Sembilan Penambang Emas Ilegal di Sijunjung Sumatera Barat Tewas Tertimbun Longsor

F Fajar 15 Mei 2026 38 dilihat 4 menit baca

Jum'at, 15 Mei 2026 - Kabar duka menyelimuti ranah Minang, tepatnya di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Sembilan orang pekerja yang diduga tengah melakukan aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) atau ilegal dilaporkan meninggal dunia akibat tertimbun material longsor. Insiden mematikan ini terjadi di Kecamatan Koto VII pada Kamis, 14 Mei 2026, sekitar pukul 12.30 WIB, saat para pekerja sedang berada di dasar area penggalian untuk mengais rezeki dari butiran logam mulia.

Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat melalui Kabid Humas Kombes Polisi Susmelawati Rosya mengonfirmasi kebenaran peristiwa tersebut. Berdasarkan data hasil koordinasi di lapangan, terdapat total 12 pekerja yang berada di lokasi saat bencana melanda. Dari belasan orang tersebut, sembilan di antaranya tidak sempat menyelamatkan diri dan tertimbun tanah serta batuan dalam sekejap, sementara tiga orang lainnya berhasil lolos dari maut dengan luka-luka ringan meski mengalami trauma mendalam.

Kronologi kejadian bermula ketika para penambang sedang sibuk melakukan aktivitas rutin mereka mengekstrak butiran emas di lokasi yang cukup terjal. Tanpa diduga, tebing yang berada di sekitar area kerja mereka, yang diperkirakan memiliki ketinggian sekitar 30 meter, tiba-tiba runtuh. Posisi para korban yang berada tepat di bawah tebing membuat mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk menghindar dari jatuhnya material bumi dalam volume besar yang menghantam seketika.

Pihak kepolisian menjelaskan bahwa proses evakuasi segera dilakukan setelah laporan dari warga sekitar masuk ke petugas. Upaya pencarian dilakukan secara bertahap oleh personil kepolisian bersama dengan masyarakat setempat yang bahu-membahu menggali timbunan material dengan peralatan seadanya maupun alat bantu lainnya. Sekitar pukul 15.00 WIB, tim gabungan berhasil mengevakuasi lima jenazah pertama dari balik timbunan tanah. Proses pencarian terus berlanjut hingga sore hari, di mana empat korban lainnya ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa.

Setelah seluruh korban berhasil diangkat dari lokasi kejadian, pihak keluarga langsung meminta untuk membawa jenazah ke rumah duka masing-masing. Langkah ini diambil untuk segera melaksanakan proses pemulasaraan dan pemakaman sesuai tradisi setempat. Isak tangis pecah di kediaman para korban saat mobil jenazah maupun kendaraan warga yang membawa jasad tiba. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bagi kita semua akan bahaya nyata yang mengintai di balik aktivitas penambangan ilegal yang seringkali mengabaikan standar keselamatan kerja yang ketat.

Fenomena penambangan emas ilegal di wilayah Sumatera Barat memang masih menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah dan aparat penegak hukum hingga saat ini. Meskipun sering dilakukan razia dan upaya penertiban secara berkala, praktik ini kerap muncul kembali di lokasi-lokasi terpencil karena desakan ekonomi dan tingginya harga emas di pasaran. Area tambang ilegal biasanya tidak dilengkapi dengan konstruksi pengaman dinding tebing yang memadai, sehingga risiko longsor menjadi sangat tinggi, terutama di wilayah yang memiliki kontur tanah labil atau setelah diguyur hujan lebat.

Tragedi di Sijunjung ini menambah daftar panjang kecelakaan kerja di sektor pertambangan rakyat yang tidak berizin. Kombes Pol Susmelawati Rosya menegaskan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mendalami kasus ini serta memberikan edukasi yang lebih masif kepada masyarakat mengenai bahaya PETI. Selain merusak ekosistem lingkungan dan mencemari aliran sungai akibat penggunaan zat kimia berbahaya, aktivitas tambang ilegal juga sangat mengancam keselamatan nyawa para pekerjanya sendiri tanpa adanya jaminan perlindungan apa pun.

Saat ini, lokasi kejadian telah dipasangi garis polisi (police line) untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut dan untuk mencegah warga kembali masuk ke area yang masih dianggap rawan longsor susulan. Pemerintah daerah setempat juga diharapkan dapat segera memberikan solusi alternatif lapangan kerja bagi masyarakat agar tidak lagi bergantung pada sektor pertambangan yang berisiko tinggi dan melanggar hukum. Perhatian serius pada penegakan regulasi pertambangan menjadi kunci agar nyawa manusia tidak lagi melayang sia-sia di balik pencarian logam mulia yang tidak sah secara regulasi.

Bagi warga Sijunjung, kejadian ini menyisakan luka mendalam dan duka yang teramat berat. Kehilangan sembilan nyawa sekaligus dalam satu insiden adalah pukulan besar bagi komunitas lokal dan keluarga yang ditinggalkan. Diharapkan dengan adanya peristiwa memilukan ini, kesadaran kolektif mengenai pentingnya keselamatan dan kepatuhan terhadap hukum pertambangan dapat meningkat di tengah masyarakat. Fokus utama aparat dan pemda kini adalah mendampingi keluarga korban serta memastikan keamanan area sekitar lokasi longsor agar tidak memakan korban baru di masa mendatang.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
F

Ditulis oleh

Fajar

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Memprediksi Peralihan Musim Menuju Penghujan di Sejumlah Wilayah Indonesia

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Memprediksi Peralihan Musim Menuju Penghujan di Sejumlah Wilayah Indonesia

JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengeluarkan peringatan dini terkait pergeseran pola cuaca di berbagai wilayah tanah air. Seiring dengan berakhirnya periode musim kemarau panjang, sebagian besar daerah di Indonesia kini mulai memasuki fase peralihan atau...

25 Sep 2026

BMKG Keluarkan Peringatan Dini, Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia

BMKG Keluarkan Peringatan Dini, Potensi Hujan Lebat dan Angin Kencang Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia

JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mengeluarkan peringatan dini kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem. Dinamika atmosfer yang cukup signifikan terpantau memicu peningkatan pembentukan awan hujan dengan intensitas lebat yang disertai kilat, petir,...

24 Sep 2026

Peralihan Musim Mulai Terasa, Wilayah Bekasi dan Sekitarnya Diguyur Hujan Ringan hingga Sedang

Peralihan Musim Mulai Terasa, Wilayah Bekasi dan Sekitarnya Diguyur Hujan Ringan hingga Sedang

BEKASI — Setelah beberapa waktu terakhir didera cuaca terik yang cukup menyengat, wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi akhirnya mulai kembali diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Turunnya air hujan ini menjadi pertanda awal masa transisi atau peralihan cuaca di...

24 Sep 2026

Pemerintah Kerahkan Puluhan Ribu Personil dan Puluhan Pesawat demi Tangani Kebakaran Hutan di Enam Provinsi Prioritas

Pemerintah Kerahkan Puluhan Ribu Personil dan Puluhan Pesawat demi Tangani Kebakaran Hutan di Enam Provinsi Prioritas

JAKARTA — Pemerintah Indonesia terus memperkuat langkah-langkah penanganan darurat guna menanggulangi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di berbagai wilayah akibat dampak musim kemarau yang semakin intensif. Berdasarkan laporan resmi dari Sekretariat Kabinet, pemerintah telah mengerahkan total 54.394...

23 Sep 2026