Pertanyaan itu terasa semakin sulit dijawab setiap kali kita membuka berita. Sejak akhir Februari 2026, kawasan Timur Tengah memasuki babak konflik yang jauh lebih luas dan lebih berbahaya dibanding tahun-tahun sebelumnya. Yang semula berupa perang bayangan antara Israel dan kelompok-kelompok yang didukung Iran, berubah menjadi konfrontasi terbuka yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran secara langsung. Serangan udara, rudal balasan, gangguan pelayaran di Selat Hormuz, hingga kapal tanker yang terbakar di perairan dekat Mesir menjadi pemandangan yang berulang. Api itu belum juga padam, dan pertanyaannya bukan lagi "apakah akan membesar", melainkan "sampai kapan ia akan terus membara".
Konflik langsung antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran memang sempat diakhiri lewat kesepakatan damai yang diteken pada 17 Juni 2026. Namun kesepakatan di atas kertas ternyata tidak serta-merta memadamkan api di lapangan. Hanya beberapa pekan setelah gencatan senjata diumumkan, Amerika Serikat kembali melancarkan pengeboman ke wilayah Iran, dan Iran pun menegaskan penolakannya untuk berbagi pengelolaan Selat Hormuz dengan negara-negara Arab lain. Iran bahkan memperkuat diri dengan membeli ratusan sistem pertahanan udara dari China, sinyal jelas bahwa Teheran tidak sedang bersiap untuk berdamai secara permanen, melainkan bersiap menghadapi babak konfrontasi berikutnya.
Yang membuat situasi ini berbeda dari krisis-krisis Timur Tengah sebelumnya adalah cakupannya. Pertempuran tidak lagi terkurung di Gaza atau Lebanon. Ia sudah menjalar ke Irak, ke negara-negara Teluk, bahkan ke jalur pelayaran energi dunia. Fasilitas industri di Uni Emirat Arab dan Bahrain dilaporkan menjadi sasaran serangan rudal dan drone yang diklaim oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran. Kapal-kapal tanker gas milik Amerika Serikat terbakar setelah diserang drone tak dikenal di dekat Mesir. Sekjen PBB Antonio Guterres bahkan menyebut perang ini sudah berada di luar kendali siapa pun.
Di tengah eskalasi regional itu, penderitaan di Gaza tidak pernah benar-benar berhenti. Gencatan senjata yang mulai berlaku sejak Oktober 2025 memang masih berstatus resmi berlaku, tetapi implementasinya jauh dari kata utuh. Otoritas Palestina berulang kali menegaskan bahwa kesepakatan itu sejauh ini baru sebatas dokumen di atas kertas. Serangan udara Israel ke berbagai wilayah di Jalur Gaza masih terus memakan korban jiwa warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak, bahkan setelah tahap-tahap lanjutan kesepakatan diumumkan akan dijalankan.
Bantuan kemanusiaan pun masih dibatasi ketat, dengan hanya ratusan truk yang diizinkan masuk setiap hari, jauh dari kebutuhan riil penduduk Gaza yang wilayahnya sudah hancur. Rencana Israel untuk membangun kembali permukiman baru di Gaza utara, dua dekade setelah permukiman serupa dibongkar, kembali memicu kekhawatiran bahwa gencatan senjata ini rapuh dan bisa runtuh kapan saja. Di Tepi Barat, situasinya tidak kalah suram. PBB mencatat kekerasan dan langkah-langkah aneksasi de facto terus memburuk, dengan otoritas administratif dialihkan secara sepihak ke kendali militer Israel untuk memuluskan perluasan permukiman ilegal.
Ada beberapa alasan mendasar mengapa Timur Tengah terus membara meski berkali-kali dicoba dipadamkan lewat perjanjian dan gencatan senjata. Pertama, akar konflik—soal status Palestina, batas wilayah, dan pengakuan kedaulatan—tidak pernah benar-benar diselesaikan, hanya dibekukan sementara. Kesepakatan Abraham yang digadang-gadang sebagai terobosan normalisasi hubungan Israel dengan dunia Arab pada 2020 kini banyak dipandang gagal membangun tatanan regional yang stabil, justru karena mengabaikan akar persoalan itu.
Kedua, kepentingan kekuatan besar saling tumpang tindih di kawasan ini. Minyak, gas, dan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz membuat setiap eskalasi lokal punya konsekuensi global, sehingga kekuatan-kekuatan besar sulit membiarkan satu pihak menang telak atau kalah telak. Ketiga, tatanan lama yang dibangun Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan ini sedang mengalami pergeseran, dan setiap pergeseran kekuasaan besar dalam sejarah cenderung disertai gejolak sebelum keseimbangan baru terbentuk.
Sampai kapan Timur Tengah membara? Jawabannya kemungkinan bukan soal hitungan bulan, melainkan soal apakah akar persoalan—kemerdekaan Palestina, jaminan keamanan yang setara bagi semua pihak, dan tatanan regional yang tidak lagi bergantung pada satu kekuatan tunggal—benar-benar mau dibenahi. Selama penyelesaian hanya berhenti pada gencatan senjata sementara tanpa menyentuh persoalan mendasar, api ini akan terus menyala, sesekali mengecil, namun siap membesar lagi kapan saja. Dunia internasional, termasuk Indonesia yang konsisten menyuarakan solusi dua negara, punya kepentingan besar untuk terus mendorong agar penyelesaian kali ini benar-benar menyentuh akar masalah, bukan sekadar menunda ledakan berikutnya.