Penggunaan rokok dan vape kembali menjadi perhatian dunia kesehatan sepanjang tahun 2026. Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai lembaga kesehatan internasional memperingatkan meningkatnya penggunaan produk nikotin di kalangan remaja dan anak muda. Meski banyak orang menganggap vape lebih aman dibanding rokok konvensional, para ahli menegaskan bahwa kedua produk tersebut tetap memiliki risiko serius bagi kesehatan tubuh.
Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization menyebut dunia saat ini menghadapi “gelombang baru kecanduan nikotin” akibat meningkatnya penggunaan vape dan produk nikotin modern di kalangan generasi muda. WHO memperingatkan bahwa industri vape kini semakin agresif menargetkan remaja melalui media sosial, influencer, hingga kemasan produk yang menarik perhatian anak muda.
Dalam laporan terbaru yang dirilis WHO pada Mei 2026, penjualan nicotine pouch dan produk vape meningkat sangat cepat di berbagai negara. WHO menyebut lebih dari 23 miliar unit nicotine pouch terjual pada 2024, naik lebih dari 50 persen dibanding tahun sebelumnya. Produk-produk tersebut banyak dipasarkan dengan rasa buah, desain modern, dan promosi digital yang dianggap mampu menarik pengguna muda.
WHO juga menegaskan bahwa nikotin bukan zat yang aman. Paparan nikotin pada remaja dapat memengaruhi perkembangan otak, konsentrasi belajar, hingga kesehatan mental. Efek tersebut dinilai lebih berbahaya bagi anak muda karena otak mereka masih dalam tahap perkembangan.
Selain kecanduan, para ahli kesehatan kini semakin khawatir terhadap dampak jangka panjang vape terhadap paru-paru dan risiko kanker. Laporan kesehatan terbaru dari berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa cairan vape mengandung zat kimia berbahaya seperti formaldehida, logam berat, dan senyawa toksik lain yang dapat merusak jaringan paru-paru.
Diskusi mengenai bahaya vape bahkan ramai dibahas di komunitas ilmiah dan media sosial. Salah satu penelitian yang banyak dibicarakan menyebut bukti terbaru menunjukkan vape kemungkinan besar dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru dan kanker mulut. Penelitian tersebut menemukan adanya perubahan DNA dan paparan zat karsinogenik pada pengguna vape.
Meski demikian, sebagian masyarakat masih percaya bahwa vape jauh lebih aman dibanding rokok biasa. Para dokter kanker dan spesialis paru mengingatkan bahwa anggapan tersebut dapat menyesatkan, terutama bagi remaja yang belum pernah merokok sebelumnya. Mereka menjelaskan bahwa vape memang tidak membakar tembakau seperti rokok, tetapi aerosol yang dihirup tetap mengandung zat berbahaya yang dapat memicu gangguan kesehatan serius.
Rokok konvensional sendiri masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Menurut data WHO, rokok menyebabkan jutaan kematian setiap tahun akibat penyakit jantung, stroke, kanker paru, dan gangguan pernapasan kronis. Karena itu, vape sebenarnya tidak dianggap sebagai solusi aman, terutama jika digunakan oleh anak muda non-perokok.
Kekhawatiran terbesar saat ini datang dari meningkatnya penggunaan vape di kalangan pelajar. Di berbagai negara, sekolah mulai menghadapi masalah serius akibat siswa yang diam-diam menggunakan vape di lingkungan pendidikan. Laporan kesehatan di Inggris menyebut banyak guru merasa kewalahan menghadapi tren vape di sekolah karena produk tersebut mudah disembunyikan dan digunakan secara diam-diam.
Fenomena serupa juga mulai menjadi perhatian di Asia Tenggara. Pemerintah dan lembaga kesehatan menilai media sosial memiliki pengaruh besar terhadap meningkatnya penggunaan vape pada remaja. Banyak konten digital menampilkan vape sebagai bagian dari gaya hidup modern dan terlihat “lebih bersih” dibanding rokok biasa.
Beberapa negara kini mulai memperketat aturan terkait vape dan produk nikotin modern. Belgia, misalnya, mengumumkan kebijakan pembatasan rasa vape untuk mengurangi daya tarik produk tersebut bagi remaja. WHO juga mendorong negara-negara dunia memperkuat pengawasan iklan, pembatasan rasa buah, dan larangan promosi vape di media sosial.
Di Amerika Serikat, kebijakan terbaru FDA justru memicu perdebatan setelah lembaga tersebut menyetujui beberapa produk vape rasa buah untuk pasar dewasa. Keputusan tersebut mendapat kritik dari kelompok kesehatan karena dikhawatirkan dapat meningkatkan minat remaja terhadap vape.
Para ahli kesehatan menjelaskan bahwa kecanduan nikotin pada vape bisa lebih kuat dibanding rokok biasa karena beberapa produk mengandung kadar nikotin sangat tinggi. Banyak pengguna muda mengaku sulit berhenti karena penggunaan vape terasa lebih praktis dan dapat digunakan lebih sering dibanding rokok konvensional.
Selain kesehatan paru-paru, nikotin juga dapat meningkatkan tekanan darah dan risiko gangguan jantung. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan penggunaan vape berkaitan dengan meningkatnya gangguan kecemasan dan masalah kesehatan mental pada remaja.
Di Indonesia sendiri, penggunaan vape terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan anak muda perkotaan. Produk vape dengan rasa manis dan desain modern dinilai menjadi faktor utama yang membuat banyak remaja tertarik mencoba. Pakar kesehatan masyarakat mengingatkan pentingnya edukasi sejak dini agar generasi muda memahami risiko nikotin terhadap tubuh mereka.
Meski sebagian orang menggunakan vape untuk mengurangi konsumsi rokok, dokter menekankan bahwa langkah terbaik bagi kesehatan tetap berhenti dari semua produk nikotin. Pola hidup sehat, olahraga rutin, dan lingkungan bebas asap rokok dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
Perdebatan mengenai rokok dan vape diperkirakan masih akan terus berkembang sepanjang 2026. Namun satu hal yang disepakati para ahli kesehatan dunia adalah bahwa nikotin tetap memiliki risiko serius bagi tubuh, terutama bagi generasi muda yang sedang berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan otak.