Memasuki puncak musim hujan pada November 2026, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap Demam Berdarah Dengue (DBD). Data terbaru menunjukkan adanya peningkatan kasus di sejumlah wilayah, terutama di Jawa Barat dan DKI Jakarta. Kemenkes menekankan pentingnya gerakan 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur ulang) serta penggunaan lotion anti nyamuk, terutama bagi anak-anak dan lansia yang rentan. Dinas Kesehatan setempat juga telah mengintensifkan fogging di titik-titik rawan.
Peningkatan kasus DBD pada periode November 2026 ini dinilai sebagai pola musiman yang kerap terjadi setiap tahunnya. Berdasarkan laporan dari Sistem Informasi Surveilans Penyakit Menular Kemenkes, terjadi kenaikan angka kasus DBD sebesar 23 persen pada minggu ke-44 tahun 2026 dibandingkan minggu yang sama pada tahun sebelumnya. Jawa Barat menjadi provinsi dengan kontribusi kasus tertinggi, disusul DKI Jakarta dan Banten. Angka ini diprediksi akan terus bertambah seiring intensitas hujan yang meningkat pada Desember mendatang.
Juru Bicara Kemenkes menjelaskan bahwa lonjakan kasus ini tidak terlepas dari perilaku nyamuk Aedes aegypti yang lebih aktif berkembang biak pada musim hujan. Genangan air di berbagai tempat, mulai dari ban bekas, pot bunga, hingga saluran air yang tersumbat, menjadi tempat ideal bagi nyamuk betina untuk bertelur. Telur nyamuk dapat menetas dalam waktu 1-2 hari setelah terkena air, sehingga potensi penularan virus dengue menjadi sangat tinggi di lingkungan permukiman padat penduduk.
"Kami mengingatkan kembali pentingnya Gerakan 3M Plus. Menguras tempat penampungan air minimal seminggu sekali, menutup rapat tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk. Plus-nya, masyarakat juga perlu memelihara ikan pemakan jentik, menggunakan kelambu saat tidur, memasang kawat kasa, dan menggunakan lotion anti nyamuk," ujar juru bicara Kemenkes dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/11).
Kemenkes juga menyoroti pentingnya perlindungan bagi kelompok rentan, terutama anak-anak dan lansia. Anak-anak memiliki sistem imun yang belum sepenuhnya matang sehingga lebih mudah terinfeksi dan berisiko mengalami komplikasi seperti dengue shock syndrome (DSS). Sementara itu, lansia rentan mengalami perburukan kondisi akibat penyakit penyerta yang mungkin dimiliki. Masyarakat diminta segera membawa anggota keluarga yang mengalami gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, ruam kulit, dan mual ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan dini.
Selain imbauan kepada masyarakat, Kemenkes telah menginstruksikan seluruh Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten/kota untuk meningkatkan kewaspadaan dini. Dinas Kesehatan setempat juga telah mengintensifkan fogging atau pengasapan di titik-titik rawan. Pengasapan dilakukan pada area dengan temuan kasus positif DBD, terutama di lingkungan permukiman padat, sekolah, dan tempat-tempat umum yang berpotensi menjadi lokasi penularan. Namun, Kemenkes mengingatkan bahwa fogging bukan solusi utama karena hanya membunuh nyamuk dewasa, bukan jentik. Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3M Plus tetap menjadi langkah paling efektif.
Selain fogging, Dinas Kesehatan juga melakukan penyelidikan epidemiologi di setiap kasus yang dilaporkan untuk memetakan sebaran kasus dan menentukan intervensi yang tepat. Petugas kesehatan di puskesmas dan rumah sakit diminta siaga 24 jam serta memastikan ketersediaan obat-obatan dan cairan infus yang cukup untuk penanganan pasien DBD. Beberapa rumah sakit daerah telah menyiapkan ruang isolasi khusus dan menambah kapasitas tempat tidur untuk mengantisipasi lonjakan pasien.
Kemenkes juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk sekolah, kantor, dan komunitas, untuk aktif dalam upaya pencegahan DBD. Sekolah diminta melakukan pemeriksaan jentik nyamuk secara rutin di lingkungan sekolah, sementara kantor dan tempat usaha diimbau menjaga kebersihan lingkungan dan saluran air. Peran serta kader PKK dan juru pemantau jentik (jumantik) di tingkat RT/RW sangat penting untuk memastikan tidak ada sarang nyamuk di lingkungan sekitar.
Masyarakat juga diimbau untuk tidak panik namun tetap waspada. Peningkatan kasus DBD merupakan siklus tahunan yang dapat dikendalikan jika upaya pencegahan dilakukan secara konsisten dan kolektif. Kemenkes akan terus memantau perkembangan kasus dan memberikan informasi terkini melalui kanal resmi pemerintah. Dengan kerja sama seluruh pihak, diharapkan lonjakan kasus DBD pada musim hujan tahun 2026 ini dapat ditekan dan tidak menimbulkan korban jiwa yang signifikan.