Dua Profesi yang Diprediksi Bertahan di Era Kecerdasan Buatan (AI)

H Herman 21 Jul 2026 12 dilihat 4 menit baca

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diperkirakan akan terus mengubah lanskap dunia kerja dalam beberapa tahun mendatang. Otomatisasi yang semakin canggih memungkinkan banyak pekerjaan dilakukan oleh mesin atau sistem berbasis AI dengan lebih cepat, efisien, dan biaya yang lebih rendah. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa jutaan pekerja di berbagai sektor berpotensi kehilangan pekerjaan akibat tergantikan oleh teknologi.

Di tengah meningkatnya kekhawatiran tersebut, CEO Palantir Technologies, Alex Karp, memberikan pandangan berbeda mengenai profesi yang dinilai masih memiliki peluang besar untuk bertahan di era AI. Menurutnya, terdapat dua kelompok pekerja yang justru akan tetap memiliki peran penting di masa depan, yakni tenaga kerja dengan keterampilan vokasi atau praktis (hands-on skills) serta individu yang termasuk dalam kategori neurodivergent.

Mengutip laporan Newsweek yang mengacu pada wawancara Alex Karp bersama Fortune, pekerja yang memiliki kemampuan teknis dan keterampilan langsung di lapangan dinilai jauh lebih sulit digantikan oleh kecerdasan buatan dibandingkan pekerjaan administratif maupun pekerjaan berbasis pengetahuan yang sebagian besar dilakukan menggunakan komputer.

Profesi seperti teknisi, mekanik, tukang listrik, operator alat berat, tukang ledeng, teknisi jaringan, hingga tenaga perawatan mesin menjadi contoh pekerjaan yang masih membutuhkan kehadiran manusia secara langsung. Meski AI dapat membantu proses diagnosis kerusakan atau memberikan rekomendasi perbaikan, pelaksanaan pekerjaan fisik tetap membutuhkan kemampuan motorik, pengalaman, dan pengambilan keputusan yang tidak mudah direplikasi oleh mesin.

Menurut Karp, banyak pekerjaan praktis memerlukan interaksi dengan lingkungan nyata yang penuh variasi. Kondisi lapangan yang berubah-ubah membuat robot maupun AI masih menghadapi berbagai keterbatasan untuk menggantikan manusia secara menyeluruh. Oleh karena itu, pekerja vokasi diperkirakan akan tetap menjadi kebutuhan penting dalam berbagai sektor industri.

Selain pekerja vokasi, Alex Karp juga menilai individu neurodivergent memiliki peluang besar untuk berkembang di era AI. Istilah neurodivergent mengacu pada individu yang memiliki cara berpikir, belajar, maupun memproses informasi yang berbeda dari kebanyakan orang, seperti penyandang autisme, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), disleksia, maupun kondisi neurologis lainnya.

Karp berpendapat bahwa individu neurodivergent sering kali memiliki cara berpikir yang unik dan mampu melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang tidak biasa. Kemampuan tersebut menjadi nilai tambah ketika perusahaan membutuhkan solusi kreatif terhadap berbagai tantangan yang kompleks.

Dalam dunia teknologi, banyak perusahaan mulai menyadari bahwa keberagaman cara berpikir justru mampu mendorong inovasi. Individu neurodivergent kerap memiliki kemampuan luar biasa dalam mengenali pola, menganalisis data secara mendalam, serta memecahkan masalah yang sulit diselesaikan melalui pendekatan konvensional.

Pandangan tersebut muncul di tengah semakin besarnya perhatian terhadap dampak AI terhadap pasar tenaga kerja global. Sejumlah penelitian memperkirakan otomatisasi akan mengubah struktur pekerjaan di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, jasa keuangan, administrasi, layanan pelanggan, hingga industri kreatif.

Laporan Senat Amerika Serikat pada Oktober 2025 bahkan memperkirakan bahwa perkembangan teknologi, termasuk AI, berpotensi menghilangkan hampir 100 juta pekerjaan di Amerika Serikat dalam satu dekade mendatang. Prediksi tersebut menggambarkan besarnya transformasi yang sedang berlangsung akibat semakin luasnya penerapan kecerdasan buatan di berbagai bidang.

Pekerjaan administratif menjadi salah satu sektor yang paling rentan terhadap otomatisasi. AI kini mampu menyusun laporan, menganalisis dokumen, mengelola data, menerjemahkan bahasa, hingga menjawab pertanyaan pelanggan melalui chatbot dengan tingkat akurasi yang terus meningkat. Bahkan sejumlah perusahaan telah mulai mengurangi perekrutan untuk posisi tertentu karena sebagian tugasnya dapat diselesaikan menggunakan AI generatif.

Meski demikian, banyak pakar menilai AI tidak selalu berarti menggantikan manusia sepenuhnya. Dalam banyak kasus, teknologi justru berfungsi sebagai alat pendukung untuk meningkatkan produktivitas pekerja. Manusia tetap diperlukan untuk mengambil keputusan strategis, membangun hubungan interpersonal, memahami konteks sosial, serta menangani situasi yang memerlukan empati dan pertimbangan etis.

Perubahan tersebut membuat dunia pendidikan dan pelatihan kerja juga dituntut beradaptasi. Pengembangan keterampilan vokasi dipandang semakin penting karena kebutuhan terhadap tenaga kerja yang memiliki kemampuan teknis diperkirakan akan terus meningkat. Pemerintah di berbagai negara pun mulai memperkuat pendidikan kejuruan agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan.

Di sisi lain, perusahaan juga mulai memberikan perhatian lebih terhadap keberagaman sumber daya manusia, termasuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif bagi individu neurodivergent. Banyak perusahaan teknologi global telah membuka program rekrutmen khusus karena menyadari bahwa keberagaman pola pikir dapat menjadi sumber inovasi yang berharga.

Para analis menilai masa depan dunia kerja kemungkinan besar bukan sekadar persaingan antara manusia dan AI, melainkan kolaborasi antara keduanya. Pekerja yang mampu memanfaatkan AI sebagai alat bantu sekaligus memiliki keterampilan yang sulit ditiru mesin akan memiliki peluang lebih besar untuk tetap relevan.

Dengan perkembangan AI yang semakin pesat, kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning), penguasaan keterampilan praktis, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, serta cara berpikir yang adaptif diperkirakan menjadi faktor utama yang menentukan daya saing tenaga kerja di masa depan. Pandangan Alex Karp menjadi pengingat bahwa meskipun AI akan mengubah banyak jenis pekerjaan, masih terdapat profesi dan karakteristik manusia yang sulit tergantikan oleh kecerdasan buatan.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
H

Ditulis oleh

Herman

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait