Singapura tengah mencatatkan salah satu kinerja ekonomi paling mengesankan di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2026. Didorong oleh gelombang investasi global di bidang kecerdasan buatan (AI), negara kota tersebut berhasil membukukan pertumbuhan yang jauh melampaui perkiraan awal, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai simpul penting dalam rantai pasok teknologi dunia.
Pada 11 Agustus 2026, pemerintah Singapura menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 menjadi 4,5 persen hingga 5,5 persen, naik signifikan dari perkiraan sebelumnya yang hanya 2 hingga 4 persen. Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura menyebutkan bahwa revisi ini mencerminkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan pada paruh pertama tahun ini, serta prospek yang membaik untuk sisa tahun berjalan.
Kenaikan ini merupakan revisi ke atas kedua terhadap proyeksi pertumbuhan, yang awalnya hanya ditetapkan pada kisaran 1 hingga 3 persen tahun lalu. Fakta bahwa pemerintah sampai dua kali menaikkan target dalam waktu singkat menunjukkan betapa cepatnya momentum ekonomi berbalik arah, sebagian besar berkat lonjakan permintaan global terhadap produk dan infrastruktur terkait AI.
Produk Domestik Bruto (PDB) Singapura tumbuh 6,1 persen secara tahunan pada paruh pertama 2026. Secara lebih rinci, ekonomi Singapura tumbuh 5,9 persen pada kuartal kedua dibandingkan tahun sebelumnya, sedikit di atas estimasi awal sebesar 5,7 persen.
Sektor manufaktur menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ini. Sektor tersebut melonjak 12,5 persen pada kuartal kedua, jauh meningkat dibandingkan 7,3 persen pada kuartal pertama. Lonjakan ini dipimpin oleh klaster elektronik dan rekayasa presisi, seiring permintaan global yang tetap kuat terhadap perangkat keras berbasis AI. Selain manufaktur, sektor perdagangan grosir serta jasa keuangan dan asuransi turut menjadi pendorong pertumbuhan.
Peran teknologi AI dalam mendongkrak ekonomi Singapura tidak bisa dilebih-lebihkan. Permintaan global yang kuat terkait AI mendorong aktivitas di klaster elektronik dan rekayasa presisi pada sektor manufaktur, serta segmen mesin, peralatan, dan perlengkapan dalam perdagangan grosir. MTI menyatakan bahwa sejak proyeksi terakhir dipertahankan pada Mei 2026, ledakan investasi AI global ternyata jauh lebih kuat dari perkiraan, memberikan angin segar yang signifikan bagi produksi dan ekspor terkait AI secara global.
Dampak positif ini juga terasa hingga ke tingkat kawasan. Badan Riset Makroekonomi ASEAN+3 (AMRO) memperkirakan sekitar separuh dari total perdagangan terkait AI global melewati kawasan ASEAN+3, dan ekspor terkait AI menyumbang sekitar dua pertiga dari pertumbuhan ekspor kawasan pada kuartal pertama. AMRO turut menaikkan proyeksi pertumbuhan kawasan untuk 2026 menjadi 4,1 persen, dengan alasan permintaan terkait AI yang semakin kuat.
Optimisme terhadap ekonomi Singapura tidak hanya datang dari pemerintah, tetapi juga dari berbagai lembaga riset keuangan terkemuka. UOB Global Economics and Markets Research menaikkan proyeksi pertumbuhan PDB 2026 menjadi 5 persen, dari sebelumnya 4,8 persen, dengan alasan angin segar terkait AI yang terus berlanjut pada paruh kedua tahun ini. DBS Group Research juga menaikkan proyeksinya menjadi 5 persen dari 4,3 persen, sementara Maybank menaikkan proyeksinya menjadi 5,2 persen dari 4,8 persen. Bahkan Nomura Global Markets Research tampil lebih optimistis dengan menaikkan proyeksinya menjadi 5,7 persen dari 4,6 persen.
Denise Cheok, Kepala Ekonomi Asia Tenggara di Moody's Analytics, mengatakan bahwa ekonomi Singapura terbukti lebih tangguh dari perkiraan, sebagian besar karena lonjakan ekspor teknologi yang terkait dengan booming AI. Ia menambahkan bahwa selain chip mutakhir yang digunakan dalam unit pemroses grafis, permintaan terhadap komponen elektronik lain yang diproduksi di Singapura dan negara lain juga mendapat manfaat dari peningkatan permintaan terkait teknologi secara lebih luas.
Meski prospeknya cerah, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai. MTI mencatat bahwa risiko penurunan terhadap ekonomi global masih ada, termasuk dari konflik di Timur Tengah, tindakan tarif tambahan dari Amerika Serikat, serta potensi pergeseran mendadak ke arah penghindaran risiko di pasar keuangan terkait belanja modal AI global.
Otoritas Moneter Singapura (MAS) memperkirakan pertumbuhan akan tetap kuat hingga akhir 2026, meskipun turut menandai keberlanjutan ledakan investasi AI sebagai risiko utama. Selain itu, tekanan inflasi akibat harga energi yang masih tinggi mendorong pemerintah mengambil sejumlah langkah antisipatif, termasuk paket bantuan bagi rumah tangga dan pelaku usaha.
Kombinasi antara lonjakan permintaan global terhadap teknologi AI dan posisi strategis Singapura dalam rantai pasok elektronik dunia telah menciptakan momentum pertumbuhan yang jarang terjadi. Meski tantangan geopolitik dan ketergantungan pada siklus investasi AI tetap menjadi perhatian, para ekonom sepakat bahwa selama tren investasi teknologi global terus berlanjut, ekonomi Singapura berpeluang besar untuk terus melaju kencang di sisa tahun 2026 dan seterusnya.