JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis pembaruan analisis dinamika atmosfer dan iklim nasional per 23 Juli 2026 yang mengonfirmasi bahwa puncak musim kemarau kini telah meluas dan mencengkeram lebih dari separuh wilayah Nusantara. Hasil pemantauan dari jaringan stasiun meteorologi di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa penurunan intensitas curah hujan secara drastis ini diperparah oleh munculnya ancaman Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori ekstrem serta potensi angin kencang yang kian meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah.
Berdasarkan data analisis terbaru BMKG, sebanyak 60,5 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah resmi memasuki periode kemarau penuh. Perluasan dampak kekeringan ini membentang luas dari wilayah barat hingga timur Indonesia, mencakup Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, hingga sebagian besar wilayah Sulawesi. BMKG menjelaskan bahwa pergerakan angin monsun Australia yang bersifat kering dan dingin menjadi pemicu utama minimnya pembentukan awan hujan di wilayah-wilayah yang berada di sebelah selatan garis khatulistiwa tersebut.
Hal yang paling menjadi perhatian utama dalam pembaruan data iklim hari ini adalah terdeteksinya titik-titik Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem, yaitu wilayah yang tidak mengalami hujan sama sekali selama lebih dari 60 hari berturut-turut. Fenomena HTH ekstrem ini terkonsentrasi sangat kuat di tiga provinsi utama Pulau Jawa, yakni Jawa Tengah terutama wilayah pesisir selatan dan area lumbung pangan, Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya kawasan Gunungkidul dan Bantul bagian selatan, serta Jawa Timur di wilayah Tapal Kuda dan pulau-pulau di sekitarnya. BMKG menegaskan bahwa kondisi tanpa hujan selama lebih dari dua bulan ini berpotensi memicu kekeringan agronomis yang berdampak langsung pada penurunan produksi pertanian serta krisis ketersediaan air bersih.
Di samping ancaman krisis air, BMKG juga memproyeksikan peningkatan kecepatan angin yang berembus di sejumlah daerah, mulai dari Banten dan Jawa Barat hingga kawasan Indonesia Timur termasuk Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua bagian selatan. Kombinasi antara vegetasi yang mengering akibat HTH ekstrem dan embusan angin kencang ini menciptakan kondisi yang sangat rentan terhadap timbulnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bencana ini tidak hanya merusak ekosistem lokal, tetapi juga berpotensi memicu kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan masyarakat serta melumpuhkan aktivitas penerbangan.
Menghadapi potensi dampak puncak musim kemarau tahun ini, BMKG mendesak pemerintah daerah dan seluruh lapisan masyarakat untuk segera melakukan langkah-langkah penanganan antisipatif secara masif. Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menghemat penggunaan air bersih, menghentikan kebiasaan membakar sampah atau lahan sembarangan, serta menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk menghindari paparan debu. Pada saat yang sama, pemerintah daerah diharapkan dapat bergerak cepat menyalurkan bantuan air bersih ke titik-titik krisis kekeringan dan mengoptimalisasi fungsi penampungan air demi menjamin keselamatan dan kesejahteraan masyarakat hingga masa kemarau berakhir.