Bank of Japan (BOJ) semakin dekat dengan keputusan penting yang akan menentukan arah kebijakan moneter Jepang untuk sisa tahun 2026. Setelah menahan suku bunga acuan di level 1 persen pada pertemuan akhir Juli lalu, bank sentral memberikan sinyal kuat bahwa kenaikan suku bunga berikutnya bisa terjadi secepat pertemuan kebijakan bulan September. Sinyal ini membuat pelaku pasar keuangan global, mulai dari investor obligasi hingga trader mata uang, kini memasang mode siaga penuh menjelang keputusan tersebut.
BOJ telah menempuh jalur pengetatan moneter yang bertahap sejak mengakhiri era stimulus besar-besaran pada 2024. Setelah menaikkan suku bunga ke 1 persen pada Juni 2026, level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, bank sentral memutuskan menahan suku bunga pada pertemuan Juli. Namun keputusan menahan itu bukan berarti BOJ berpuas diri. Dalam pemungutan suara delapan berbanding satu, satu anggota Dewan Kebijakan, Hajime Takata, justru menyerukan kenaikan langsung ke 1,25 persen dengan alasan risiko inflasi yang terus meningkat perlu direspons segera.
Nada hawkish itu semakin menguat setelah ringkasan opini pertemuan Juli dipublikasikan. Setidaknya tiga dari sembilan anggota dewan menyatakan bahwa BOJ sebaiknya menaikkan suku bunga lebih cepat dari pola dua kali kenaikan per tahun yang selama ini dianut. Kekhawatiran utama mereka adalah bank sentral berisiko tertinggal dalam meredam laju inflasi yang terus berada di atas target 2 persen.
Salah satu pendorong utama percepatan ekspektasi kenaikan suku bunga adalah pelemahan tajam nilai tukar yen, yang sempat menyentuh level terlemah dalam 40 tahun terakhir. Pelemahan mata uang ini mendorong biaya impor melonjak dan menekan daya beli rumah tangga maupun sektor ritel di Jepang. Sejumlah kalangan bahkan menilai laju kenaikan suku bunga BOJ yang selama ini terlalu berhati-hati justru turut memperparah tren pelemahan yen.
Tekanan terhadap BOJ juga datang dari luar negeri. Otoritas Jepang dan Amerika Serikat dilaporkan melakukan intervensi bersama di pasar valuta asing untuk menopang nilai tukar yen. Komentar Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, yang menyiratkan preferensi terhadap kenaikan suku bunga Jepang yang lebih cepat, turut memperkuat spekulasi bahwa BOJ akan bertindak pada pertemuan berikutnya. Kombinasi intervensi bersama dan tekanan diplomatik ini membuat peluang kenaikan suku bunga pada September dinilai semakin besar oleh para analis.
Di tengah sinyal pengetatan tersebut, BOJ turut merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Jepang untuk tahun fiskal 2026, seiring meredanya kekhawatiran terhadap dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kuatnya permintaan global terhadap sektor kecerdasan buatan (AI). Meski proyeksi inflasi inti untuk tahun fiskal 2026 sedikit diturunkan menjadi 2,5 persen, dari sebelumnya 2,8 persen, akibat langkah pemerintah meringankan biaya energi rumah tangga, BOJ tetap mengingatkan adanya risiko inflasi menyimpang ke atas target 2 persen dalam jangka menengah. Untuk tahun fiskal 2027, proyeksi inflasi inti justru dinaikkan menjadi 2,4 persen.
Gubernur BOJ Kazuo Ueda pun berada dalam posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, komunikasi bernada hawkish diperlukan untuk membantu meredam pelemahan yen dan menjaga kredibilitas bank sentral dalam mengendalikan inflasi. Namun di sisi lain, pengetatan yang terlalu agresif berisiko memicu gesekan dengan pemerintah yang selama ini cenderung mendukung kebijakan moneter yang lebih longgar demi menopang pertumbuhan ekonomi.
Survei yang dilakukan Reuters terhadap sejumlah analis menunjukkan mayoritas memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 1,25 persen sebelum akhir tahun 2026, dengan pertemuan September dipandang sebagai momen paling mungkin untuk langkah tersebut. Pasar valuta asing dan obligasi pemerintah Jepang pun mulai bergerak mengantisipasi skenario ini, tecermin dari penguatan yen dalam beberapa pekan terakhir seiring investor menyesuaikan ekspektasi terhadap arah suku bunga.
Meski demikian, BOJ tetap menegaskan bahwa waktu dan laju kenaikan suku bunga akan disesuaikan dengan perkembangan data ekonomi, termasuk pergerakan nilai tukar, dinamika geopolitik, serta sejauh mana kenaikan biaya produksi merambat ke harga konsumen. Dengan berbagai sinyal yang mengarah pada pengetatan lebih lanjut, perhatian pasar global kini sepenuhnya tertuju pada pertemuan kebijakan BOJ bulan September, yang berpotensi menjadi titik balik penting bagi arah suku bunga Jepang dan pergerakan yen ke depan.