Ekonom AS Tuding Bill Clinton Sengaja Biarkan Rupiah Ambruk dan Soeharto Lengser

H Herman 24 Jun 2026 6 dilihat 3 menit baca

Krisis moneter Asia yang terjadi pada 1997 hingga 1998 menjadi salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah ekonomi Indonesia. Dalam waktu singkat, nilai tukar rupiah mengalami kejatuhan drastis yang mengguncang hampir seluruh sektor ekonomi nasional. Dari sebelumnya berada di kisaran Rp2.400 per dolar Amerika Serikat (AS), nilai rupiah merosot hingga menyentuh sekitar Rp16.000 per dolar AS. Kondisi tersebut menyebabkan harga barang melonjak tajam, banyak perusahaan bangkrut, dan tingkat pengangguran meningkat secara signifikan.

Di tengah situasi yang semakin memburuk, Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, berupaya mencari berbagai solusi untuk menghentikan kejatuhan rupiah. Salah satu langkah yang sempat menjadi perhatian dunia adalah ketika Soeharto menunjuk ekonom asal Amerika Serikat, Steve Hanke, sebagai Chief Economic Advisor. Hanke kemudian menawarkan sebuah konsep yang dikenal sebagai Currency Board System (CBS).

Currency Board System merupakan sistem moneter yang mengaitkan mata uang suatu negara dengan mata uang asing tertentu melalui nilai tukar tetap. Dalam usulan Hanke, rupiah akan dipatok terhadap dolar AS sehingga fluktuasi nilai tukar dapat dikendalikan dan kepercayaan pasar dapat dipulihkan. Menurut Hanke, sistem tersebut berpotensi menghentikan kepanikan yang sedang melanda pasar keuangan Indonesia saat itu.

Namun, gagasan tersebut mendapat penolakan dari berbagai pihak, termasuk International Monetary Fund (IMF). Banyak pihak berpendapat bahwa Indonesia tidak memiliki cadangan devisa yang cukup kuat untuk menjalankan sistem tersebut secara efektif. Selain itu, kondisi ekonomi Indonesia yang sedang terpuruk dinilai belum siap untuk menerapkan kebijakan moneter yang sangat ketat seperti Currency Board System.

Dalam sebuah tulisan yang dipublikasikan oleh Steve Hanke melalui Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) pada tahun 2017, ia mengungkapkan pandangannya mengenai peristiwa tersebut. Hanke menuding bahwa Presiden Amerika Serikat saat itu, Bill Clinton, bersama Direktur Pelaksana IMF Michel Camdessus, secara aktif menekan Soeharto agar membatalkan rencana penerapan Currency Board System.

Menurut Hanke, tekanan tersebut dilakukan dengan ancaman penghentian paket bantuan internasional senilai sekitar 43 miliar dolar AS yang saat itu sangat dibutuhkan Indonesia untuk mengatasi krisis ekonomi. Ia menilai keputusan tersebut bukan semata-mata didasarkan pada pertimbangan ekonomi, melainkan juga memiliki muatan politik yang lebih besar.

Hanke bahkan menyebut bahwa penolakan terhadap Currency Board System merupakan bagian dari upaya yang pada akhirnya berkontribusi terhadap jatuhnya pemerintahan Soeharto. Ia mengklaim bahwa narasi mengenai ketidakmampuan Indonesia menerapkan sistem tersebut terus diulang hingga bertahun-tahun setelah krisis berakhir.

Pernyataan tersebut tentu menimbulkan perdebatan di kalangan ekonom dan pengamat politik internasional. Sebagian pihak menilai bahwa tudingan Hanke terlalu berlebihan dan tidak didukung oleh bukti yang cukup kuat. Mereka berpendapat bahwa kejatuhan ekonomi Indonesia saat itu disebabkan oleh berbagai faktor kompleks, mulai dari lemahnya sistem perbankan, tingginya utang luar negeri sektor swasta, praktik korupsi, hingga menurunnya kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.

Namun demikian, Hanke tetap berpegang pada pandangannya. Ia menunjuk contoh negara lain seperti Bulgaria dan Bosnia yang juga pernah menerapkan Currency Board System dan tetap memperoleh dukungan dari IMF. Menurutnya, fakta tersebut menunjukkan bahwa alasan penolakan terhadap Indonesia tidak sepenuhnya berkaitan dengan aspek teknis ekonomi.

Hingga kini, lebih dari dua dekade setelah krisis moneter berlalu, perdebatan mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik kejatuhan rupiah dan berakhirnya era pemerintahan Soeharto masih menjadi topik yang menarik untuk dibahas. Banyak sejarawan, ekonom, dan pengamat politik terus mencoba memahami berbagai faktor yang berperan dalam salah satu titik balik terbesar dalam sejarah Indonesia modern.

Terlepas dari berbagai teori dan pandangan yang muncul, krisis moneter 1997-1998 meninggalkan pelajaran penting bagi Indonesia tentang pentingnya menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat sistem keuangan nasional, serta membangun kepercayaan pasar agar tidak kembali mengalami gejolak serupa di masa depan.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
H

Ditulis oleh

Herman

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait