Sabtu, 16 Mei 2026 – Cuaca ekstrem dan intensitas hujan yang sangat tinggi yang mengguyur wilayah Kota Semarang sejak Jumat kemarin telah memicu bencana hidrometeorologi hebat di kawasan Semarang Barat. Banjir bandang yang datang secara mendadak menghantam permukiman warga, melumpuhkan jalur transportasi utama, serta mengakibatkan kerusakan infrastruktur yang sangat masif. Hingga Sabtu hari ini, 16 Mei 2026, petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, TNI, Polri, relawan, serta warga setempat masih terus berjibaku melakukan evakuasi, pembersihan material lumpur, dan penanganan darurat di berbagai titik terdampak parah.
Titik episentrum kerusakan terparah dilaporkan terjadi di kawasan Ngaliyan dan Kecamatan Tugu. Petaka ini bermula ketika hujan dengan intensitas ekstrem melanda wilayah hulu sejak siang hingga malam hari, menyebabkan debit air sungai meningkat drastis dalam waktu singkat. Ketidakmampuan infrastruktur penahan air dalam menampung luapan arus yang begitu deras memuncak pada jebolnya tanggul Sungai Plumbon. Tanggul penahan aliran sungai tersebut dilaporkan jebol sepanjang kurang lebih 50 meter. Akibatnya, jutaan meter kubik air bercampur lumpur, batuan, dan material sampah langsung meluncur deras menghantam wilayah dataran rendah di sekitarnya, khususnya kawasan Mangkang Kulon dan sekitarnya.
Luapan banjir bandang yang datang tanpa peringatan dini yang memadai tersebut langsung merendam ratusan rumah warga dengan ketinggian air mencapai satu hingga dua meter di beberapa titik terdampak. Arus yang sangat kuat tidak hanya merusak perabotan rumah tangga, tetapi juga menjebol dinding-dinding rumah yang posisinya berdekatan langsung dengan aliran sungai. Suasana mencekam sempat terjadi pada Jumat malam saat warga berusaha menyelamatkan diri ke atap rumah di tengah kegelapan akibat terputusnya aliran listrik di wilayah terdampak.
Bencana ini pun memakan korban jiwa yang meninggalkan duka mendalam bagi warga Kota Atlas. Berdasarkan pembaruan data dari petugas lapangan hari ini, dua orang dilaporkan meninggal dunia akibat terseret arus banjir yang sangat kuat. Korban pertama merupakan seorang lanjut usia (lansia) warga Mangkang Kulon yang dilaporkan hilang saat tanggul Sungai Plumbon pertama kali jebol. Setelah dilakukan pencarian intensif sejak semalam, jasad korban akhirnya berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan pagi tadi, tersangkut di semak-semak sekitar 150 meter dari lokasi awal tempat tinggalnya dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
Sementara itu, korban jiwa kedua ditemukan di wilayah Ngaliyan, tepatnya di aliran Sungai Silandak yang berada di dekat kawasan kandang ayam. Penemuan jenazah seorang perempuan muda ini sempat menggegerkan warga sekitar yang sedang melakukan pembersihan. Berdasarkan proses identifikasi awal dan penelusuran rute aliran air, korban diduga kuat terseret arus banjir bandang yang sangat deras dari kawasan Kawasan Industri Candi (KIC) Ngaliyan. Korban diperkirakan hanyut sejauh kurang lebih dua kilometer sebelum akhirnya tubuhnya tersangkut di aliran Sungai Silandak. Kedua jenazah korban kini telah dievakuasi ke rumah sakit terdekat untuk proses visum sebelum diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Selain menelan korban jiwa, terjangan banjir bandang ini juga melumpuhkan sektor transportasi dan merusak fasilitas publik secara signifikan. Di wilayah Ngaliyan, tepatnya di Jalan Honggowongso, akses transportasi dilaporkan terputus total. Hal ini disebabkan oleh amblasnya jembatan utama penghubung antar-kampung sejak Jumat malam akibat tergerus aliran air yang sangat deras di bagian bawah fondasi jembatan. Kerusakan ini memaksa petugas kepolisian dan Dinas Perhubungan melakukan rekayasa lalu lintas serta menutup total jalur tersebut demi keselamatan masyarakat, mengingat kondisi tanah di sekitar jembatan yang masih sangat labil dan rawan longsor susulan.
Tak kalah memprihatinkan, pemandangan di wilayah Kelurahan Purwoyoso menunjukkan betapa dahsyatnya terjangan air. Hari ini, ratusan warga dibantu relawan mulai membersihkan sisa-sisa material lumpur pekat yang masuk ke dalam rumah-rumah mereka. Ketebalan lumpur yang mencapai 10 hingga 30 sentimeter menyulitkan proses pembersihan manual, sehingga membutuhkan bantuan semprotan air bertekanan tinggi dari armada Dinas Pemadam Kebakaran. Beberapa rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan struktural yang cukup parah, dengan pagar yang roboh dan kaca-kaca yang pecah akibat hantaman potongan kayu besar yang terbawa arus banjir.
Gangguan mobilitas juga terjadi di jalur-jalur perbukitan seperti kawasan Silayur dan Jalan Yos Sudarso. Sisa-sisa ceceran tanah merah dan lumpur licin yang terbawa aliran air dari perbukitan membuat permukaan aspal menjadi sangat berbahaya bagi pengendara, khususnya roda dua. Untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan lalu lintas yang fatal, Wali Kota Semarang secara langsung menginstruksikan jajaran Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk melakukan gerakan cepat (gercep) pembersihan sisa material tanah menggunakan alat berat dan armada tangki air.
Menanggapi bencana besar ini, Pemerintah Kota Semarang langsung menetapkan status tanggap darurat dan mendirikan beberapa posko kesehatan serta dapur umum di lokasi-lokasi strategis. Wali Kota Semarang menegaskan bahwa fokus utama pemerintah hari ini adalah memastikan seluruh kebutuhan logistik, makanan siap saji, pakaian bersih, dan obat-obatan bagi para pengungsi dapat terpenuhi dengan baik. Selain penanganan jangka pendek berupa pemberian bantuan sosial, Pemkot Semarang juga mulai merancang langkah solutif jangka panjang untuk membenahi sistem drainase kota secara menyeluruh.
Salah satu langkah konkret yang diumumkan oleh Pemkot Semarang hari ini adalah percepatan rencana pembetonan dan normalisasi di beberapa ruas jalan kritis, termasuk rencana betonisasi di Jalan Citarum. Meskipun Jalan Citarum berada di kawasan yang berbeda, Pemkot menilai perbaikan menyeluruh pada jaringan jalan utama yang kerap rusak akibat genangan air merupakan prioritas mutlak untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keselamatan warga di jam-jam sibuk. Pemerintah daerah juga berjanji akan segera membangun tanggul darurat menggunakan kantong pasir (sandbag) dan cerucuk bambu di titik jebolnya Sungai Plumbon sebagai langkah antisipasi jangka pendek sebelum rekonstruksi tanggul permanen dilakukan.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem yang masih mengintai wilayah Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang dan sekitarnya dalam beberapa hari ke depan. BMKG menyebutkan bahwa pola konvergensi udara dan tingginya kelembapan atmosfer memicu pembentukan awan konvektif yang berpotensi mendatangkan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang. Warga yang tinggal di sepanjang bantaran sungai serta daerah lereng perbukitan diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama apabila hujan deras kembali turun dengan durasi lebih dari satu jam. Seluruh elemen masyarakat diharapkan saling berkoordinasi aktif dengan pihak kelurahan dan BPBD demi meminimalkan dampak risiko bencana di kemudian hari.