Long weekend Waisak selalu melahirkan banjir konten "me time" dan "reconnect with nature." Tapi di balik foto estetik itu, apakah kita benar-benar pulih — atau hanya pindah lokasi stres?
Sebentar lagi Waisak tiba, dan seperti biasa, media sosial akan dipenuhi foto-foto orang meditasi di tepi danau, minum kopi di glamping mewah, atau berdiri di atas bukit dengan caption "sometimes you need to get lost to find yourself." Healing, katanya.
Tapi psikolog punya pertanyaan yang lebih tajam: apakah pergi itu benar-benar membantu, atau hanya penundaan? Karena kalau sumber stresnya adalah pekerjaan, relasi, atau pola pikir — maka menghabiskan tiga hari di vila tepi sawah tidak akan mengubah apapun secara struktural.
Di sisi lain, penelitian tentang manfaat alam terhadap kesehatan mental cukup kuat. Waktu di luar ruangan, jauh dari layar, dengan stimulus sensori yang berbeda — terbukti menurunkan kadar kortisol dan membantu otak "reset." Jadi bukan sepenuhnya ilusi.
Masalahnya muncul ketika "healing" berubah jadi pertunjukan. Ketika libur dihabiskan untuk mendokumentasikan setiap momen demi konten, bukan untuk benar-benar hadir. Ketika pilihan destinasi didorong oleh foto yang bagus, bukan oleh apa yang benar-benar kita butuhkan.
Mungkin pertanyaan yang lebih jujur sebelum memesan akomodasi adalah: Apa sebenarnya yang ingin kamu tinggalkan, dan apakah itu bisa ditinggalkan hanya dengan pindah tempat? Kalau jawabannya ya, pergilah — dan matikan notifikasi. Benar-benar matikan.