Harga Bitcoin kembali melemah hingga turun di bawah level US$80.000 pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Pelemahan tersebut terjadi ketika perhatian investor mulai beralih ke kebangkitan saham-saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menjelang pengumuman kinerja keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar dan keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Bitcoin, aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia, tercatat turun hingga 1,4% dan menyentuh level di bawah US$79.280. Penurunan ini memperlihatkan bahwa pasar aset digital masih menghadapi tekanan di tengah perubahan sentimen investor terhadap berbagai instrumen investasi. Sejumlah aset kripto lainnya, termasuk Ether, XRP, dan Solana, juga mengalami pelemahan pada periode perdagangan yang sama.
Pergerakan tersebut terjadi setelah investor menarik dana dalam jumlah besar dari produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot yang tercatat di Amerika Serikat. Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan Bloomberg, produk-produk tersebut mengalami arus keluar dana sebesar US$772,4 juta pada Kamis dan Jumat. Angka ini berbalik tajam dibandingkan aliran dana masuk bersih lebih dari US$1 miliar yang tercatat pada awal pekan.
Perubahan arus dana tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pelaku pasar untuk menilai minat investor terhadap Bitcoin. ETF Bitcoin spot memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap pergerakan harga Bitcoin melalui produk investasi yang diperdagangkan di bursa, tanpa harus membeli dan menyimpan aset kripto secara langsung.
Ketika dana masuk ke ETF meningkat, kondisi tersebut dapat menunjukkan bertambahnya permintaan terhadap produk investasi berbasis Bitcoin. Sebaliknya, penarikan dana dalam jumlah besar dapat mencerminkan berkurangnya minat investor atau keputusan untuk mengurangi risiko di tengah ketidakpastian pasar. Meski demikian, arus dana ETF bukan satu-satunya faktor yang menentukan harga Bitcoin karena perdagangan di pasar kripto juga dipengaruhi likuiditas, aktivitas investor global, dan kondisi ekonomi makro.
Penurunan harga Bitcoin kali ini berlangsung ketika saham-saham teknologi yang berkaitan dengan AI kembali menjadi perhatian pasar. Perkembangan industri AI telah mendorong investor mencermati prospek pertumbuhan perusahaan teknologi, terutama menjelang rilis laporan keuangan sejumlah perusahaan besar pada pekan ini.
Kinerja perusahaan teknologi tersebut berpotensi memengaruhi sentimen pasar secara lebih luas. Investor akan menilai apakah investasi besar dalam pengembangan AI mampu menghasilkan pertumbuhan pendapatan dan keuntungan yang sepadan. Apabila laporan keuangan menunjukkan hasil yang kuat, saham teknologi berpotensi memperoleh dukungan. Namun, apabila kinerja perusahaan berada di bawah ekspektasi, pasar dapat kembali menghadapi tekanan.
Perhatian terhadap saham teknologi juga berlangsung menjelang keputusan kebijakan suku bunga The Fed. Bank sentral Amerika Serikat tersebut memiliki peran penting dalam menentukan kondisi likuiditas global melalui kebijakan moneternya. Perubahan suku bunga dapat memengaruhi biaya pinjaman, imbal hasil obligasi, nilai dolar AS, serta daya tarik berbagai aset investasi.
Dalam kondisi suku bunga tinggi, sebagian investor cenderung lebih berhati-hati terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin dan saham teknologi yang memiliki valuasi tinggi. Hal ini karena instrumen dengan risiko lebih rendah dapat menawarkan imbal hasil yang relatif menarik, sementara biaya pendanaan yang tinggi dapat menekan aktivitas investasi.
Sebaliknya, ekspektasi penurunan suku bunga dapat mendukung minat terhadap aset berisiko apabila investor memperkirakan kondisi likuiditas akan membaik. Namun, respons pasar tidak selalu sama karena keputusan investasi juga bergantung pada prospek ekonomi, inflasi, dan ekspektasi keuntungan perusahaan.
Bitcoin sendiri kerap dipandang sebagai aset berisiko yang sensitif terhadap perubahan sentimen pasar global. Meskipun sebagian investor menganggapnya sebagai instrumen diversifikasi atau penyimpan nilai alternatif, pergerakan harganya masih dapat mengalami fluktuasi tajam dalam waktu singkat. Karena itu, perubahan kondisi makroekonomi maupun arus modal dapat memicu penyesuaian harga yang signifikan.
Pelemahan Bitcoin juga diikuti sejumlah aset kripto besar lainnya. Ether, XRP, dan Solana tercatat mengalami penurunan, yang menunjukkan bahwa tekanan perdagangan tidak hanya terjadi pada satu aset. Ketika investor mengurangi eksposur terhadap pasar kripto, aset-aset dengan karakteristik dan tingkat risiko berbeda dapat ikut terdampak.
Namun, pergerakan harga setiap aset tetap dipengaruhi faktor masing-masing. Ether berkaitan erat dengan perkembangan ekosistem Ethereum, sedangkan XRP memiliki karakteristik dan penggunaan yang berbeda. Solana juga dipengaruhi aktivitas jaringan, perkembangan aplikasi, serta permintaan dalam ekosistemnya. Oleh sebab itu, penurunan yang terjadi secara bersamaan tidak selalu berarti ketiga aset tersebut memiliki prospek jangka panjang yang sama.
Arus keluar ETF Bitcoin spot sebesar US$772,4 juta menjadi perhatian karena menunjukkan perubahan perilaku investor institusional maupun investor yang menggunakan produk investasi tersebut. Akan tetapi, data selama dua hari perdagangan belum cukup untuk memastikan bahwa tren penarikan dana akan berlangsung dalam jangka panjang. Investor masih perlu memperhatikan data arus dana pada sesi berikutnya untuk mengetahui apakah pelemahan tersebut bersifat sementara atau menjadi bagian dari perubahan sentimen yang lebih luas.
Bagi investor, kondisi ini menegaskan pentingnya membedakan pergerakan harga jangka pendek dengan prospek investasi jangka panjang. Penurunan harga tidak otomatis menjadi sinyal untuk membeli, sebagaimana kenaikan harga juga tidak menjamin bahwa tren positif akan terus berlanjut. Keputusan investasi sebaiknya mempertimbangkan toleransi risiko, tujuan keuangan, jangka waktu investasi, serta kemampuan menghadapi volatilitas.
Ke depan, arah Bitcoin akan dipengaruhi kombinasi beberapa faktor, termasuk arus dana ETF, perkembangan pasar saham teknologi, laporan keuangan perusahaan besar, dan keputusan suku bunga The Fed. Jika minat terhadap aset berisiko kembali meningkat dan arus dana masuk ke ETF pulih, Bitcoin berpotensi memperoleh dukungan. Sebaliknya, apabila investor terus menarik dana dan ketidakpastian ekonomi meningkat, tekanan terhadap harga dapat berlanjut.
Dengan demikian, penurunan Bitcoin ke bawah US$80.000 menunjukkan bahwa pasar kripto masih bergerak di tengah perubahan prioritas investasi global. Fokus investor terhadap industri AI dan kebijakan moneter AS menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan dalam beberapa hari ke depan. Meski demikian, arah pergerakan berikutnya masih bergantung pada perkembangan data dan respons pasar, sehingga investor perlu menghindari keputusan terburu-buru hanya berdasarkan fluktuasi harga dalam jangka pendek.