Pasar modal Tiongkok baru saja menyaksikan babak baru dalam sejarah pembiayaan negara Indonesia. Pemerintah Republik Indonesia resmi menerbitkan Obligasi Panda (Panda Bond) senilai RMB7 miliar di pasar obligasi domestik Tiongkok, dan hasilnya jauh melampaui ekspektasi. Obligasi Panda Indonesia berhasil mencatatkan oversubscribed hingga 2,4 kali lipat dengan total penawaran masuk mencapai sekitar RMB17 miliar. Di balik pencapaian ini, ada satu nama yang memainkan peran kunci: Bank DBS.
Kesuksesan debut Indonesia di pasar obligasi Tiongkok tidak lepas dari dukungan penuh DBS. Transaksi bersejarah ini didukung penuh oleh Bank DBS yang bertindak sebagai Joint Lead Underwriter dan Joint Bookrunner, dan penunjukan ini sekaligus menandai mandat perdana DBS dalam penerbitan Obligasi Panda untuk emiten non-bank asal kawasan Asia Tenggara. Status ini istimewa karena, sebagaimana dicatat dalam pemberitaan, DBS menjadi satu-satunya bank asing yang ditunjuk sebagai penjamin emisi utama dalam penerbitan Panda Bond Indonesia, sementara mayoritas peran lead underwriter dipegang oleh bank-bank besar Tiongkok bersama Bank of China.
"Rahasia" di balik dipercayanya DBS sebenarnya terletak pada kombinasi jejaring regional yang kuat dan pemahaman mendalam terhadap likuiditas pasar onshore Tiongkok. Sebagai bank yang memiliki jaringan luas di Asia Tenggara sekaligus kehadiran signifikan di Tiongkok melalui DBS China, bank ini mampu menjembatani kebutuhan pembiayaan pemerintah Indonesia dengan basis investor institusional Tiongkok yang sangat likuid. Presiden dan CEO DBS China, Ginger Cheng, menilai penerbitan perdana ini sebagai pencapaian penting yang memperluas akses Indonesia ke salah satu pasar obligasi terbesar dunia, sekaligus memperkuat konektivitas keuangan antara kedua negara.
Obligasi Panda ini diterbitkan dalam dua seri. Seri pertama bertenor tiga tahun dengan nilai CNY 5,6 miliar menawarkan imbal hasil (yield) sebesar 1,9 persen, sementara seri kedua bertenor lima tahun senilai CNY 1,4 miliar menawarkan yield sebesar 2,19 persen. Total nilai penerbitan sekitar CNY7 miliar atau setara dengan sekitar Rp18,47 triliun, sedikit lebih besar dibanding target awal pemerintah sebesar US$1 miliar.
Minat investor terhadap dua seri ini pun tidak merata. Untuk tenor tiga tahun, permintaan tercatat sebesar CNY12,38 miliar dengan bid-to-cover ratio 2,2 kali, sementara tenor lima tahun mencatat permintaan CNY4,62 miliar dengan bid-to-cover ratio mencapai 3,3 kali. Artinya, seri bertenor lebih panjang justru mendapat sambutan yang lebih antusias dari investor Tiongkok. Obligasi ini juga mengantongi peringkat kredit AAA (Stable) dari lembaga pemeringkat China Lianhe Credit Rating, yang turut memperkuat kepercayaan pasar.
Menariknya, para ekonom mengingatkan bahwa lonjakan permintaan ini tidak semata-mata mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia. Chief Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, menjelaskan bahwa oversubscription sebesar 2,4 kali mencerminkan kombinasi antara kepercayaan investor terhadap kualitas kredit Indonesia dan kondisi likuiditas pasar China yang sedang sangat mendukung, sehingga tidak tepat jika tingginya permintaan hanya dikaitkan dengan imbal hasil atau dianggap semata-mata bukti kuatnya fundamental Indonesia.
Faktor yield yang jauh lebih rendah dibanding instrumen dolar AS turut menjadi daya tarik. Kupon Panda Bond ini jauh di bawah obligasi global berdenominasi dolar AS milik Indonesia, yang membawa kupon 4,35 persen untuk tenor lima tahun dan 4,95 persen untuk tenor sepuluh tahun. Selisih biaya pendanaan inilah yang menjadikan pasar Tiongkok pilihan strategis di tengah suku bunga global yang masih tinggi.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, menegaskan bahwa hasil ini mencerminkan respons positif pasar Tiongkok terhadap debut Indonesia. Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyampaikan bahwa pemerintah sengaja membatasi nilai penerbitan perdana sekitar US$1 miliar meski permintaan diperkirakan bisa lebih besar, karena transaksi ini dipandang sebagai langkah awal memasuki pasar pembiayaan baru.
Langkah ini sejalan dengan tren regional yang lebih luas. Sejumlah negara berkembang lain juga mulai melirik pasar Panda Bond sebagai alternatif pembiayaan, dengan Pakistan bahkan mencatat oversubscription hingga lima kali pada debutnya di bulan Mei. Bagi Indonesia, keberhasilan ini membuka jalan bagi diversifikasi sumber pembiayaan negara, mengurangi ketergantungan pada mata uang dolar AS, sekaligus memberi fleksibilitas lebih besar dalam mengelola utang di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Peran DBS sebagai satu-satunya bank asing yang dipercaya sebagai joint lead underwriter menjadi bukti bahwa kepercayaan institusional dibangun bukan dalam semalam, melainkan melalui rekam jejak panjang di pasar regional. Dan bagi Indonesia, oversubscribed 2,4 kali ini bukan sekadar angka—melainkan sinyal kuat bahwa pintu menuju pasar modal terbesar dunia kini telah terbuka.