Sinyal Damai Selat Hormuz Tahan Kemerosotan Wall Street

S Sawalika 25 Sep 2026 0 dilihat 4 menit baca

Bursa saham Amerika Serikat nyaris jatuh lebih dalam pada Kamis (24/9/2026). Sepanjang pagi, indeks-indeks utama Wall Street tertekan cukup tajam. Menjelang penutupan, kabar dari Timur Tengah membalikkan arah pasar. Investor mendapat sinyal bahwa Amerika Serikat dan Iran sedang menjajaki pembukaan kembali Selat Hormuz, dan sinyal itu cukup untuk menahan kerugian.

Menurut laporan Bloomberg, S&P 500 ditutup hampir tanpa perubahan setelah sempat turun signifikan di awal sesi. Nasdaq 100, yang banyak diisi saham teknologi, juga memangkas kerugian dan berakhir datar. Dow Jones Industrial Average menjadi satu-satunya indeks utama yang tetap di zona merah, dengan penurunan sekitar 0,3%.

Titik baliknya adalah laporan Reuters bahwa Washington dan Teheran membicarakan skema pembukaan Selat Hormuz secara bertahap. Harga minyak mentah yang sebelumnya bertahan tinggi langsung turun dari level puncaknya. Bagi pasar saham, penurunan harga minyak berarti berkurangnya tekanan pada biaya produksi dan tekanan pada inflasi.

Selat Hormuz adalah salah satu jalur energi terpenting di dunia. Ketika pelayaran di sana terganggu, dampaknya terasa jauh dari kawasan Teluk. Harga bahan bakar naik, biaya logistik membengkak, dan negara-negara pengimpor energi, termasuk di Asia, menghadapi tekanan pasokan.

Ketegangan itu masih terasa. Arab Saudi dilaporkan menjual 100 juta barel minyak untuk membantu meredakan krisis pasokan di Asia. Karena itu, setiap kabar tentang pembukaan kembali jalur ini cepat menggerakkan harga minyak dan saham.

Optimisme pasar masih rapuh. Sehari sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan dalam forum PBB di New York bahwa Selat Hormuz tidak akan dibuka selama sanksi Amerika Serikat masih berlaku. Pernyataan itu berbenturan dengan kabar tentang kesepakatan bertahap yang muncul keesokan harinya.

Kedua kabar ini tidak harus saling meniadakan. Pernyataan publik seorang pemimpin sering berbeda dari apa yang dibahas di meja perundingan. Namun perbedaan itu menjelaskan mengapa pasar tidak langsung berpesta. Investor menerima kemungkinan damai sebagai penahan, belum sebagai pendorong reli.

Jonathan Krinsky, kepala teknisi pasar di BTIG, menggambarkan situasinya dengan cukup jujur. Pihak yang optimistis dan yang pesimistis sama-sama frustrasi, karena pasar terus bergerak mengikuti berita utama yang berubah-ubah. Perdagangan hari Kamis memang bergerak tersendat-sendat, naik-turun mengikuti setiap kabar baru.

Sinyal damai hanya menyelesaikan sebagian kekhawatiran pasar. Tekanan lain masih ada, terutama kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan kekhawatiran inflasi. Imbal hasil yang lebih tinggi membuat saham, terutama saham teknologi dengan valuasi mahal, kurang menarik dibanding instrumen berpendapatan tetap.

Michael O'Rourke, kepala strategi pasar di JonesTrading, menilai pergerakan yang tersendat pada Kamis sore tidak mengubah fundamental yang masih menjadi tantangan. Kenaikan imbal hasil dan kekhawatiran inflasi tetap menjadi beban, sekalipun harga minyak turun sesaat.

Ada juga kabar yang lebih menenangkan dari dalam negeri AS. Klaim pengangguran mingguan turun ke 197 ribu, yang menunjukkan pasar tenaga kerja masih kuat. Di satu sisi, data itu menegaskan ekonomi belum retak. Di sisi lain, pasar tenaga kerja yang kokoh bisa membuat bank sentral lebih berhati-hati memangkas suku bunga.

Ada tiga hal yang layak diawasi dalam beberapa hari ke depan.

Pertama, apakah pembicaraan AS-Iran berlanjut dan menghasilkan langkah konkret, seperti jadwal pembukaan jalur pelayaran secara bertahap. Tanpa bukti di lapangan, pasar mudah kecewa lagi.

Kedua, arah harga minyak. Jika penurunan berlanjut, tekanan inflasi bisa mereda dan imbal hasil obligasi punya ruang turun. Jika perundingan buntu, harga minyak bisa kembali naik dan menekan saham.

Ketiga, imbal hasil Treasury. Selama imbal hasil terus naik, reli saham akan sulit bertahan lama, seberapa pun baiknya kabar geopolitik.

Kamis lalu memperlihatkan seberapa besar pengaruh geopolitik terhadap pasar keuangan. Satu laporan tentang kemungkinan perundingan cukup untuk mengubah sesi yang buruk menjadi hampir datar. Namun hasil datar bukan kemenangan. Pasar hanya membeli waktu sampai ada kepastian.

Bagi investor, termasuk di Indonesia yang bursanya ikut terpengaruh sentimen global, pelajarannya jelas. Kabar damai bisa menahan penurunan, tetapi reli yang berkelanjutan butuh lebih dari itu: perjanjian yang benar-benar dijalankan, inflasi yang terkendali, dan imbal hasil obligasi yang lebih jinak. Sampai semua itu terwujud, pasar kemungkinan tetap bergerak mengikuti berita utama.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait