Mengulik Makna Hari Tasyrik: Durasi, Pantangan, dan Limpahan Pahala yang Kerap Terlewatkan

N Nair 29 Mei 2026 9 dilihat 4 menit baca

 

Perayaan Hari Raya Idul Adha selalu diikuti dengan momen istimewa yang dikenal sebagai Hari Tasyrik. Bagi sebagian umat Muslim, dinamika waktu ibadah ini sering kali memicu pertanyaan mendasar mengenai batasan waktunya di penanggalan Hijriah.

Setiap kali bulan Dzulhijjah tiba, gema takbir tidak hanya berhenti saat salat Idul Adha usai ditunaikan. Suasana sakral justru berlanjut hingga beberapa hari setelahnya melalui rangkaian ibadah kurban dan zikir. Namun, di tengah kesibukan membagikan daging kurban, tidak sedikit masyarakat awam yang masih bertanya-tanya, sebenarnya hari tasyrik berapa hari dan kapan saja waktu tepatnya? Memahami durasi dan esensi hari-hari ini sangat penting agar kita tidak melewatkan waktu utama untuk beribadah sekaligus menghindari hal-hal yang dilarang agama.

Menjawab Tanya: Hari Tasyrik Berapa Hari Sebenarnya?

Dalam kalender Islam atau tahun Hijriah, Hari Tasyrik jatuh langsung setelah Hari Raya Idul Adha yang diperingati setiap tanggal 10 Dzulhijjah. Berdasarkan ketetapan syariat, durasi Hari Tasyrik berlangsung selama tiga hari berturut-turut, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Dengan demikian, jawaban mutlak untuk pertanyaan mengenai jumlah hari tersebut adalah tiga hari.

Secara harfiah, kata "Tasyrik" merujuk pada kata "Tasyriq" yang berarti menjemur sesuatu di bawah terik matahari. Pada zaman dahulu, sebelum teknologi pendingin makanan ditemukan, para jemaah haji dan penduduk makkah memanfaatkan tiga hari setelah Idul Adha ini untuk mengeringkan daging hewan kurban di bawah sengatan matahari. Proses pengawetan tradisional ini bertujuan agar daging kurban yang melimpah tidak membusuk dan bisa disimpan untuk perbekalan perjalanan jauh.

Meskipun saat ini metode penyimpanan daging sudah modern, nama Tasyrik tetap melekat. Tiga hari ini dipandang sebagai satu kesatuan waktu yang memiliki keutamaan luar biasa, di mana Allah SWT memberikan kelonggaran bagi hamba-Nya untuk menikmati rezeki berupa hidangan makanan dan minuman.

Mengapa Umat Islam Dilarang Berpuasa di Hari-Hari Ini?

Salah satu keunikan dari Hari Tasyrik adalah adanya larangan ibadah yang pada hari biasa justru bernilai pahala tinggi, yaitu berpuasa. Selama tiga hari ini, umat Muslim diharamkan untuk berpuasa, baik itu puasa sunah Senin-Kamis, puasa Daud, puasa qadha, bahkan puasa nazar sekalipun. Larangan ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW yang menegaskan esensi dari hari-hari tersebut.

"Hari-hari tasyrik adalah hari-hari untuk makan, minum, dan berzikir kepada Allah Azza wa Jalla." (HR. Muslim)

Melalui hadis ini, Islam mengajarkan keseimbangan hidup. Setelah menjalani ibadah yang menguras fisik dan spiritual, Allah SWT memberikan waktu bagi hamba-Nya untuk bersenang-senang dalam koridor syariat. Menikmati hidangan daging kurban bersama keluarga, tetangga, dan kaum duafa pada hari ini bernilai ibadah, asalkan dibarengi dengan rasa syukur dan tidak berlebih-lebihan.

Amalan Utama yang Menghidupkan Hari Tasyrik

Meskipun dilarang berpuasa, bukan berarti pintu pahala tertutup. Hari Tasyrik justru menjadi ladang amal yang sangat subur jika kita mengetahui amalan-amalan apa saja yang dianjurkan. Berikut adalah beberapa ibadah utama yang bisa menghidupkan hari-hari istimewa ini:

  • Menyembelih Hewan Kurban: Bagi umat Muslim yang memiliki kelapangan rezeki namun belum sempat berkurban pada tanggal 10 Dzulhijjah, waktu penyembelihan masih terbuka lebar selama Hari Tasyrik. Batas akhir penyembelihan adalah sebelum matahari terbenam pada tanggal 13 Dzulhijjah.
  • Mengumandangkan Takbir Muqayyad: Berbeda dengan takbir Idul Fitri yang selesai setelah salat Id, takbir pada Idul Adha dianjurkan untuk terus dibaca setiap selesai salat fardu selama Hari Tasyrik. Amalan ini menjadi pengingat konstan akan kebesaran Allah.
  • Memperbanyak Dzikir dan Doa Sapujagad: Hari-hari ini adalah waktu yang sangat mustajab untuk berdoa. Salah satu doa yang sangat dianjurkan untuk sering dibaca adalah doa sapujagad: "Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina 'adzaban-nar".

Dengan kelonggaran waktu yang ada, penyembelihan hewan kurban masih diperbolehkan hingga hari terakhir Tasyrik. Hal ini tentu memberikan fleksibilitas tinggi bagi panitia kurban di masjid-masjid tanah air untuk mendistribusikan daging secara lebih merata dan higienis tanpa harus terburu-buru dalam satu hari saja.

Relevansi Hari Tasyrik bagi Jemaah Haji di Tanah Suci

Bagi jemaah yang sedang menunaikan ibadah haji, Hari Tasyrik memiliki makna yang jauh lebih intens. Pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah inilah mereka wajib bermalam (mabit) di Mina dan melakukan ritual melontar tiga jumrah: Ula, Wustha, dan Aqabah. Aktivitas fisik yang berat ini membutuhkan stamina prima, sehingga larangan berpuasa di hari ini menjadi sangat rasional demi menjaga kesehatan para tamu Allah.

Di Mina pula, konsep durasi Tasyrik ini terbagi menjadi dua pilihan bagi jemaah haji. Ada yang memilih menyelesaikan mabit hingga tanggal 12 Dzulhijjah saja lalu kembali ke Mekkah sebelum matahari terbenam, yang dikenal dengan istilah Nafar Awwal. Sementara jemaah yang memilih bertahan hingga tanggal 13 Dzulhijjah mengambil pilihan Nafar Tsani. Di sinilah dinamika dan kemudahan dalam Islam terlihat nyata, di mana pilihan Nafar Awwal atau Nafar Tsani memberikan kelonggaran ibadah sesuai dengan kemampuan fisik masing-masing jemaah.

Pada akhirnya, memahami bahwa Hari Tasyrik berlangsung selama tiga hari membantu kita untuk lebih bijak dalam mengatur waktu ibadah, pembagian kurban, serta menjaga lisan dan hati untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat pangan yang telah dianugerahkan-Nya.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
N

Ditulis oleh

Nair

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Taeyang BIGBANG Rayakan Perjalanan Musik Lewat Album “Quintessence”

Taeyang BIGBANG Rayakan Perjalanan Musik Lewat Album “Quintessence”

Industri musik Korea Selatan kembali diramaikan dengan kembalinya salah satu ikon terbesar K-Pop, Taeyang. Vokalis utama grup legendaris BIGBANG tersebut resmi merilis album studio terbaru bertajuk Quintessence, yang sekaligus menjadi penanda perjalanan 20 tahun kariernya di industri hiburan sejak debut...

29 Mei 2026

Ironis! Siang Ditambal, Malamnya Jalan Lenteng Agung Arah Depok Amblas 3 Meter

Ironis! Siang Ditambal, Malamnya Jalan Lenteng Agung Arah Depok Amblas 3 Meter

JAKARTA – Sebuah insiden jalan amblas yang tergolong ironis kembali terjadi di wilayah Jakarta Selatan. Sebuah lubang besar menganga di tengah badan Jalan Lenteng Agung, mengarah ke Depok, Jawa Barat, pada malam hari, tak lama setelah jalan tersebut rampung ditambal...

29 Mei 2026

Investigasi Berlanjut Cuaca Ekstrem Diduga Kuat Jadi Pemicu Blackout Massal di Sumatera

Investigasi Berlanjut Cuaca Ekstrem Diduga Kuat Jadi Pemicu Blackout Massal di Sumatera

JAKARTA — Topik mengenai lumpuhnya aktivitas masyarakat akibat pemadaman listrik massal ( blackout ) yang melanda sebagian besar wilayah Pulau Sumatera beberapa waktu lalu kini kembali mencuat ke publik. Masyarakat dan pelaku usaha di wilayah terdampak masih terus menuntut kejelasan...

28 Mei 2026

Era Baru Layanan Korlantas SIM Digital Resmi Rilis, Cek Pakai QR dan Perpanjangan Kini Bisa Online

Era Baru Layanan Korlantas SIM Digital Resmi Rilis, Cek Pakai QR dan Perpanjangan Kini Bisa Online

JAKARTA – Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri resmi melakukan terobosan besar dalam digitalisasi pelayanan publik dengan meluncurkan Surat Izin Mengemudi (SIM) Digital. Langkah progresif ini diambil untuk memberikan kemudahan, efisiensi, dan transparansi bagi seluruh pengendara di tanah air. Dengan hadirnya...

28 Mei 2026