Persaingan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin panas setelah kemunculan DeepSeek, chatbot AI asal China yang disebut-sebut mampu mengimbangi dominasi OpenAI lewat produk populernya, ChatGPT. Dalam beberapa bulan terakhir, nama DeepSeek menjadi sorotan dunia teknologi karena performanya yang dianggap sangat kompetitif meski dikembangkan dengan biaya lebih murah dibanding AI buatan perusahaan Amerika Serikat.
Popularitas DeepSeek bahkan meningkat drastis setelah aplikasi AI tersebut berhasil menjadi salah satu aplikasi gratis paling banyak diunduh di Apple App Store di sejumlah negara. Kehadirannya membuat industri teknologi global mulai melirik perkembangan AI asal China yang selama ini dianggap tertinggal dari Amerika Serikat.
Berikut tiga fakta menarik tentang DeepSeek AI yang kini ramai diperbincangkan dunia.
1. DeepSeek Berasal dari Startup AI China
DeepSeek merupakan perusahaan rintisan teknologi asal Hangzhou, China, yang didirikan pada 2023 oleh Liang Wenfeng. Startup ini berkembang cukup cepat dan langsung menarik perhatian publik setelah merilis model AI bernama DeepSeek-V3 dan DeepSeek-R1.
Model DeepSeek-R1 menjadi salah satu yang paling banyak dibicarakan karena memiliki kemampuan reasoning atau penalaran yang dianggap mampu bersaing dengan model AI canggih milik OpenAI seperti GPT-4 dan o1. Teknologi ini mampu menjawab pertanyaan kompleks, membantu coding, menyelesaikan soal matematika, hingga melakukan analisis data secara mendalam.
Kehadiran DeepSeek menjadi bukti bahwa China mulai serius membangun ekosistem AI sendiri di tengah pembatasan teknologi dan sanksi chip dari Amerika Serikat. Meski menghadapi keterbatasan akses terhadap chip AI paling canggih, DeepSeek tetap berhasil mengembangkan model AI dengan performa tinggi.
Bahkan sejumlah media internasional menyebut kemunculan DeepSeek membuat perusahaan teknologi Amerika mulai khawatir terhadap dominasi mereka di industri AI global.
2. Biaya Pengembangan Jauh Lebih Murah dari ChatGPT
Salah satu alasan DeepSeek menjadi perhatian dunia adalah biaya pengembangannya yang jauh lebih murah dibanding model AI lain seperti ChatGPT. Berdasarkan sejumlah laporan, DeepSeek-R1 dikembangkan dengan biaya sekitar US$5,6 juta atau jauh lebih rendah dibanding investasi miliaran dolar yang dikeluarkan perusahaan besar Amerika untuk melatih model AI mereka.
Meski menggunakan dana lebih kecil dan chip yang tidak sepenuhnya setara dengan teknologi Amerika, performa DeepSeek disebut tetap mampu bersaing di berbagai benchmark AI. Hal ini membuat banyak investor dan analis teknologi mulai mempertanyakan efektivitas pengeluaran besar perusahaan AI raksasa selama ini.
Efisiensi biaya tersebut juga berdampak pada harga layanan AI yang ditawarkan DeepSeek. Startup ini mampu menghadirkan layanan AI dengan biaya operasional lebih murah sehingga dinilai dapat memperluas akses teknologi AI ke lebih banyak pengguna.
Menurut sejumlah pengamat, keberhasilan DeepSeek menunjukkan bahwa inovasi AI tidak selalu membutuhkan anggaran terbesar. Strategi pengembangan yang efisien dan optimalisasi sistem ternyata mampu menghasilkan performa yang kompetitif.
3. DeepSeek Disebut Bisa Menyaingi ChatGPT
Kemampuan DeepSeek dalam menjawab pertanyaan kompleks membuat banyak pengguna mulai membandingkannya dengan ChatGPT. Bahkan, aplikasi DeepSeek sempat menggeser ChatGPT sebagai aplikasi AI gratis paling populer di Apple App Store Amerika Serikat.
Sejumlah pengguna internet menilai DeepSeek memiliki kemampuan coding, logika, dan pemecahan masalah yang sangat baik. Di media sosial dan forum komunitas teknologi, banyak pengguna mengaku terkejut dengan performa AI asal China tersebut, terutama karena layanan yang diberikan dapat diakses secara gratis.
Meski demikian, DeepSeek juga tidak lepas dari kritik. Beberapa peneliti dan pengguna menilai AI tersebut masih memiliki keterbatasan, terutama terkait sensor informasi dan isu politik sensitif di China. Ada pula studi akademik yang menyoroti potensi bias pada jawaban DeepSeek dibanding model AI Barat seperti ChatGPT.
Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa ChatGPT masih unggul dalam pemahaman bahasa Inggris dan analisis ekonomi tertentu. Namun secara keseluruhan, kehadiran DeepSeek dianggap sebagai pesaing serius yang menunjukkan perkembangan pesat teknologi AI China.
Kemunculan DeepSeek sekaligus menjadi tanda bahwa persaingan AI global semakin terbuka. Jika sebelumnya dominasi AI banyak dipegang perusahaan Amerika Serikat seperti OpenAI, Google, dan Meta, kini perusahaan teknologi China mulai menunjukkan kemampuan mereka di panggung internasional.
Dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat, bukan tidak mungkin DeepSeek dan AI asal China lainnya akan menjadi penantang utama ChatGPT di masa depan.