Hari ini, 20 Mei 2026, Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang ke-118.
Seratus delapan belas tahun lalu, sekelompok pemuda berseragam putih berkumpul di aula sederhana Sekolah Dokter Jawa — STOVIA — di Batavia. Mereka bukan tentara. Mereka tidak membawa senjata. Yang mereka bawa hanyalah gagasan: bahwa bangsa yang terjajah bisa bangkit bukan dengan kekuatan otot, melainkan kekuatan pikiran.
Dari pertemuan itu lahirlah Boedi Oetomo. Dari Boedi Oetomo lahirlah kesadaran bahwa perjuangan harus terorganisir, berbasis pendidikan, dan berskala nasional — bukan kedaerahan. Berdirinya Boedi Oetomo menjadi tonggak bersejarah bagi pergerakan bangsa Indonesia, karena mampu membangkitkan semangat perjuangan kemerdekaan yang melampaui batas-batas suku dan daerah. Tribun Sumsel
Hari ini kita memperingati warisan mereka. Tapi kita juga harus jujur bertanya: apakah cara kita memahami "kebangkitan" masih relevan untuk zaman yang sudah sedemikian berubah?
Pada 1908, dunia berputar di atas tenaga uap dan tinta cetak. Informasi bergerak selambat kuda. Pengetahuan tersimpan di buku-buku tebal yang hanya bisa diakses oleh mereka yang beruntung mengenyam pendidikan.
Tahun 2026, realitasnya sudah berbeda sepenuhnya.
Memasuki 2026, Indonesia telah bertransformasi dari sekadar konsumen teknologi menjadi salah satu negara dengan adopsi kecerdasan buatan paling progresif di Asia Tenggara. Sekitar 59 persen masyarakat Indonesia tercatat sudah pernah mencoba atau menggunakan alat berbasis AI dalam kehidupan sehari-hari, melampaui rata-rata negara tetangga. Masoem University
Seorang pelajar SMA di Kupang kini bisa mengakses penjelasan konsep fisika kuantum dalam hitungan detik. Seorang petani di Sulawesi bisa mendapat prediksi cuaca dan rekomendasi tanaman berbasis data satelit dari genggaman tangannya. Pengetahuan — aset paling berharga yang diperjuangkan Boedi Oetomo — kini tersedia hampir tanpa batas.
Tapi apakah kita benar-benar sudah bangkit?
Memasuki 2026, euforia kecerdasan buatan telah mereda, berganti menjadi realitas baru yang menantang. Kita tidak lagi terkejut dengan kemampuan AI menulis puisi atau membuat gambar dalam hitungan detik. Namun di balik kemudahan tersebut, tersimpan sebuah ancaman sunyi bagi kedaulatan digital bangsa: kita terjebak menjadi negara "konsumen algoritma", bukan pengendali teknologi. TIMES Indonesia
Inilah paradoks besar yang perlu kita renungkan di Harkitnas ke-118 ini. Generasi muda Indonesia hari ini adalah generasi yang paling terhubung dalam sejarah bangsa. Tapi terhubung dengan apa, dan untuk apa?
Jumlah pengguna internet Indonesia telah melampaui 210 juta orang. Namun peningkatan ini turut diiringi dengan risiko misinformasi, ancaman siber, hingga penyalahgunaan teknologi AI. Dpr
Kita mengkonsumsi konten dari platform asing. Kita menyimpan data di server asing. Kita menggunakan model AI yang dibangun oleh perusahaan asing, dilatih dengan data asing, dan mencerminkan perspektif asing. Sementara itu, dominasi platform asing masih menguasai pasar lokal, dan kesenjangan digital — akses internet di daerah terpencil yang masih terbatas — menjadi tantangan nyata yang belum terselesaikan. Sehatmu
Para pemuda STOVIA 1908 berjuang agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi bangsa penjajah. Ironisnya, di era digital 2026, pertanyaan yang sama masih relevan — hanya bentuknya yang berubah: apakah kita mau selamanya menjadi pasar bagi raksasa teknologi global?
Jawaban atas pertanyaan itu bukan pesimisme — melainkan panggilan untuk mendefinisikan ulang makna kebangkitan.
Indonesia menargetkan pengembangan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030 guna memenuhi kebutuhan ekonomi berbasis teknologi yang terus berkembang. Program nasional difokuskan pada penguatan empat pilar utama: keterampilan digital, etika digital, keamanan digital, dan budaya digital, dengan sasaran utama generasi muda. Dpr
Ini bukan sekadar angka. Ini adalah versi modern dari apa yang Boedi Oetomo cita-citakan: pendidikan sebagai instrumen kebangkitan. Dulu pendidikan berarti bisa membaca, berhitung, dan memahami ilmu kedokteran. Kini pendidikan berarti bisa membangun sistem, membaca data, dan — yang terpenting — memahami cara kerja AI, bukan sekadar menggunakannya.
Tantangannya kini bukan sekadar menggunakan AI, tetapi memahami AI secara kritis dan bijak. Pada era AI, menjadi pengendali teknologi jauh lebih berharga daripada sekadar menjadi penggunanya. Kompas
Visi Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai jika pada 2030 nanti talenta digital kita hanya berakhir sebagai operator atau sekadar pengetik perintah ke dalam ChatGPT. Yang dibutuhkan adalah generasi yang mampu mengorkestrasi AI: mengendalikannya, menyaringnya, dan menjadikannya alat untuk menyelesaikan masalah nyata bangsa. TIMES Indonesia
Ada tiga hal yang membuat Boedi Oetomo berhasil menjadi percikan kebangkitan, dan ketiganya masih relevan hari ini.
Pertama, mereka berpikir melampaui diri sendiri. Para mahasiswa STOVIA tidak mendirikan organisasi untuk kepentingan kelompok mereka sendiri. Mereka memikirkan nasib seluruh bangsa. Di era AI, kebangkitan sejati bukan berarti segelintir startup teknologi Indonesia menjadi unicorn — melainkan bagaimana teknologi menjangkau dan memberdayakan petani di NTT, nelayan di Maluku, dan pengrajin di Bantul.
Kedua, mereka percaya bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh. Semangat persatuan, pendidikan, dan inovasi yang digagas oleh Boedi Oetomo harus terus diwujudkan dalam menghadapi tantangan global seperti digitalisasi, perubahan iklim, dan ketimpangan sosial. Tidak ada jalan pintas menuju kebangkitan. Literasi digital yang sejati — bukan sekadar bisa scroll media sosial — harus menjadi agenda nasional yang paling serius. LDII SAMPIT
Ketiga, mereka tidak menunggu kondisi sempurna untuk mulai bergerak. Mereka bergerak di bawah penjajahan, dengan keterbatasan fasilitas, dalam kondisi yang jauh dari ideal. Nilai-nilai luhur seperti integritas, etos kerja, dan gotong royong yang telah diwariskan oleh para pejuang harus menjadi fondasi karakter bangsa dalam menghadapi era kecerdasan buatan. Bukan sekadar dikutip dalam sambutan upacara, tapi benar-benar dihidupi dalam cara kita bekerja, berinovasi, dan berkolaborasi. Indonesia.go.id
Satu hal yang perlu kita akui dengan jujur: kebangkitan nasional belum selesai. Ia tidak pernah selesai dalam satu generasi.
Generasi 1908 mewariskan kesadaran berbangsa. Generasi 1945 mewariskan kemerdekaan. Generasi 1998 mewariskan demokrasi. Kini giliran generasi 2026 untuk mewariskan sesuatu kepada generasi berikutnya.
Apa yang akan kita wariskan?
Indonesia mendorong pendekatan yang inklusif, berpusat pada manusia, dan kolaboratif — agar AI dapat menjadi alat untuk memberdayakan, bukan justru memperlebar ketimpangan. Itu adalah cita-cita yang tepat. Tapi cita-cita hanya bermakna jika diwujudkan dalam kebijakan yang konkret, kurikulum yang relevan, investasi yang nyata, dan komitmen panjang yang tidak tergoda oleh siklus berita 24 jam. DPR RI
Di tengah hiruk-pikuk berita tentang Rupiah yang tertekan, sidang korupsi pejabat, dan perdebatan regulasi ojol — semua yang kita tulis dan diskusikan sepanjang minggu ini — ada satu narasi yang perlu terus kita jaga: bahwa Indonesia bukan hanya kumpulan masalah yang harus diselesaikan, melainkan sebuah bangsa yang sedang dalam perjalanan panjang menuju versi terbaiknya.
Perjalanan yang dimulai di aula STOVIA, 118 tahun yang lalu.
Kepada generasi muda Indonesia yang hari ini merayakan Harkitnas:
Anda tidak hidup di zaman yang lebih mudah dari 1908. Anda hidup di zaman yang lebih kompleks. Ancaman bukan lagi meriam penjajah, melainkan algoritma yang membentuk cara Anda berpikir tanpa Anda sadari. Disinformasi yang bergerak lebih cepat dari kebenaran. Ketimpangan yang menyamar dalam balutan kemajuan teknologi.
Tapi Anda juga hidup di zaman yang penuh dengan alat dan peluang yang tidak pernah dimiliki Dr. Soetomo dan kawan-kawan. Anda bisa belajar dari siapa saja, membangun apa saja, dan menjangkau siapa saja — dari mana saja.
Pertanyaannya tetap sama seperti 118 tahun lalu: Apakah Anda mau bangkit, atau memilih untuk nyaman menjadi penonton?
Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-118. Bangkit bukan berarti sempurna — bangkit berarti terus bergerak.