Program ambisius ini punya niat mulia: tidak ada anak Indonesia yang belajar dengan perut kosong. Tapi antara janji di podium dan realita di kantin sekolah, jaraknya kadang menganga.
Kalau Anda punya anak di sekolah dasar, kemungkinan besar sudah pernah mendengar tentang program makan bergizi gratis. Berita bagusnya: di banyak daerah, program ini memang jalan. Anak-anak mendapat makan siang layak yang mungkin tidak selalu tersedia di rumah mereka.
Tapi masuk ke laporan dari daerah-daerah terpencil, gambarnya tidak selalu seindah presentasi di ibu kota. Ada laporan distribusi yang terlambat berhari-hari. Ada menu yang monoton hingga anak-anak tidak mau makan. Ada anggaran yang konon sudah cair tapi entah mengendap di mana.
Pengamat kebijakan publik menilai masalah terbesar program semacam ini adalah celah antara perencanaan pusat dan eksekusi di lapangan. Infrastruktur logistik pangan Indonesia belum merata — mengirim makanan bergizi ke sekolah di Pegunungan Jayawijaya punya tantangan yang sama sekali berbeda dengan mengirimnya ke SD di Surabaya.
Selain itu, ada pertanyaan soal keberlanjutan: program ini bergantung pada anggaran negara yang fluktuatif. Apa yang terjadi jika terjadi pemotongan fiskal? Apakah anak-anak yang sudah terbiasa mendapat makan siang gratis tiba-tiba harus kembali ke keadaan semula?
Niatnya tidak salah. Faktanya, program nutrisi anak di banyak negara terbukti meningkatkan angka kehadiran dan kemampuan belajar. Yang dibutuhkan sekarang bukan debat soal apakah programnya perlu — tapi bagaimana memastikan setiap suap benar-benar sampai ke mulut yang tepat.