China Gelar Simulasi Perang di Selat Taiwan, Taipei Siagakan Sistem Rudal

S Sawalika 30 Jul 2026 1 dilihat 4 menit baca

Ketegangan di Selat Taiwan kembali memuncak setelah China menggelar latihan militer skala besar yang oleh otoritas Taipei disebut sebagai simulasi serangan terhadap wilayah Taiwan. Sebagai respons, militer Taiwan langsung mengaktifkan sistem rudal berbasis darat, mengerahkan kapal perang, serta menerbangkan pesawat pengintai untuk memantau pergerakan pasukan China di sekitar garis median Selat Taiwan.

Latihan militer terbaru yang digelar Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) melibatkan koordinasi antara kapal perusak, fregat, pesawat tempur, hingga pembom strategis. Komando Teater Timur PLA menyatakan latihan tersebut bertujuan menguji kemampuan koordinasi laut-udara serta kapasitas blokade dan pengendalian wilayah secara terpadu. Stasiun televisi negara China, CCTV, melaporkan bahwa tema utama latihan kali ini adalah pemblokiran pelabuhan-pelabuhan utama Taiwan, termasuk Keelung di utara dan Kaohsiung di selatan.

Dalam salah satu rangkaian latihan, militer China meluncurkan puluhan roket dari kawasan Pingtan, pulau China yang letaknya paling dekat dengan Taiwan. Otoritas Taiwan mencatat puluhan roket ditembakkan berturut-turut oleh pasukan China dalam latihan yang berlangsung selama beberapa hari tersebut. PLA menyebut latihan itu turut mencakup identifikasi sasaran, peringatan dini, serangan simulasi terhadap target maritim, hingga operasi anti-udara dan anti-kapal selam.

Yang menarik, latihan ini juga disebut menyasar simulasi serangan terhadap sasaran darat, termasuk sistem roket jenis HIMARS buatan Amerika Serikat yang dimiliki Taiwan dan memiliki jangkauan hingga sekitar 300 kilometer, cukup jauh untuk menjangkau wilayah pesisir selatan China. Seorang pejabat keamanan Taiwan menilai langkah China tersebut sebagai upaya menunjukkan dominasi penuh atas rantai kepulauan di kawasan melalui tekanan militer yang ekstrem.

Menanggapi manuver tersebut, Kementerian Pertahanan Taiwan langsung mengaktifkan sistem rudal berbasis darat sebagai bentuk kesiapsiagaan standar menghadapi ancaman dari China. Militer Taiwan juga mengerahkan pasukan patroli udara, kapal-kapal angkatan laut, serta memperketat pengawasan di sekitar garis median Selat Taiwan yang selama ini berfungsi sebagai batas tidak resmi antara wilayah udara dan laut kedua pihak.

Pola respons semacam ini bukan kali pertama terjadi. Dalam berbagai latihan militer China sebelumnya, Taiwan secara konsisten mengaktifkan sistem rudal darat begitu mendeteksi peningkatan aktivitas pesawat maupun kapal perang China yang melintasi garis median. Taipei menganggap setiap pelintasan garis tersebut sebagai provokasi yang berpotensi meningkatkan risiko konflik terbuka di kawasan.

Latihan militer berskala besar ini turut berdampak signifikan pada penerbangan sipil. Otoritas penerbangan Taiwan melaporkan sebanyak 11 dari 14 rute udara yang biasa digunakan terdampak langsung oleh latihan tersebut, memengaruhi lebih dari seratus ribu penumpang. Jalur udara menuju Jepang menjadi satu-satunya rute yang tetap dibuka penuh, sementara penerbangan menuju Kepulauan Kinmen dan Matsu—dua pulau terdepan Taiwan yang berjarak sangat dekat dengan daratan China—terpaksa ditutup sementara.

Langkah China ini memicu kecaman dari sejumlah negara sekutu Taiwan. Amerika Serikat melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri menyebut aktivitas militer China di sekitar Taiwan sebagai langkah yang tidak diperlukan dan hanya memicu ketegangan yang tidak perlu di kawasan. Washington mendesak Beijing untuk menahan diri, menghentikan aktivitas militer terhadap Taiwan, serta mengutamakan dialog dibandingkan unjuk kekuatan bersenjata.

Selain Amerika Serikat, negara-negara mitra kawasan seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Filipina turut menyampaikan kekhawatiran serupa atas eskalasi yang terjadi. Jepang bahkan dilaporkan semakin mempererat kerja sama pertahanan dengan sejumlah negara di kawasan Indo-Pasifik sebagai antisipasi terhadap kemungkinan skenario krisis di Selat Taiwan pada masa mendatang.

China secara konsisten menganggap Taiwan sebagai bagian tidak terpisahkan dari wilayahnya, meski pulau tersebut telah memerintah dirinya sendiri secara mandiri sejak 1949. Beijing kerap menyebut latihan-latihan militer di sekitar Taiwan sebagai kegiatan rutin dan bersifat defensif untuk menjaga kedaulatan serta keutuhan wilayah dari ancaman gerakan separatisme maupun campur tangan pihak asing.

Namun di sisi lain, pemerintah Taiwan yang dipilih secara demokratis menegaskan hanya rakyat Taiwan sendiri yang berhak menentukan masa depan pulau tersebut. Selat Taiwan, yang juga menjadi salah satu jalur perdagangan maritim tersibuk sekaligus pusat industri semikonduktor global, kini semakin sering menjadi arena unjuk kekuatan antara Beijing dan Taipei—sebuah dinamika yang membuat dunia internasional terus memantau dengan cermat setiap eskalasi baru di kawasan tersebut.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait