Awas! Puluhan Aplikasi Berbahaya di Google Play Sudah Diunduh Jutaan Kali

T Tirza 23 Mei 2026 5 dilihat 3 menit baca

Pengguna smartphone Android diminta lebih waspada setelah sejumlah peneliti keamanan siber menemukan puluhan aplikasi berbahaya yang beredar di Google Play Store. Yang mengejutkan, aplikasi-aplikasi tersebut diketahui sudah diunduh jutaan kali oleh pengguna di berbagai negara sebelum akhirnya terdeteksi mengandung malware dan aktivitas berbahaya.

Laporan terbaru dari sejumlah perusahaan keamanan siber menyebut aplikasi tersebut menyamar sebagai aplikasi biasa seperti editor foto, keyboard, pemindai QR, wallpaper, hingga aplikasi kesehatan dan produktivitas. Namun di balik tampilannya yang terlihat normal, aplikasi tersebut diam-diam mencuri data pengguna, menampilkan iklan berlebihan, hingga mengakses informasi sensitif dari perangkat korban.

Salah satu ancaman yang paling banyak ditemukan adalah malware jenis spyware dan trojan. Malware ini dapat bekerja secara diam-diam di latar belakang perangkat untuk mengambil data pribadi seperti kontak, pesan, lokasi, riwayat pencarian, bahkan informasi akun perbankan pengguna.

Beberapa aplikasi juga diketahui menggunakan teknik phishing untuk mencuri username dan password akun media sosial maupun layanan perbankan digital. Pengguna sering kali tidak menyadari perangkat mereka telah disusupi karena aplikasi tetap berjalan seperti biasa tanpa menunjukkan tanda mencurigakan.

Peneliti keamanan siber menyebut sebagian aplikasi berbahaya tersebut berhasil lolos dari sistem keamanan Google Play Protect karena menggunakan teknik penyamaran yang semakin canggih. Malware baru biasanya akan aktif beberapa hari setelah aplikasi diinstal agar tidak mudah terdeteksi sistem keamanan otomatis.

Selain mencuri data, ada pula aplikasi yang diam-diam berlangganan layanan premium tanpa izin pengguna. Akibatnya, korban bisa mengalami pemotongan pulsa atau tagihan digital secara otomatis tanpa disadari.

Menurut laporan keamanan terbaru, beberapa aplikasi berbahaya bahkan mampu mengambil alih akses notifikasi smartphone. Dengan kemampuan tersebut, pelaku dapat membaca kode OTP yang dikirim bank atau layanan digital lain sehingga risiko pembobolan akun menjadi lebih besar.

Meski Google secara rutin menghapus aplikasi berbahaya dari Play Store, para peneliti mengingatkan bahwa ancaman serupa terus bermunculan. Dalam banyak kasus, pengembang aplikasi nakal akan kembali mengunggah aplikasi baru dengan nama dan tampilan berbeda setelah aplikasi lama dihapus.

Pakar keamanan siber menyarankan pengguna Android untuk lebih berhati-hati sebelum menginstal aplikasi. Salah satu langkah paling penting adalah memeriksa jumlah ulasan, rating, identitas pengembang, serta izin akses yang diminta aplikasi.

Pengguna juga diminta menghindari aplikasi yang meminta izin berlebihan dan tidak relevan dengan fungsinya. Misalnya, aplikasi wallpaper yang meminta akses kontak, SMS, mikrofon, atau lokasi secara terus-menerus patut dicurigai.

Selain itu, pengguna disarankan selalu memperbarui sistem operasi Android dan aplikasi keamanan di perangkat mereka. Update sistem biasanya membawa patch keamanan terbaru untuk menutup celah yang dapat dimanfaatkan malware.

Fitur Google Play Protect juga sebaiknya tetap diaktifkan karena dapat membantu memindai aplikasi mencurigakan secara otomatis. Meski tidak sepenuhnya sempurna, fitur tersebut tetap menjadi lapisan perlindungan tambahan bagi pengguna Android.

Tidak hanya pengguna biasa, ancaman aplikasi berbahaya kini juga mulai menyasar pelaku bisnis dan pekerja kantoran. Beberapa malware modern mampu mencuri file kerja, dokumen perusahaan, hingga akses email bisnis yang tersimpan di smartphone korban.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keamanan digital menjadi semakin penting di era penggunaan smartphone yang terus meningkat. Banyak pengguna masih menganggap semua aplikasi di Google Play aman, padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Karena itu, pengguna Android diimbau lebih selektif saat mengunduh aplikasi dan tidak mudah tergiur aplikasi gratis dengan fitur berlebihan. Jika menemukan aplikasi mencurigakan, pengguna sebaiknya segera menghapus aplikasi tersebut dan mengganti password akun penting yang tersimpan di perangkat.

Dengan ancaman siber yang semakin berkembang, kewaspadaan pengguna menjadi benteng utama untuk melindungi data pribadi dan keamanan digital sehari-hari.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
T

Ditulis oleh

Tirza

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Prosesor Gaming Populer Ryzen 7 5800X3D 10th Anniversary Edition Resmi Rilis di India

Prosesor Gaming Populer Ryzen 7 5800X3D 10th Anniversary Edition Resmi Rilis di India

Kabar menarik datang untuk para gamer PC dan penggemar hardware. AMD Ryzen 7 5800X3D kembali jadi sorotan setelah versi spesial “10th Anniversary Edition” dilaporkan resmi hadir di pasar India. Kehadiran prosesor legendaris ini langsung menarik perhatian komunitas PC karena 5800X3D...

22 Mei 2026

Startup Teknologi Lokal Mulai Dominasi Pasar Digital Indonesia 2026

Startup Teknologi Lokal Mulai Dominasi Pasar Digital Indonesia 2026

Perkembangan industri digital di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan positif sepanjang tahun 2026. Sejumlah startup teknologi lokal kini mulai mendominasi pasar digital nasional melalui berbagai inovasi di bidang kecerdasan buatan, layanan keuangan digital, hingga platform berbasis komunitas. Transformasi digital yang semakin...

22 Mei 2026

Anthropic Pertimbangkan Penggunaan Chip AI Microsoft, Persaingan Industri Semakin Memanas

Anthropic Pertimbangkan Penggunaan Chip AI Microsoft, Persaingan Industri Semakin Memanas

Anthropic dikabarkan tengah mempertimbangkan penggunaan chip kecerdasan buatan milik Microsoft untuk mendukung pengembangan teknologi AI mereka di masa depan. Kabar ini menjadi sorotan besar di industri teknologi global karena dapat mengubah peta persaingan bisnis chip AI yang saat ini masih...

22 Mei 2026

Uji Coba Integrasi Tiket Terpadu Berbasis Wajah Face Recognition pada Seluruh Stasiun Hub Utama Jabodetabek Mulai Diberlakukan

Uji Coba Integrasi Tiket Terpadu Berbasis Wajah Face Recognition pada Seluruh Stasiun Hub Utama Jabodetabek Mulai Diberlakukan

Sistem integrasi transportasi massal di wilayah metropolitan Jabodetabek kembali mencatatkan tonggak sejarah baru, dengan resmi dimulainya uji coba sistem tiket terpadu berbasis pemindai wajah ( Face Recognition ). Langkah teknologi mutakhir ini diterapkan secara serentak di sejumlah stasiun hub dengan...

22 Mei 2026