Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi mengalami pembalikan arah atau rebound pada perdagangan Senin (5/10/2026). Pergerakan pasar saham domestik dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Salah satu perhatian utama investor adalah data ketenagakerjaan AS yang dirilis untuk periode September. Data tersebut menunjukkan penambahan lapangan kerja yang jauh lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar. Kondisi ini kemudian mengurangi kekhawatiran bahwa Federal Reserve atau The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuannya dalam waktu dekat.
Nonfarm Payrolls AS pada September tercatat hanya bertambah 29.000 lapangan kerja. Angka tersebut berada jauh di bawah estimasi pasar yang sebelumnya berada di sekitar 90.000. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran AS meningkat menjadi 4,2%.
Data tersebut menjadi sinyal bahwa kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat mulai mengalami perlambatan. Bagi investor global, pelemahan pasar tenaga kerja dapat menjadi pertimbangan penting bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter berikutnya.
Sebelumnya, kekhawatiran mengenai potensi kenaikan suku bunga The Fed menjadi salah satu faktor yang memberikan tekanan terhadap pasar keuangan global. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya membuat aset berdenominasi dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor karena menawarkan imbal hasil yang lebih tinggi.
Sebaliknya, apabila kemungkinan kenaikan suku bunga mulai berkurang, tekanan terhadap pasar negara berkembang seperti Indonesia juga dapat mereda. Investor dapat kembali mempertimbangkan aset berisiko, termasuk saham dan obligasi di pasar negara berkembang.
Perubahan ekspektasi tersebut terlihat dari pergerakan probabilitas kebijakan The Fed. Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan 28 Oktober 2026 turun menjadi 22,1%. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan posisi pekan sebelumnya yang mencapai 64,2%.
Penurunan probabilitas tersebut menjadi sentimen positif bagi pasar saham Indonesia. Investor melihat peluang bahwa kebijakan moneter AS tidak akan semakin ketat dalam waktu dekat. Kondisi ini dapat memberikan ruang bagi aliran modal untuk kembali masuk ke pasar negara berkembang.
IHSG pun berpeluang mendapatkan dorongan dari perubahan sentimen tersebut. Setelah menghadapi tekanan akibat ketidakpastian global, indeks saham domestik dapat mencoba melakukan rebound apabila investor mulai kembali mengambil posisi pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Namun, peluang penguatan IHSG tetap perlu dicermati karena kondisi pasar global masih menghadapi sejumlah risiko. Pergerakan harga minyak, perkembangan konflik geopolitik, nilai tukar rupiah, serta arah kebijakan bank sentral global masih dapat memengaruhi keputusan investor.
Selain itu, investor juga akan mencermati perkembangan data ekonomi AS berikutnya. Apabila sejumlah indikator ekonomi lainnya kembali menunjukkan pelemahan, ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang lebih longgar dapat semakin menguat.
Sebaliknya, apabila data ekonomi AS kembali menunjukkan ketahanan, pasar dapat kembali memperkirakan bahwa The Fed masih memiliki alasan untuk mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi. Situasi tersebut berpotensi membatasi ruang penguatan IHSG.
Bagi pasar Indonesia, kondisi suku bunga global menjadi penting karena turut memengaruhi pergerakan nilai tukar dan arus modal asing. Ketika tekanan dari kebijakan moneter AS berkurang, aset domestik berpotensi menjadi lebih menarik bagi investor global.
Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan faktor domestik. Kinerja perusahaan, kondisi ekonomi nasional, kebijakan pemerintah, serta stabilitas rupiah tetap menjadi faktor utama yang menentukan arah IHSG dalam jangka menengah.
Dengan demikian, melemahnya data ketenagakerjaan AS memberikan angin segar bagi pasar saham Indonesia karena mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed. Penurunan probabilitas kenaikan suku bunga dari 64,2% menjadi 22,1% menunjukkan perubahan sentimen yang cukup signifikan.
IHSG memiliki peluang untuk rebound pada perdagangan hari ini, tetapi penguatan tersebut tetap bergantung pada perkembangan sentimen global dan respons investor terhadap data ekonomi terbaru. Pasar akan terus mencermati apakah perlambatan ekonomi AS hanya bersifat sementara atau menjadi tanda bahwa ekonomi terbesar dunia tersebut mulai kehilangan momentumnya.