Bandung – Inovasi teknologi kembali hadir dari anak bangsa. Di tengah tantangan perubahan iklim yang kian tidak menentu dan ancaman serangan hama yang terus meningkat, sebuah terobosan digital lahir dari Kota Kembang. Sebuah startup agritech asal Bandung, PT AgriCerdas Nusantara, resmi meluncurkan aplikasi berbasis Artificial Intelligence (AI) yang diklaim mampu mendeteksi penyakit tanaman padi dan jagung hanya melalui foto daun. Peluncuran yang digelar pada Sabtu pagi (7/11/2026) ini disaksikan langsung oleh ratusan petani mitra, perwakilan Dinas Pertanian Jawa Barat, serta sejumlah akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Acara peluncuran yang berlangsung di Aula Gedung Inovasi Bandung tersebut berlangsung meriah. Para petani yang hadir tampak antusias mencoba langsung aplikasi bernama "TaniSehat" tersebut melalui ponsel masing-masing. Dalam sambutannya, CEO AgriCerdas Nusantara, Raka Pratama, menjelaskan bahwa aplikasi ini lahir dari kegelisahan melihat banyak petani yang gagal panen akibat terlambat mendeteksi penyakit. Selama ini, petani mengandalkan pengalaman visual dan konsultasi manual ke penyuluh yang jumlahnya terbatas.
"Kami melihat kesenjangan besar antara kebutuhan petani akan diagnosa cepat dan ketersediaan tenaga ahli di lapangan. Teknologi AI ini hadir sebagai jembatan. Cukup dengan memotret daun yang sakit menggunakan kamera ponsel, aplikasi akan menganalisis dan memberikan diagnosis dalam hitungan detik," ujar Raka di hadapan para petani.
Cara Kerja dan Akurasi Tinggi
Teknologi yang dikembangkan TaniSehat bekerja dengan menganalisis pola warna, tekstur, dan bercak pada permukaan daun. Sistem AI ini telah dilatih menggunakan puluhan ribu dataset gambar daun padi dan jagung yang terserang berbagai jenis jamur, virus, dan bakteri, seperti penyakit blas, hawar daun bakteri (HDB), dan bulai pada jagung.
"Sistem kami mampu mengidentifikasi pola yang sulit dilihat mata telanjang. Akurasi deteksi kami saat ini mencapai 95% untuk 15 jenis penyakit umum pada padi dan jagung. Ini jauh lebih cepat dibandingkan menunggu kunjungan penyuluh yang bisa memakan waktu berhari-hari," jelas Raka.
Selain mendeteksi penyakit, aplikasi ini juga memberikan rekomendasi penanganan yang spesifik. Misalnya, jika terdeteksi jamur, aplikasi akan menyarankan jenis fungisida yang tepat, dosis penggunaan, serta langkah pencegahan agar penyakit tidak menyebar ke area sawah lainnya. Fitur ini sangat membantu petani dalam mengambil keputusan cepat, terutama di musim tanam yang rentan terhadap serangan hama.
Respons Positif dari Petani
Salah satu petani mitra asal Ciwidey, Kabupaten Bandung, Iwan Setiawan (48), mengaku sangat terbantu dengan kehadiran aplikasi ini. Ia menuturkan bahwa selama ini ia seringkali terlambat mengetahui jenis penyakit yang menyerang tanamannya sehingga penanganan yang dilakukan tidak tepat sasaran.
"Saya dulu sering asal semprot obat kalau tanaman menguning. Kadang malah tambah parah karena ternyata penyakitnya beda. Dengan aplikasi ini, saya langsung tahu harus pakai obat apa. Hemat biaya, dan tanaman selamat," ungkap Iwan dengan wajah sumringah.
Hal senada disampaikan oleh Ketua Kelompok Tani Sri Rejeki, Siti Aminah. Menurutnya, aplikasi ini sangat ramah pengguna karena desainnya yang sederhana dan menggunakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami. "Banyak ibu-ibu tani yang juga gaptek, tapi aplikasi ini gampang dipakai. Fotonya jelas, penjelasannya juga tidak berbelit," ujarnya.
Mendukung Ketahanan Pangan Nasional
Peluncuran aplikasi ini juga mendapat apresiasi dari pemerintah daerah. Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat yang hadir dalam acara tersebut menyatakan bahwa digitalisasi pertanian adalah kunci untuk meningkatkan produktivitas nasional, terutama dalam menghadapi krisis pangan global.
"Kami sangat mendukung inovasi anak bangsa seperti ini. Ke depan, kami berencana mengintegrasikan aplikasi ini ke dalam program penyuluhan pertanian di seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat," ujarnya saat memberikan sambutan.