Kabar bahwa Google Chrome akan hilang pada Oktober 2028 belakangan ramai dibicarakan. Tapi sebelum panik, penting untuk diluruskan: yang akan benar-benar dihentikan bukanlah browser Chrome yang setiap hari dipakai miliaran orang untuk berselancar di internet. Yang akan pensiun adalah Chrome Apps, sebuah teknologi aplikasi mandiri berbasis web yang berjalan di dalam Chrome maupun ChromeOS. Browser Chrome sendiri tetap ada, tetap diperbarui, dan tetap bisa dipakai seperti biasa.
Chrome Apps diperkenalkan Google sekitar dua dekade lalu sebagai cara untuk menjalankan aplikasi mirip program mandiri (bukan sekadar situs web) langsung dari browser Chrome atau ChromeOS. Berbeda dari situs web biasa, Chrome Apps dirancang agar bisa berjalan offline, mengakses perangkat keras lokal, dan terasa seperti aplikasi native di komputer pengguna.
Namun seiring waktu, teknologi ini semakin jarang dipakai. Sebagian besar pengembang beralih ke standar web modern yang lebih fleksibel dan tidak terikat pada satu browser saja.
Google sudah mulai menghentikan dukungan Chrome Apps secara bertahap sejak Juli 2025, dan proses ini akan mencapai titik akhir (end of life) pada Oktober 2028. Berikut tahapan pentingnya:
- Juli 2025 — ChromeOS versi 138 menjadi rilis terakhir yang mendukung Chrome Apps yang diinstal langsung oleh pengguna biasa.
- Awal 2027 — Chrome Apps yang dipasang paksa oleh administrator perusahaan (misalnya di sekolah atau kantor) mulai dinonaktifkan secara default.
- Awal 2028 — Google merilis versi terakhir ChromeOS yang masih menyertakan kode Chrome Apps di dalamnya, ditandai dengan rilis ChromeOS versi 184.
- Oktober 2028 — Perangkat yang memakai skema Long-Term Support (LTS) mencapai akhir masa dukungan. Pada titik inilah Chrome Apps benar-benar dihapus total dari Chrome Web Store dan tidak lagi menerima pembaruan maupun dukungan resmi dari Google.
Menariknya, mode kiosk berbasis Chrome Apps akan lebih dulu dihentikan setelah ChromeOS versi 150, sementara sesi pengguna, sesi tamu terkelola, dan mode kiosk tertentu masih bisa bertahan hingga ChromeOS versi 168 sebelum akhirnya benar-benar tutup usia.
Ada beberapa alasan di balik keputusan Google menyudahi era Chrome Apps:
- Progressive Web Apps (PWA) sudah jauh lebih matang. PWA kini menawarkan hampir semua fitur yang dulu jadi keunggulan Chrome Apps — akses offline, notifikasi push, hingga interaksi dengan perangkat keras lokal — tapi dengan kelebihan tambahan: bisa berjalan di berbagai browser modern, tidak terkunci hanya di Chrome.
- Fokus pada ekosistem aplikasi Android. Google kini lebih mendorong ChromeOS untuk mengandalkan aplikasi Android, yang dinilai lebih relevan dengan kebutuhan pengguna saat ini.
- Alasan keamanan dan efisiensi. Penghentian Chrome Apps memungkinkan Google menghapus berbagai API lama yang punya hak akses tinggi ke sistem. Ini sekaligus mengurangi beban pemeliharaan teknologi lama yang makin jarang dipakai, sambil meningkatkan keamanan Chrome secara keseluruhan.
Bagi kebanyakan pengguna rumahan, perubahan ini praktis tidak akan terasa. Diperkirakan hanya sekitar 1 persen pengguna Chrome yang benar-benar masih mengandalkan Chrome Apps, dan mayoritas dari mereka berasal dari kalangan organisasi, sekolah, dan perusahaan yang memakai aplikasi tersebut untuk kebutuhan operasional internal.
Justru pihak yang perlu bersiap adalah:
- Administrator IT sekolah dan kampus yang masih memakai Chrome Apps untuk manajemen perangkat siswa.
- Perusahaan yang mengandalkan aplikasi internal berbasis Chrome Apps untuk operasional harian.
- Pengembang yang masih memelihara Chrome Apps lama dan belum bermigrasi ke teknologi web modern.
Google menyarankan dua jalur migrasi utama bagi yang masih menggunakan Chrome Apps:
- Beralih ke Progressive Web App (PWA) — pilihan utama karena menawarkan pengalaman mirip aplikasi mandiri dengan kompatibilitas lintas browser yang jauh lebih luas.
- Mengubahnya menjadi ekstensi Chrome — cocok jika fungsi aplikasi tersebut lebih banyak berkaitan dengan browser atau proses yang berjalan di latar belakang.
Bagi sekolah dan perusahaan, sisa waktu hingga Oktober 2028 sebaiknya dimanfaatkan untuk memetakan aplikasi mana saja yang masih bergantung pada Chrome Apps, lalu mulai merancang rencana migrasi bertahap agar tidak terburu-buru menjelang tenggat akhir.
Jadi, tenang saja — Google Chrome sebagai browser tidak akan hilang pada Oktober 2028. Yang benar-benar berakhir adalah Chrome Apps, teknologi aplikasi mandiri yang sudah lama ditinggalkan sejak beberapa tahun terakhir. Bagi pengguna biasa, ini bukan alasan untuk khawatir. Namun bagi organisasi yang masih mengandalkan Chrome Apps, sekaranglah waktu yang tepat untuk mulai merencanakan migrasi ke Progressive Web Apps atau ekstensi Chrome, sebelum dukungan resminya benar-benar padam.