Kenjiro Tsuda Gugat TikTok, Protes Suara AI yang Meniru Dirinya Tanpa Izin

A Ammar 26 Mei 2026 13 dilihat 3 menit baca

Dunia pengisi suara Jepang kembali dihebohkan dengan kontroversi teknologi AI. Kali ini, aktor sekaligus seiyuu terkenal Kenjiro Tsuda dikabarkan mengambil langkah hukum terkait penggunaan suara AI yang disebut meniru suaranya tanpa izin di platform TikTok.

Kabar ini langsung ramai dibahas komunitas anime dan penggemar budaya Jepang karena Kenjiro Tsuda bukan nama kecil di industri hiburan. Suaranya dikenal sangat khas dengan tone berat, tenang, dan karismatik yang membuatnya populer di berbagai anime, game, hingga dubbing film.

Bagi penggemar anime, suara Tsuda langsung mudah dikenali. Ia dikenal mengisi banyak karakter populer dan punya gaya bicara yang dianggap unik dibanding seiyuu lain. Karena itulah, ketika muncul berbagai konten AI voice yang terdengar sangat mirip dengannya di media sosial, kontroversi mulai muncul.

Menurut laporan yang beredar di media Jepang, pihak Tsuda keberatan karena ada banyak video AI di TikTok yang menggunakan suara sintetis menyerupai dirinya untuk berbagai konten tanpa persetujuan resmi. Konten tersebut bermacam-macam, mulai dari video lucu, meme, narasi palsu, sampai voice-over yang dibuat menggunakan teknologi cloning suara berbasis AI.

Yang menjadi masalah utama bukan cuma soal kemiripan suara, tetapi juga potensi penyalahgunaan identitas digital seorang pengisi suara profesional.

Dalam beberapa kasus, suara AI yang meniru Tsuda digunakan untuk mengucapkan kalimat yang tidak pernah ia katakan di dunia nyata. Hal seperti ini dianggap berbahaya karena bisa memicu kesalahpahaman publik dan merusak reputasi seseorang.

Industri pengisi suara Jepang sendiri memang mulai semakin khawatir terhadap perkembangan AI voice cloning. Teknologi saat ini sudah mampu meniru intonasi, gaya bicara, bahkan emosi seseorang hanya dari sampel suara berdurasi pendek.

Buat banyak orang, teknologi ini memang terdengar keren. Namun di sisi lain, para aktor suara mulai mempertanyakan batas etika penggunaannya.

Kasus Kenjiro Tsuda ini menjadi salah satu contoh terbesar bagaimana AI mulai berbenturan langsung dengan hak cipta dan identitas personal di industri hiburan. Banyak seiyuu khawatir suara mereka bisa dipakai bebas tanpa kompensasi atau izin resmi.

Di media sosial Jepang, perdebatan soal kasus ini langsung memanas.

Sebagian netizen mendukung langkah hukum Tsuda dan menganggap penggunaan AI voice tanpa izin sudah keterlaluan. Mereka menilai suara seorang pengisi karakter adalah bagian dari identitas profesional yang seharusnya dilindungi.

Namun ada juga yang berpendapat teknologi AI sulit dibendung dan industri hiburan harus mulai beradaptasi dengan era baru digital.

Meski begitu, mayoritas fans tampaknya berpihak pada Tsuda. Banyak penggemar merasa penggunaan suara AI tanpa izin terasa tidak menghargai kerja keras seorang seiyuu yang membangun karakter vokalnya selama bertahun-tahun.

Apalagi di Jepang, budaya menghormati pengisi suara memang sangat kuat. Seiyuu sering dianggap punya hubungan emosional besar dengan karakter dan penggemarnya.

Kontroversi ini juga membuka diskusi lebih luas soal regulasi AI di industri kreatif. Saat ini banyak negara masih belum punya aturan jelas mengenai penggunaan suara, wajah, atau identitas seseorang oleh AI generatif.

Bukan cuma industri anime, masalah serupa mulai muncul di musik, perfilman, bahkan dunia konten internet. Sudah ada beberapa kasus penyanyi, aktor, dan streamer yang suaranya dipakai AI untuk membuat konten palsu tanpa persetujuan.

Beberapa perusahaan teknologi sebenarnya mulai menyiapkan sistem perlindungan dan deteksi AI voice cloning. Namun perkembangan teknologinya bergerak sangat cepat sehingga regulasi sering tertinggal.

Sampai sekarang belum ada detail lengkap mengenai tuntutan hukum yang diajukan pihak Kenjiro Tsuda maupun bagaimana respons resmi TikTok terhadap kasus tersebut. Namun banyak pihak memprediksi kasus ini bisa menjadi salah satu momen penting dalam pembahasan hak digital AI di Jepang.

Kalau nantinya gugatan ini berlanjut dan menghasilkan keputusan besar, dampaknya mungkin tidak hanya terasa di industri anime, tetapi juga dunia hiburan global secara keseluruhan.

Karena di era AI sekarang, pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi bisa meniru suara manusia — tetapi siapa yang sebenarnya punya hak atas suara tersebut.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
A

Ditulis oleh

Ammar

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Komedian Legendaris Tarzan Srimulat Tutup Usia

Komedian Legendaris Tarzan Srimulat Tutup Usia

Dunia hiburan Indonesia kembali berduka atas wafatnya komedian senior Toto Muryadi, yang lebih dikenal masyarakat dengan nama Tarzan Srimulat. Seniman yang telah puluhan tahun menghibur masyarakat melalui grup lawak Srimulat itu dikabarkan meninggal dunia pada Jumat (10/7/2026) dalam usia 81...

10 Jul 2026

Dianggap Kontradiktif, Narasi Iklim Global RI Dikritik Tajam Civil Society Pasca 'London Climate Action Week'

Dianggap Kontradiktif, Narasi Iklim Global RI Dikritik Tajam Civil Society Pasca 'London Climate Action Week'

JAKARTA — Komitmen Indonesia dalam panggung diplomasi iklim global kembali mendapat sorotan tajam dari dalam negeri. Pasca-berlangsungnya forum bergengsi London Climate Action Week (LCAW) baru-baru ini, sejumlah organisasi masyarakat sipil ( civil society ) yang berfokus pada isu lingkungan, di...

10 Jul 2026

Kejati DIY Periksa SPPG, Pengawasan Program Makan Bergizi Gratis Diperketat Demi Cegah Penyimpangan

Kejati DIY Periksa SPPG, Pengawasan Program Makan Bergizi Gratis Diperketat Demi Cegah Penyimpangan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah kini berada dalam pengawasan ketat aparat penegak hukum. Kejaksaan Tinggi (Kejati) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai melakukan pendataan dan pemeriksaan terhadap sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di...

10 Jul 2026

Digerebek Terkait Korupsi Blackout, Kafe Money Changer Ini Sembunyikan Rp 67,2 Miliar

Digerebek Terkait Korupsi Blackout, Kafe Money Changer Ini Sembunyikan Rp 67,2 Miliar

JAKARTA – Penyidikan kasus dugaan korupsi besar yang memicu kelumpuhan total jaringan listrik atau blackout memasuki babak baru yang sangat mengejutkan. Dalam sebuah operasi tangkap tangan dan penggerebekan intensif, tim penyidik kepolisian berhasil menyita barang bukti uang tunai dengan nilai...

09 Jul 2026