Presiden China Xi Jinping kembali menegaskan pentingnya pengembangan teknologi mutakhir dalam sektor pertahanan dengan meminta Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army/PLA) mempercepat pemanfaatan teknologi otonom dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Arahan tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang Beijing untuk membangun kekuatan militer yang lebih modern, efisien, dan mampu menghadapi tantangan keamanan di era digital.
Pernyataan Xi disampaikan dalam sesi studi Politbiro yang berlangsung pada Kamis sore dan dilaporkan oleh kantor berita resmi Xinhua. Dalam kesempatan tersebut, Xi menekankan bahwa perkembangan teknologi, khususnya AI dan sistem otonom, harus dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat kemampuan pertahanan nasional sekaligus meningkatkan efektivitas operasional militer China.
Menurut Xi, perkembangan teknologi global telah mengubah karakter peperangan modern. Persaingan antarnegara kini tidak lagi hanya bergantung pada jumlah personel maupun kekuatan persenjataan konvensional, tetapi juga pada kemampuan menguasai teknologi digital, komputasi cerdas, robotika, sistem tanpa awak, serta analisis data dalam skala besar.
Oleh karena itu, ia meminta seluruh jajaran militer mempercepat integrasi teknologi AI ke berbagai sektor pertahanan, mulai dari sistem komando, pengintaian, logistik, hingga pengoperasian kendaraan tempur tanpa awak.
Teknologi otonom yang dimaksud mencakup berbagai sistem yang mampu menjalankan tugas secara otomatis dengan campur tangan manusia yang minimal. Dalam dunia militer, teknologi tersebut dapat diterapkan pada drone udara, kapal tanpa awak, kendaraan tempur darat, robot logistik, hingga sistem pertahanan berbasis sensor pintar.
Sementara itu, kecerdasan buatan dinilai mampu meningkatkan kemampuan analisis informasi secara cepat. AI dapat membantu militer memproses data intelijen dalam jumlah besar, mengenali pola ancaman, mendukung pengambilan keputusan, hingga meningkatkan akurasi sistem pertahanan modern.
Selain menyoroti aspek teknologi, Xi Jinping kembali menekankan pentingnya pendidikan ideologi dan loyalitas politik di lingkungan Tentara Pembebasan Rakyat. Ia menilai modernisasi militer tidak hanya bergantung pada kemajuan teknologi, tetapi juga harus dibarengi dengan disiplin organisasi dan kepatuhan terhadap kepemimpinan Partai Komunis China.
Dalam arahannya, Xi juga meminta peningkatan pengawasan terhadap proyek-proyek pertahanan berskala besar. Ia menegaskan perlunya memperkuat sistem pengawasan guna memastikan setiap program modernisasi berjalan secara efektif, transparan, dan sesuai dengan target yang telah ditetapkan pemerintah.
Selain itu, Presiden China kembali menyerukan pemberantasan korupsi di lingkungan militer. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China memang melakukan berbagai langkah tegas untuk membersihkan praktik korupsi di tubuh PLA, termasuk dengan menindak sejumlah pejabat tinggi pertahanan yang diduga terlibat penyalahgunaan wewenang maupun pelanggaran disiplin.
Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari reformasi besar yang dilakukan Xi sejak menjabat sebagai Presiden China. Reformasi itu bertujuan meningkatkan profesionalisme angkatan bersenjata sekaligus memastikan anggaran pertahanan yang terus meningkat dapat dimanfaatkan secara optimal.
Arahan terbaru Xi Jinping muncul menjelang peringatan 100 tahun berdirinya Tentara Pembebasan Rakyat pada 2027. Tahun tersebut menjadi tonggak penting dalam agenda modernisasi militer China yang telah dicanangkan sejak beberapa tahun terakhir.
Xi sebelumnya menyatakan harapannya agar pada 2027 PLA telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam membangun pasukan tempur modern yang mampu menghadapi berbagai tantangan keamanan regional maupun global. Target tersebut merupakan bagian dari visi jangka panjang China untuk mewujudkan militer kelas dunia pada pertengahan abad ke-21.
Meskipun beberapa lembaga pertahanan China sempat diguncang kasus korupsi dan pergantian pejabat tinggi, berbagai pengamat menilai program modernisasi militer negara tersebut tetap berjalan sesuai rencana. Investasi besar-besaran dalam penelitian teknologi pertahanan, industri semikonduktor, satelit, hingga kecerdasan buatan terus dilakukan sebagai bagian dari strategi memperkuat kemampuan nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, China juga memperlihatkan perkembangan pesat pada berbagai teknologi pertahanan. Negara tersebut berhasil mengembangkan drone tempur generasi baru, sistem rudal hipersonik, kapal induk buatan dalam negeri, pesawat tempur siluman, hingga berbagai platform berbasis kecerdasan buatan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persaingan teknologi kini menjadi salah satu fokus utama dalam kompetisi geopolitik global. Amerika Serikat, China, dan sejumlah negara maju lainnya berlomba mengembangkan teknologi AI untuk berbagai sektor, termasuk pertahanan, keamanan siber, dan sistem persenjataan modern.
Pengamat hubungan internasional menilai peningkatan investasi China pada AI militer kemungkinan akan mendorong negara-negara lain mempercepat pengembangan teknologi serupa. Hal ini dapat memicu kompetisi yang semakin ketat dalam penguasaan teknologi strategis, terutama di kawasan Indo-Pasifik.
Di sisi lain, penggunaan AI dalam bidang pertahanan juga memunculkan berbagai perdebatan mengenai aspek etika dan keamanan. Sejumlah organisasi internasional menyerukan agar pengembangan senjata berbasis AI tetap berada di bawah kendali manusia dan mengikuti prinsip-prinsip hukum internasional untuk menghindari penyalahgunaan teknologi.
Meski demikian, China tampaknya tetap berkomitmen menjadikan kecerdasan buatan sebagai salah satu pilar utama modernisasi militernya. Dengan dukungan investasi besar, kemampuan riset yang terus berkembang, serta kebijakan pemerintah yang mendorong inovasi teknologi, Beijing berharap mampu membangun angkatan bersenjata yang lebih modern, adaptif, dan siap menghadapi dinamika keamanan global pada masa mendatang.
Arahan terbaru Xi Jinping menegaskan bahwa penguasaan teknologi otonom dan AI kini menjadi prioritas strategis dalam pembangunan kekuatan militer China. Langkah tersebut sekaligus mencerminkan semakin besarnya peran kecerdasan buatan dalam membentuk wajah pertahanan modern di berbagai negara di dunia.