Pada akhir Agustus hingga awal September 1859, bumi dihantam oleh badai geomagnetik terbesar dalam sejarah pencatatan modern yang dikenal sebagai Peristiwa Carrington (The Carrington Event). Peristiwa alam ini dinamai dari astronom asal Inggris, Richard Carrington, yang secara tidak sengaja menyaksikan dan mencatat kemunculan kilatan cahaya putih raksasa di permukaan matahari melalui teropong teleskopnya. Hanya dalam kurun waktu kurang dari 18 jam, lontaran massa korona (coronal mass ejection) berenergi tinggi tersebut meluncur melintasi ruang angkasa dan membentur medan magnet bumi dengan kekuatan luar biasa.
Dampak langsung dari fenomena astronomi ini memicu kemunculan fenomena aurora borealis dan aurora australis yang sangat terang di wilayah-wilayah yang tidak biasa. Cahaya warna-warni yang biasanya hanya terlihat di kawasan kutub, saat itu membentang hingga ke daerah tropis dan subtropis seperti Karibia, Hawaii, Roma, hingga dekat garis khatulistiwa. Laporan sejarah mencatat bahwa aurora malam itu menyinari langit malam begitu terangnya hingga para pekerja tambang di Amerika Serikat terbangun dan mulai menyiapkan sarapan karena mengira hari telah berganti pagi, sementara masyarakat di berbagai kota dapat membaca surat kabar di luar rumah tanpa bantuan lampu minyak.
Di sektor teknologi yang saat itu masih berada pada tahap awal, Peristiwa Carrington menimbulkan gangguan dahsyat pada jaringan telegraf global—satu-satunya sistem komunikasi elektronik berkecepatan tinggi pada abad ke-19. Arus listrik induksi yang dipicu oleh perubahan medan magnet bumi membuat sirkuit telegraf di seluruh Amerika Utara dan Eropa mengalami korsleting hebat. Percikan api keluar dari alat penerima telegraf, membakar kertas pesan, hingga menyengat para operator telegraf. Bahkan, beberapa saluran telegraf dilaporkan tetap mampu mengirimkan pesan antarstasiun meskipun pasokan baterai utamanya telah dilepas total, hanya memanfaatkan arus listrik alamiah yang mengalir di atmosfer.
Para ilmuwan antariksa dan ahli geofisika modern memperkirakan bahwa jika badai matahari dengan intensitas setara Peristiwa Carrington menghantam bumi saat ini, dampaknya akan jauh lebih destruktif bagi peradaban manusia. Di era digital saat ini, ketergantungan manusia terhadap jaringan satelit navigasi (GPS), telekomunikasi nirkabel, jaringan listrik tegangan tinggi, serta pusat data global membuat infrastruktur modern sangat rentan terhadap gelombang radiasi geomagnetik skala besar. Pemadaman listrik total (blackout) yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan diprediksi dapat terjadi jika transformator utama jaringan listrik mengalami kerusakan permanen.
Sebagai langkah antisipasi, berbagai badan antariksa dunia kini terus memperkuat sistem pemantauan cuaca antariksa (space weather) dengan menempatkan satelit pengamat matahari khusus. Sistem peringatan dini ini dirancang untuk memberikan jeda waktu bagi para pengelola infrastruktur kritikal guna mematikan sementara sistem sirkuit sensitif dan mengamankan satelit sebelum gelombang partikel bermuatan energi tinggi mencapai atmosfer bumi. Peristiwa Carrington 1859 menjadi pengingat penting akan besarnya pengaruh aktivitas matahari terhadap kelangsungan sistem teknologi yang dibangun manusia.