Kenapa Sering Pakai AI Malah Bikin Gampang Lupa?

S Sawalika 02 Sep 2026 0 dilihat 4 menit baca

Coba ingat-ingat, kapan terakhir kali kamu menghafal nomor telepon teman dekat tanpa lihat kontak? Atau menghitung total belanjaan di kepala tanpa buka kalkulator? Banyak dari kita mungkin kesulitan menjawabnya. Fenomena ini semakin terasa sejak AI seperti ChatGPT dan asisten virtual lainnya hadir di genggaman. Kita jadi terbiasa bertanya dulu, baru berpikir belakangan—bahkan kadang tidak berpikir sama sekali. Lalu, benarkah sering menggunakan AI membuat otak kita jadi lebih mudah lupa?

Otak manusia pada dasarnya efisien—dalam artian, ia cenderung memilih jalan yang paling hemat energi. Ketika sebuah tugas kognitif bisa "dilempar" ke alat bantu eksternal, otak akan melakukannya tanpa ragu. Fenomena ini disebut cognitive offloading, yaitu kecenderungan untuk mengandalkan alat eksternal—buku catatan, mesin pencari, atau kini AI—untuk menyimpan dan mengolah informasi, alih-alih menyimpannya sendiri di memori.

Cognitive offloading sebenarnya bukan hal baru. Sejak manusia mengenal tulisan, kita sudah mendelegasikan sebagian fungsi memori ke media eksternal. Namun bedanya, AI generatif tidak sekadar menyimpan informasi seperti buku catatan—ia juga berpikir, menganalisis, dan menyimpulkan untuk kita. Ini membuat proses "pendelegasian" jauh lebih dalam, karena bukan cuma data yang dititipkan, tapi juga proses berpikirnya.

Sebelum era AI generatif, sudah ada istilah "Google Effect" atau efek Google—kecenderungan orang untuk lupa informasi yang mereka tahu bisa dicari dengan mudah di internet. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science pada 2011 menemukan bahwa orang cenderung lebih mudah mengingat di mana mencari informasi ketimbang informasi itu sendiri, ketika mereka tahu informasi tersebut akan tetap tersedia untuk diakses.

Nah, AI generatif membawa efek ini ke level yang lebih jauh. Bukan cuma soal fakta yang gampang dicari, tapi juga proses berpikir kritis, menyusun argumen, bahkan menyelesaikan masalah kompleks. Ketika AI bisa langsung memberi jawaban jadi, kita kehilangan kesempatan untuk melatih otot kognitif yang biasanya terasah saat kita berjuang mencari solusi sendiri.

Yang menarik, dampak ini tidak hanya menyasar ingatan terhadap fakta-fakta kecil. Ketergantungan pada AI juga bisa memengaruhi kemampuan berpikir analitis dan pemecahan masalah. Ketika seseorang terbiasa meminta AI merangkum bacaan, menyusun kerangka tulisan, atau bahkan menyelesaikan soal matematika, kemampuan untuk melakukan proses berpikir tersebut secara mandiri bisa perlahan menumpul—mirip otot yang jarang dilatih.

Ini berkaitan dengan konsep use it or lose it dalam ilmu saraf. Koneksi antar sel otak yang jarang digunakan akan melemah seiring waktu, sementara yang sering dipakai justru makin kuat. Jika kita terus-menerus melimpahkan tugas berpikir ke AI, jalur-jalur saraf yang biasa dipakai untuk mengingat dan menganalisis pun jadi kurang terlatih.

Penting untuk digarisbawahi, ini bukan alasan untuk menjauhi AI sepenuhnya. AI tetap alat yang sangat berguna untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat riset, dan membantu tugas-tugas repetitif yang membosankan. Masalahnya bukan pada AI itu sendiri, melainkan pada cara kita menggunakannya.

Ibarat kalkulator yang tidak membuat semua orang lupa berhitung—orang yang paham konsep matematika dasar tetap bisa berhitung manual saat dibutuhkan—AI pun sebenarnya bisa digunakan tanpa mengorbankan kemampuan kognitif, asal kita tetap sadar dan sengaja melatih otak.

Beberapa hal sederhana bisa membantu menjaga daya ingat tetap tajam di tengah kemudahan AI:

  1. Coba dulu sebelum bertanya. Sebelum langsung minta jawaban dari AI, coba pikirkan atau kerjakan sendiri terlebih dahulu, meski hasilnya belum sempurna.
  2. Gunakan AI sebagai teman diskusi, bukan pengganti berpikir. Manfaatkan AI untuk menguji ide, bukan menggantikan proses berpikir itu sendiri.
  3. Latih memori secara sadar. Sesekali coba mengingat sesuatu tanpa bantuan alat—nomor telepon, rute jalan, atau daftar belanja.
  4. Refleksikan hasil dari AI. Jangan hanya menyalin jawaban, tapi pahami logika di baliknya agar informasi benar-benar "menempel" di ingatan.

Pada akhirnya, AI adalah alat, dan seperti alat lainnya, dampaknya sangat bergantung pada bagaimana kita memakainya. Selama kita tetap sadar dan sengaja meluangkan ruang untuk berpikir sendiri, kita bisa menikmati manfaat AI tanpa harus mengorbankan ketajaman ingatan dan kemampuan berpikir kritis kita sendiri.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait