Film Horor Malaysia Munafik Melawan Iblis Sukses di Bioskop Indonesia

D Dina 07 Sep 2026 0 dilihat 6 menit baca

Perindustrian perfilman tanah air kembali diramaikan dengan kehadiran film horor religi yang berhasil mencuri perhatian publik. Munafik Melawan Iblis, adaptasi resmi dari film horor Malaysia Munafik (2016) karya Syamsul Yusof, resmi tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 3 September 2026. Hingga hari ini, film tersebut masih mendapat jadwal tayang di berbagai kota dan terus menyedot perhatian pencinta film horor Tanah Air.

Film bergenre horor dan thriller ini disutradarai oleh Guntur Soeharjanto serta diproduseri Oswin Bonifanz di bawah bendera Unlimited Production bersama sejumlah mitra produksi. Dengan durasi 103 menit dan rating D17 atau khusus untuk penonton berusia 17 tahun ke atas, film ini menghadirkan pengalaman menonton yang mencekam tanpa kompromi. Diputar di jaringan bioskop besar seperti Cinema XXI, CGV, dan Cinépolis, Munafik Melawan Iblis langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta film horor.

Kisah dalam film ini berpusat pada sosok Adam, seorang ustaz sekaligus praktisi ruqyah yang tinggal di sebuah desa pesisir dengan nuansa mistis yang kental. Adam diperankan oleh Arya Saloka, aktor yang dikenal luas berkat perannya dalam berbagai sinetron populer. Kehidupan Adam berubah drastis ketika ia mengalami kecelakaan maut dalam perjalanan pulang setelah membantu sebuah keluarga mengusir iblis dari tubuh anak mereka. Peristiwa tragis tersebut merenggut nyawa istrinya, Aini, dan membuat Adam terpuruk dalam kesedihan mendalam. Ia pun memutuskan untuk menghentikan praktik ruqyah dan menarik diri dari dunia yang selama ini ia tekuni.

Namun, kedamaian yang coba ia bangun terusik ketika seorang ustaz bernama Anwar, yang diperankan Dimas Aditya, datang meminta bantuannya. Anwar memohon agar Adam menyelamatkan Fitri, seorang perawat sekaligus putri Haji Mansur, tokoh yang dihormati di desa tempat Adam tinggal. Fitri, yang diperankan oleh Acha Septriasa, mengalami gangguan gaib ekstrem yang mengancam jiwanya. Awalnya Adam menolak permintaan tersebut, tetapi ia akhirnya tergerak untuk kembali menjalani praktik ruqyah setelah mengingat pesan mendiang istrinya. Semakin dalam ia menyelidiki kasus Fitri, semakin banyak rahasia gelap yang terungkap. Adam tidak hanya harus berhadapan dengan teror iblis yang mengerikan, tetapi juga harus menghadapi luka masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam.

Keberhasilan film ini tidak lepas dari deretan pemain berbakat yang terlibat di dalamnya. Arya Saloka tampil meyakinkan sebagai Adam yang berduka sekaligus berjuang mempertahankan keimanannya di tengah badai ujian hidup. Acha Septriasa juga menonjol dalam peran Fitri dengan kontrol tubuh dan perubahan gestur saat kerasukan yang terasa natural dan mencekam tanpa ekspresi berlebihan. Selain kedua nama besar tersebut, film ini juga dibintangi oleh Dimas Aditya, Faqih Alaydrus, Donny Damara, dan Nova Eliza. Donny Damara sebagai Haji Mansur dan Nova Eliza menghadirkan karakter ambigu yang menarik meski ruang eksplorasi mereka terbilang terbatas.

Dari segi penceritaan, film ini berhasil menanamkan nuansa Indonesia yang kuat melalui praktik ruqyah dan kultur masyarakat yang akrab dengan gangguan supranatural. Pemilihan latar di Pacitan, Jawa Timur, memberikan atmosfer yang mendukung teror yang dibangun. Suasana pedesaan, rumah-rumah warga, lanskap alam, serta kesunyian lingkungan membuat setiap adegan teror terasa lebih alami dan dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia. Film ini pun tidak sekadar mengandalkan adegan jumpscare murahan. Ritual ruqyah menjadi salah satu sumber ketegangan utama karena Adam harus menghadapi kondisi Fitri yang semakin sulit dikendalikan.

Namun, di balik berbagai kelebihannya, film ini juga memiliki sejumlah catatan. Beberapa pengamat film menilai bahwa fokus cerita yang awalnya kuat pada Adam, Fitri, dan gangguan gaib mulai melebar menjelang akhir dengan terlalu banyak karakter, konflik tambahan, dan plot twist yang membuat alur menjadi lebih rumit. Tema utama tentang kemunafikan—keselarasan antara ucapan, perilaku, dan keimanan—kurang digali secara mendalam dibandingkan versi asli Malaysia. Film ini dinilai lebih sibuk mengejar misteri "siapa iblisnya" ketimbang mempertanyakan mengapa manusia bisa bersikap munafik.

Meskipun demikian, sambutan dari penonton Indonesia terbilang sangat positif. Seorang penonton bahkan memberikan rating 9 dari 10 untuk film ini dan mengaku sangat ketakutan sepanjang tayangan. "Sebenarnya saya takut menonton film seram produksi Indonesia karena bagi saya itu lebih menyeramkan dibanding film seram Hollywood. Tetapi hari ini saya berani menonton karena bersama teman," ujar seorang penonton. Namun kehadiran teman pun tidak banyak membantu menghilangkan rasa takutnya. "Tetapi tetap saja saya ketakutan karena filmnya memang sangat menyeramkan," tambahnya. Ia juga memuji adegan-adegan dalam film yang membuat penonton merinding, terkejut, hingga berteriak keras karena karakter iblis yang muncul sangat menakutkan, ada yang melayang dan merayap di dinding serta langit-langit rumah.

Di sisi lain, performa film ini di box office juga patut diperhitungkan. Pada hari pertama penayangan, Kamis 3 September 2026, Munafik Melawan Iblis berhasil mengumpulkan 137.211 penonton. Angka ini jauh mengungguli perolehan film horor Hollywood Insidious: Out of The Further yang hanya mendapatkan lebih dari 29 ribu penonton pada hari yang sama. Dominasi film Hollywood tersebut selama tiga minggu berturut-turut di daftar film terlaris harian pun akhirnya berakhir. Kesuksesan ini menjadikan Munafik Melawan Iblis sebagai film Indonesia dengan pembukaan terbesar di antara film-film lokal yang tayang bersamaan pada hari itu, bahkan berhasil melewati debut film Harusnya Horror yang sebelumnya mencatatkan 129.175 penonton pada hari pertama.

Namun demikian, pada hari kedua penayangan, Jumat 4 September 2026, jumlah penonton film ini turun drastis menjadi hanya 55.114 jiwa atau drop lebih dari 54 persen dibanding hari sebelumnya. Penurunan ini terjadi secara umum pada hampir semua film yang tayang pada hari tersebut. Meski begitu, performa awal yang impresif ini tetap membuka peluang bagi film garapan Guntur Soeharjanto untuk mencatatkan jumlah penonton besar selama masa tayang di bioskop.

Kehadiran Munafik Melawan Iblis juga menjadi bagian dari gelombang baru film horor hasil kerja sama produksi Indonesia-Malaysia yang tengah mendominasi box office di kedua negara. Film ini diproduksi oleh Unlimited Production bersama Skop Productions serta didukung oleh Legacy Pictures dan AZ Films. Setelah sukses di Indonesia, film ini dijadwalkan akan tayang di Malaysia mulai 1 Oktober 2026 mendatang. Sebelum penayangan perdana secara nasional, film ini juga telah diperkenalkan melalui Festival Film Munafik di sepuluh kota dengan seluruh tiket terjual habis.

Dengan segala daya tarik yang ditawarkan, mulai dari cerita yang dekat dengan kultur lokal, akting para pemain yang mumpuni, hingga atmosfer horor yang mencekam, Munafik Melawan Iblis layak menjadi salah satu tontonan wajib bagi pecinta film horor Tanah Air. Film ini membuktikan bahwa adaptasi dari IP besar asal Malaysia dapat dihadirkan dengan sentuhan lokal yang kuat tanpa kehilangan esensi ketegangan yang membuat film horor religi begitu diminati.

 

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
D

Ditulis oleh

Dina

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait