Banjir rob makin parah, rumah makin dekat ke permukaan laut, tapi proyek perlindungan pantai utara Jawa seolah jalan di tempat. Ada apa sebenarnya?
Warga Pluit, Demak, dan Pekalongan sudah tahu rasanya: pagi hari bangun tidur, lantai rumah sudah digenangi air laut. Bukan karena hujan. Tapi karena bumi di bawah kaki mereka pelan-pelan ambles — dan laut perlahan mengisi ruang yang ditinggalkan tanah.
Data Badan Geologi menunjukkan sebagian wilayah Pantura turun hingga 25 sentimeter per tahun. Salah satu laju penurunan tanah tercepat di dunia. Penyebab utamanya: pengambilan air tanah berlebihan selama puluhan tahun.
Pemerintah sempat mencanangkan proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) alias "tanggul raksasa" yang akan melindungi pesisir Jakarta dan sekitarnya. Konsepnya megah: tanggul sepanjang puluhan kilometer, reklamasi terencana, sistem pompa modern. Tapi setelah ibu kota pindah ke Nusantara, nasib proyek itu seperti ikut pindah — menghilang dari perbincangan publik.
Sementara itu, warga terus hidup dengan adaptasi alakadarnya: meninggikan lantai rumah, pindah ke lantai dua, atau yang sudah benar-benar tidak kuat — meninggalkan kampung yang sudah dihuni turun-temurun.
Pertanyaannya bukan lagi soal "apakah" Pantura akan terendam — tapi seberapa cepat, dan siapa yang akan menanggung biaya paling besar dari bencana yang datang perlahan ini. Jawabannya, sayangnya, sudah terlalu jelas.