada Huawei, bukan sebaliknya. Pengumuman ini disampaikan pada Senin, 5 Oktober 2026, dan mulai efektif berlaku pada 6 Oktober 2026 setelah melalui proses peninjauan regulasi yang diperlukan.
Isi Perjanjian dan Cakupan Teknologi
Dalam perjanjian ini, kedua perusahaan sepakat untuk saling memberikan lisensi silang atas portofolio paten masing-masing. Cakupan perjanjian meliputi teknologi 5G, komputasi, AI, dan jaringan. Selain lisensi silang, Qualcomm juga akan membeli sejumlah paten Huawei yang terdaftar di Amerika Serikat, khususnya di bidang komputasi, AI, jaringan, dan teknologi lainnya. Transaksi ini akan ditutup setelah mendapatkan persetujuan dari regulator yang berwenang, mengingat keterlibatan perusahaan dari Amerika Serikat dan China dalam kesepakatan tersebut.
Menurut laporan Bloomberg, Qualcomm menyetujui untuk melisensikan paten yang mendasari teknik pembuatan chip LogicFolding milik Huawei. Teknologi ini merupakan pendekatan baru dalam desain semikonduktor dan sistem yang telah digunakan pada prosesor Kirin 9050 dan 9050 Pro terbaru Huawei. Kesepakatan ini juga mencakup teknologi terkait perangkat 5G, layanan AI, optik near-packaged dan co-packaged, serta jaringan.
Nilai Transaksi dan Dampak Finansial
Meskipun nilai pasti perjanjian antara Huawei dan Qualcomm tidak diungkapkan secara detail, Huawei menyatakan bahwa nilai kumulatif dari seluruh kesepakatan lisensi patennya diperkirakan akan mencapai lebih dari 6,9 miliar dolar AS atau sekitar Rp 123 triliun setelah transaksi resmi ditutup. Menurut laporan Nikkei, nilai perjanjian ini diperkirakan melampaui ambang batas 133,9 juta dolar AS yang mengharuskan peninjauan oleh Federal Trade Commission AS berdasarkan Hart-Scott-Rodino Act. Di bawah perjanjian ini, Qualcomm akan membayar untuk menggunakan lebih dari 680 paten Huawei, beberapa di antaranya terdaftar di Amerika Serikat.
Pernyataan Resmi Kedua Perusahaan
Alan Fan, Chief Intellectual Property Officer Huawei, menyatakan bahwa kesepakatan ini tidak hanya menunjukkan nilai inovasi Huawei, tetapi juga mengakui kontribusi Qualcomm terhadap teknologi komunikasi modern. Ia menambahkan bahwa investasi berkelanjutan Huawei selama puluhan tahun dalam riset dan pengembangan fundamental telah mendorong inovasi dan kemajuan di bidang komunikasi seluler serta teknologi lainnya.
Sementara itu, John Han, Executive Vice President dan General Manager Qualcomm Technology Licensing, menyampaikan bahwa perjanjian ini menegaskan pengakuan industri terhadap kepemimpinan teknologi 5G Qualcomm dan keberhasilan program lisensi 5G SEP perusahaan. Ia juga menambahkan bahwa kesepakatan ini mencerminkan pengakuan Qualcomm terhadap inovasi dan kekayaan intelektual Huawei yang berkelanjutan di bidang 5G dan teknologi lainnya.
Latar Belakang dan Konteks Strategis
Perjanjian ini menjadi yang pertama antara Huawei dan Qualcomm yang mencakup teknologi 5G, sekaligus perjanjian pertama yang menghasilkan pendapatan positif bagi Huawei dari Qualcomm. Perubahan ini terjadi 25 tahun setelah Huawei pertama kali melakukan pembayaran lisensi IP kepada Qualcomm, menandai tonggak penting bagi portofolio kekayaan intelektual perusahaan China tersebut.
Kesepakatan ini juga mencerminkan komitmen bersama kedua perusahaan terhadap hak kekayaan intelektual dan praktik lisensi yang sesuai dengan prinsip FRAND (fair, reasonable and non-discriminatory). Prinsip FRAND mengatur agar lisensi teknologi, terutama yang menjadi bagian dari standar industri, diberikan dengan ketentuan yang adil, wajar, dan tidak diskriminatif.
Hingga akhir tahun 2025, Huawei telah memiliki lebih dari 165.000 paten aktif yang diberikan secara global, dengan lebih dari 90 persen di antaranya adalah paten invensi. Perusahaan ini juga telah menandatangani lebih dari 270 perjanjian lisensi paten dengan produsen TIK utama di Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan pasar utama lainnya. Perjanjian dengan Qualcomm ini menjadi langkah strategis Huawei dalam memperluas program lisensi IP-nya sekaligus memperkuat posisinya di pasar global, terutama di bidang AI dan teknologi jaringan canggih.