Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Kementerian Perhubungan secara resmi mengumumkan proyek besar peningkatan kapasitas KRL lintas Tanah Abang–Rangkasbitung pada hari ini, Minggu (7/6/2026). Pengumuman ini merupakan respons atas tingginya permintaan masyarakat yang terus meningkat, sehingga peningkatan kapasitas sarana dan infrastruktur menjadi sebuah keniscayaan. Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menyatakan bahwa kolaborasi dengan Kemenhub ini dilakukan agar perjalanan pelanggan menjadi lebih nyaman dan tersedia lebih banyak pilihan perjalanan.
Langkah pertama yang akan dilakukan adalah penguatan sistem listrik aliran atas (LAA) pada lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Saat ini, daya listrik pada lintas tersebut masih berada pada level 3.000 volt, sementara lintas Bogor dan Bekasi telah didukung daya sebesar 4.000 volt. Perbedaan kapasitas ini menjadi salah satu kendala utama yang menyebabkan rangkaian dengan formasi 12 kereta belum dapat dioperasikan, sehingga kapasitas angkut saat ini masih bertumpu pada rangkaian 8 dan 10 kereta.
Untuk mendukung peningkatan kapasitas layanan, KAI akan menambah 11 gardu traksi baru di lintas Tanah Abang–Rangkasbitung. Penguatan pasokan daya ini menjadi fondasi penting untuk mendukung operasional rangkaian 12 kereta. Dengan kapasitas yang lebih besar, jumlah pelanggan yang dapat dilayani dalam setiap perjalanan akan meningkat, sehingga ruang gerak pelanggan saat jam sibuk menjadi lebih baik. Peningkatan kapasitas tersebut dilaksanakan melalui koordinasi dan sinergi antara KAI dan Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub sebagai regulator perkeretaapian nasional.
Selain penguatan daya listrik, modernisasi sistem persinyalan juga menjadi fokus utama. Saat ini, sebagian sistem persinyalan di lintas Rangkasbitung masih menggunakan pola blok tertutup yang membatasi jumlah perjalanan kereta dalam satu lintas operasi. Dalam sistem tersebut, satu blok yang mencakup beberapa stasiun hanya dapat dilalui oleh satu kereta pada waktu yang sama. Kondisi ini berdampak pada waktu antar perjalanan kereta (headway) yang saat ini berada pada kisaran 10 menit, jauh lebih panjang dibandingkan lintas Bekasi dan Bogor yang telah mampu melayani perjalanan dengan headway sekitar 3 hingga 4 menit.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, yang turut hadir dalam pengumuman tersebut, menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari rencana induk transportasi Jabodetabek. Ia berjanji akan memperbaiki waktu tunggu antarkereta serta sistem persinyalan KRL di lintas Green Line Tanah Abang–Rangkasbitung. Pemerintah menargetkan perbaikan jaringan listrik dan persinyalan ini dapat dilaksanakan dalam waktu 1–2 tahun sehingga headway bisa dipersingkat secara signifikan. Selain itu, Kementerian Perhubungan juga akan menertibkan perlintasan sebidang ilegal yang dinilai menghambat kecepatan perjalanan kereta sekaligus membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Langkah-langkah ini diambil sebagai respons atas tingkat kepadatan yang ekstrem di lintas Rangkasbitung. Data KAI mencatat tingkat okupansi pada jam sibuk mencapai 161 persen, yang merupakan yang tertinggi di antara semua lintas Commuter Line di Jabodetabek. Tingkat kepadatan ini digambarkan setara dengan sekitar delapan orang berada dalam ruang seluas satu meter persegi di dalam kereta pada jam-jam sibuk. Sebagai perbandingan, okupansi puncak lintas Bogor berada pada kisaran 130 persen, sedangkan lintas Bekasi/Cikarang sekitar 140 persen.
Pertumbuhan jumlah pengguna KRL di lintas Rangkasbitung terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Pada 2022, jumlah pelanggan mencapai 43.317.716 orang, yang kemudian meningkat menjadi 62.085.471 pada 2023, 69.999.362 pada 2024, dan melonjak menjadi 77.552.716 pada 2025. Memasuki periode Januari hingga Mei 2026, jumlah pelanggan bahkan telah mencapai 33.397.420 orang. Angka-angka ini mencerminkan semakin besarnya peran Commuter Line Rangkasbitung sebagai moda transportasi andalan masyarakat dalam mendukung aktivitas sehari-hari di kawasan barat Jabodetabek.
Proyek peningkatan kapasitas ini menjadi angin segar bagi ribuan pengguna setia KRL Rangkasbitung. Dengan rencana penguatan daya listrik yang memungkinkan operasional rangkaian 12 kereta dan modernisasi persinyalan yang diharapkan mampu memperpendek headway hingga mendekati 3-4 menit, waktu tunggu dan tingkat kepadatan penumpang di dalam kereta diproyeksikan akan berkurang drastis. Pemerintah dan KAI berharap bahwa melalui langkah-langkah strategis ini, layanan KRL di koridor barat Jabodetabek dapat memenuhi standar kenyamanan dan efisiensi yang setara dengan lintas-lintas utama lainnya, mendukung pertumbuhan ekonomi dan mobilitas masyarakat yang berkelanjutan.