NASA Pilih Perusahaan Roket Milik Eric Schmidt untuk Jalankan Misi ke Mars

T Tirza 19 Jun 2026 0 dilihat 4 menit baca

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) kembali membuat gebrakan dalam program eksplorasi luar angkasa dengan menunjuk Relativity Space, perusahaan roket yang kini dipimpin mantan CEO Google, Eric Schmidt, untuk mengembangkan wahana antariksa dalam misi menuju Planet Mars. Keputusan ini menandai babak baru dalam persaingan industri antariksa komersial dan membuka peluang lahirnya pesaing baru bagi dominasi SpaceX milik Elon Musk.

Penunjukan Relativity Space menjadi salah satu langkah strategis NASA dalam memperluas kerja sama dengan perusahaan swasta untuk mempercepat eksplorasi tata surya. Selama beberapa tahun terakhir, badan antariksa tersebut semakin mengandalkan sektor komersial dalam mengembangkan teknologi peluncuran, transportasi antariksa, hingga pengiriman instrumen ilmiah ke berbagai tujuan di luar Bumi.

Dalam pengumuman resminya, NASA menyatakan bahwa Relativity Space akan bertanggung jawab membangun wahana antariksa yang membawa berbagai instrumen penelitian ilmiah. Setelah proses pembangunan selesai, wahana tersebut akan diluncurkan menuju Mars untuk menjalankan serangkaian misi penelitian yang bertujuan memperdalam pemahaman manusia mengenai Planet Merah.

Misi ini menjadi tonggak penting bagi Relativity Space. Perusahaan yang dikenal dengan teknologi manufaktur berbasis pencetakan 3D atau 3D printing tersebut kini memperoleh kepercayaan langsung dari NASA untuk mengerjakan proyek eksplorasi antariksa berskala besar. Kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa teknologi yang dikembangkan perusahaan dinilai telah memenuhi standar tinggi yang dibutuhkan dalam misi luar angkasa.

Relativity Space selama ini dikenal sebagai perusahaan yang berupaya merevolusi industri roket melalui proses produksi yang lebih cepat dan efisien. Sebagian besar struktur roket mereka diproduksi menggunakan printer 3D berukuran raksasa, sehingga mampu mengurangi jumlah komponen, mempercepat proses perakitan, sekaligus menekan biaya produksi dibanding metode manufaktur konvensional.

Perusahaan tersebut kini dipimpin oleh Eric Schmidt, tokoh yang dikenal luas sebagai mantan CEO Google dan salah satu figur berpengaruh dalam perkembangan industri teknologi dunia. Setelah meninggalkan Google, Schmidt mulai aktif berinvestasi di berbagai sektor teknologi canggih, termasuk kecerdasan buatan, keamanan nasional, hingga industri antariksa.

Masuknya Schmidt ke Relativity Space membawa perhatian besar dari dunia teknologi. Banyak pengamat menilai pengalaman panjangnya dalam mengelola perusahaan teknologi berskala global akan menjadi modal penting bagi Relativity Space dalam bersaing di industri luar angkasa yang semakin kompetitif.

Penunjukan Relativity Space juga dianggap sebagai tantangan baru bagi SpaceX, perusahaan milik Elon Musk yang selama ini menjadi mitra utama NASA dalam berbagai misi antariksa. SpaceX telah mencatat berbagai pencapaian penting, mulai dari mengirim astronaut ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), meluncurkan ribuan satelit Starlink, hingga mengembangkan roket raksasa Starship yang dirancang untuk membawa manusia ke Mars.

Kini, dengan masuknya Relativity Space dalam proyek eksplorasi Mars, persaingan di sektor antariksa diperkirakan akan semakin menarik. Kehadiran lebih banyak perusahaan dalam proyek NASA diharapkan dapat mendorong inovasi, mempercepat pengembangan teknologi, sekaligus menekan biaya misi luar angkasa di masa mendatang.

Misi Mars yang akan dikerjakan Relativity Space berfokus pada pengiriman instrumen ilmiah untuk mempelajari berbagai aspek Planet Merah. Instrumen tersebut nantinya akan mengumpulkan data mengenai kondisi atmosfer, struktur permukaan, komposisi batuan, hingga berbagai karakteristik lingkungan Mars yang masih menjadi objek penelitian para ilmuwan.

Data yang diperoleh diharapkan mampu memberikan pemahaman lebih mendalam mengenai sejarah evolusi Mars, termasuk kemungkinan adanya air pada masa lalu dan potensi planet tersebut untuk mendukung kehidupan mikroorganisme. Informasi tersebut juga akan menjadi bekal penting dalam mempersiapkan misi berawak menuju Mars pada masa depan.

NASA sendiri memiliki target jangka panjang untuk mengirim manusia ke Mars setelah program eksplorasi Bulan melalui Artemis berjalan sukses. Sebelum misi berawak dilakukan, berbagai wahana robotik akan terus dikirim guna memetakan lokasi pendaratan, menguji teknologi baru, serta mempelajari berbagai risiko yang mungkin dihadapi para astronaut.

Relativity Space diperkirakan akan memanfaatkan teknologi roket generasi terbaru yang sedang mereka kembangkan, termasuk roket Terran R yang dirancang sebagai kendaraan peluncur berkapasitas besar. Roket tersebut diharapkan mampu membawa muatan dalam jumlah besar menuju orbit maupun misi antariksa jarak jauh.

Selain itu, penggunaan teknologi pencetakan 3D memungkinkan perusahaan melakukan modifikasi desain dengan lebih cepat dibandingkan metode manufaktur tradisional. Fleksibilitas tersebut menjadi salah satu alasan mengapa banyak pihak menilai Relativity Space memiliki potensi besar dalam mendukung eksplorasi luar angkasa generasi berikutnya.

Bagi NASA, kerja sama dengan perusahaan swasta merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan efisiensi anggaran sekaligus mempercepat pengembangan teknologi. Model kolaborasi seperti ini sebelumnya telah terbukti sukses melalui program Commercial Crew bersama SpaceX dan Boeing, serta berbagai proyek pengiriman kargo ke ISS.

Keberhasilan Relativity Space dalam menjalankan misi Mars nantinya dapat membuka peluang bagi perusahaan tersebut untuk memperoleh kontrak-kontrak strategis lainnya, baik dari NASA maupun lembaga antariksa internasional. Hal ini juga akan memperkuat posisi industri antariksa komersial sebagai salah satu sektor teknologi dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Dengan semakin banyaknya perusahaan yang terlibat dalam eksplorasi luar angkasa, persaingan diperkirakan akan menghasilkan inovasi yang lebih cepat, teknologi yang lebih efisien, dan biaya misi yang semakin terjangkau. Pada akhirnya, perkembangan ini tidak hanya mempercepat ambisi manusia menjelajahi Mars, tetapi juga membuka era baru dalam eksplorasi tata surya yang semakin melibatkan kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
T

Ditulis oleh

Tirza

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait