Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan penguatan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (20/8/2026), sejalan dengan tren pelemahan mata uang Paman Sam yang terjadi di hampir seluruh kawasan Asia. Rupiah ditutup menguat 0,52% atau 92 poin ke level Rp17.747 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.840 per dolar AS. Penguatan ini melanjutkan tren positif yang telah berlangsung dalam beberapa hari perdagangan terakhir.
Pelemahan rupiah dan mata uang Asia lainnya kali ini didorong oleh tekanan yang dialami dolar AS di pasar global. Indeks dolar AS (DXY) tercatat bergerak mendekati level terendah dalam tiga bulan terakhir, bahkan sempat menyentuh kisaran 98,9, level yang paling lemah sejak pertengahan Mei 2026. Tekanan terhadap dolar AS muncul di tengah kekhawatiran investor terhadap langkah-langkah yang diambil Departemen Keuangan AS untuk meredam gejolak di pasar surat utang, setelah imbal hasil obligasi bertenor panjang sempat melonjak ke level tertinggi sejak 2007.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan dikabarkan berencana memperbesar volume pembelian kembali obligasi pemerintah (Treasuries), sehari setelah Departemen Keuangan mengumumkan rencana untuk melipatgandakan skema pembelian tersebut. Langkah ini dinilai sebagai upaya menenangkan pasar, namun di sisi lain justru memicu keraguan investor terhadap arah kebijakan fiskal AS ke depan, sehingga mendorong pelaku pasar mengalihkan dananya ke aset-aset di kawasan Asia yang dianggap lebih menjanjikan.
Dari kawasan Asia, won Korea Selatan tercatat sebagai mata uang dengan penguatan paling tajam terhadap dolar AS, dengan kenaikan mencapai 1,25%. Penguatan won turut diikuti oleh yen Jepang yang naik 0,28%, dolar Singapura yang menguat 0,13%, yuan China yang terapresiasi 0,09%, serta baht Thailand yang naik tipis 0,02%. Sementara itu, tidak seluruh mata uang Asia bergerak searah. Peso Filipina justru melemah 0,05%, ringgit Malaysia turun 0,06%, dan rupee India tertekan 0,07% terhadap dolar AS pada hari yang sama.
Fenomena pelemahan dolar AS yang meluas ke seluruh kawasan ini mencerminkan pergeseran sentimen investor global, yang mulai mempertimbangkan ulang prospek kebijakan moneter dan fiskal Negeri Paman Sam di tengah data ekonomi domestik AS yang belum sepenuhnya solid.
Selain sentimen eksternal, penguatan rupiah juga tidak lepas dari sejumlah faktor domestik. Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Keputusan ini menjadi kebijakan pertama di bawah kepemimpinan Pejabat sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti, yang mengambil alih peran tersebut setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya secara mendadak bulan sebelumnya.
Destry menegaskan bahwa keputusan menahan suku bunga tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak global, termasuk dampak dari konflik yang masih membayangi kawasan Timur Tengah. Ia juga menyampaikan bahwa bank sentral akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang dimiliki, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan perluasan skema insentif lindung nilai, guna menarik lebih banyak arus masuk dana asing ke dalam negeri.
Selain kebijakan moneter, sentimen positif juga datang dari rencana pemerintah untuk memangkas kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi secara signifikan mulai 2027. Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, langkah ini direspons positif oleh pelaku pasar karena dianggap sebagai bagian dari upaya pemerintah memperbaiki postur anggaran negara ke depan, meski di sisi lain kebijakan tersebut berpotensi berdampak pada biaya transportasi dan mobilitas masyarakat, mengingat pengguna BBM bersubsidi jenis Pertalite didominasi oleh masyarakat menengah ke bawah.
Memasuki perdagangan Jumat (21/8/2026), rupiah bahkan tercatat melanjutkan tren positifnya. Berdasarkan data pasar spot, rupiah dibuka menguat ke kisaran Rp17.716 hingga Rp17.737 per dolar AS pada pagi hari, melanjutkan momentum penguatan yang telah berlangsung selama beberapa hari beruntun. Analis memproyeksikan rupiah masih berpeluang bergerak di rentang Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS, dengan pasar turut menantikan rilis data neraca transaksi berjalan Indonesia untuk kuartal II 2026.
Para pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan risalah rapat The Fed bulan Juli, yang mengindikasikan sejumlah pembuat kebijakan masih membuka opsi kenaikan suku bunga apabila inflasi AS tidak kunjung mereda. Kombinasi antara ketidakpastian kebijakan AS dan stabilitas kebijakan domestik inilah yang pada akhirnya membuat rupiah dan sejumlah mata uang Asia mampu tampil solid, di tengah tekanan yang terus membayangi dolar AS.