Harga Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah mengalami tekanan tajam dalam beberapa pekan terakhir, dengan salah satu pemicu utamanya adalah kekhawatiran investor terhadap laju inflasi Amerika Serikat yang belum juga mereda. Aset kripto terbesar di dunia ini sempat anjlok hingga mendekati level psikologis Rp1 miliar per BTC, menegaskan betapa sensitifnya harga Bitcoin terhadap data ekonomi makro, khususnya inflasi dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve.
Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dirilis lebih tinggi dari perkiraan sempat membuat Bitcoin turun 3 persen dalam 24 jam ke kisaran 58.800 dolar AS, level terendahnya sejak September 2024. Inflasi utama tercatat mencapai 3,8 persen, sementara Core PCE yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik menjadi 3,3 persen secara tahunan, kenaikan terbesar sejak November 2023. Sebelumnya, data Consumer Price Index (CPI) untuk Mei 2026 juga menunjukkan inflasi tahunan naik ke 4,2 persen, level tertinggi sejak awal 2023, dengan lonjakan utama berasal dari sektor energi akibat gejolak geopolitik yang mendorong harga bensin melonjak signifikan.
Kondisi ini membuat pasar semakin ragu bahwa The Fed akan segera memangkas suku bunga acuannya. Padahal, harapan pemangkasan suku bunga selama ini menjadi salah satu bahan bakar utama di balik reli harga Bitcoin sejak tahun lalu. Ketika inflasi tinggi membuat peluang pemangkasan suku bunga kian menyempit, investor cenderung beralih ke instrumen berimbal hasil tetap seperti obligasi dan deposito yang dianggap lebih aman, sehingga daya tarik aset berisiko seperti Bitcoin pun ikut memudar.
Secara mekanisme, hubungan antara inflasi dan harga Bitcoin sebenarnya bekerja melalui ekspektasi suku bunga. Ketika data inflasi keluar lebih tinggi dari ekspektasi pasar, investor mengasumsikan The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk meredam kenaikan harga, sehingga kebijakan moneter dinilai akan tetap ketat. Sebaliknya, saat inflasi melandai, harapan pelonggaran kebijakan moneter meningkat, yang biasanya mendorong minat investor terhadap aset berisiko termasuk kripto. Karena itu, bukan sekadar angka inflasi itu sendiri yang menggerakkan pasar, melainkan seberapa jauh angka aktual menyimpang dari ekspektasi konsensus analis.
Selain faktor inflasi, tekanan pada Bitcoin turut diperberat oleh arus keluar dana yang cukup besar dari ETF spot Bitcoin sepanjang Juni 2026, yang mengindikasikan investor institusi ikut mengurangi eksposur mereka terhadap aset ini. Pergeseran sebagian minat investor dari aset kripto ke saham-saham sektor lain seperti semikonduktor turut menambah tekanan jual di pasar Bitcoin.
Meski sempat tertekan hebat, Bitcoin menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada awal Juli 2026. Setelah jatuh ke kisaran 58.495 dolar AS pada 1 Juli, harga BTC berangsur menanjak ke kisaran 60 ribu, bahkan sempat bertahan di atas 63 ribu dolar AS pada pekan berikutnya, seiring munculnya pernyataan dari Ketua The Fed bahwa risiko inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan. Namun sejumlah analis mengingatkan bahwa pemulihan ini masih rapuh dan sangat bergantung pada konfirmasi data ekonomi selanjutnya, terutama rilis data inflasi CPI periode Juni yang menjadi salah satu katalis penting bagi arah pasar dalam waktu dekat.
Pelaku pasar juga tengah mencermati pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan digelar pada akhir Juli 2026. Probabilitas The Fed menahan suku bunga pada pertemuan tersebut sempat diperkirakan cukup tinggi, bahkan sebagian pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada Oktober 2026 apabila inflasi tidak kunjung mereda. Situasi ini jauh berbeda dari ekspektasi pasar di awal 2026 yang sempat lebih optimistis terhadap kelanjutan pemangkasan suku bunga.
Perlu ditegaskan, artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan atau nasihat untuk membeli maupun menjual aset kripto tertentu. Investasi aset digital mengandung risiko tinggi dan nilainya dapat berubah secara signifikan dalam waktu singkat, sehingga setiap keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada riset mandiri serta konsultasi dengan penasihat keuangan yang kompeten.