Harga Pertamax Diperkirakan Turun Jadi Rp15.500 per Liter pada Juli 2026

H Herman 30 Jun 2026 11 dilihat 3 menit baca

Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax diperkirakan mengalami penurunan pada periode penyesuaian harga per 1 Juli 2026. Sejumlah ekonom memprediksi harga Pertamax yang saat ini masih berada di level lebih tinggi berpotensi turun menjadi sekitar Rp15.500 per liter. Prediksi tersebut muncul seiring dengan penurunan harga minyak mentah dunia yang dalam beberapa waktu terakhir bergerak di kisaran US$69 hingga US$72 per barel.

Penurunan harga minyak dunia memberikan angin segar bagi konsumen di Indonesia. Sebab, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak internasional. Ketika harga minyak mentah mengalami penurunan, biaya pengadaan dan produksi BBM juga ikut berkurang sehingga memungkinkan adanya penyesuaian harga jual kepada masyarakat.

Namun demikian, potensi turunnya harga Pertamax tidak sepenuhnya terjamin. Faktor lain yang sangat berpengaruh adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor minyak dan produk BBM karena transaksi perdagangan internasional sebagian besar menggunakan mata uang dolar AS. Akibatnya, meskipun harga minyak dunia turun, depresiasi rupiah dapat mengurangi dampak positif dari penurunan tersebut.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengungkapkan bahwa rata-rata harga minyak Brent sepanjang tahun berjalan mencapai US$87,9 per barel. Selain itu, rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp17.195 per dolar AS. Berdasarkan data tersebut, Josua menghitung bahwa harga keekonomian Pertamax diperkirakan berada di sekitar Rp16.444 per liter jika menggunakan formulasi harga BBM nonsubsidi yang berlaku saat ini.

Perhitungan harga keekonomian tersebut menunjukkan bahwa harga jual Pertamax masih dipengaruhi oleh berbagai komponen, mulai dari harga minyak mentah, biaya pengolahan, distribusi, hingga kurs rupiah. Oleh karena itu, meskipun terdapat peluang penurunan harga menjadi Rp15.500 per liter, keputusan akhir tetap akan mempertimbangkan kondisi pasar dan kebijakan pemerintah serta Pertamina.

Bagi masyarakat, kabar mengenai kemungkinan turunnya harga Pertamax tentu menjadi berita yang menggembirakan. Penurunan harga BBM dapat mengurangi beban pengeluaran rumah tangga, khususnya bagi pengguna kendaraan pribadi yang rutin menggunakan Pertamax. Selain itu, biaya operasional pelaku usaha yang bergantung pada transportasi juga berpotensi menurun sehingga dapat memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi.

Harga BBM yang lebih rendah juga dapat membantu mengendalikan inflasi. Selama ini, kenaikan harga energi sering kali memicu kenaikan harga barang dan jasa lainnya karena meningkatnya biaya distribusi. Sebaliknya, ketika harga BBM turun, tekanan terhadap inflasi dapat berkurang sehingga daya beli masyarakat berpotensi meningkat.

Meski demikian, para pengamat ekonomi mengingatkan bahwa volatilitas pasar minyak global masih cukup tinggi. Situasi geopolitik, kebijakan negara-negara produsen minyak, hingga kondisi ekonomi global dapat menyebabkan harga minyak kembali naik sewaktu-waktu. Oleh sebab itu, masyarakat dan pelaku usaha tetap perlu mewaspadai berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi harga BBM di masa mendatang.

Secara keseluruhan, estimasi penurunan harga Pertamax menjadi Rp15.500 per liter pada Juli 2026 merupakan dampak positif dari melandainya harga minyak mentah dunia. Akan tetapi, faktor nilai tukar rupiah masih menjadi tantangan utama yang dapat menghambat penurunan harga tersebut. Keputusan resmi mengenai harga Pertamax nantinya akan sangat bergantung pada perkembangan harga minyak internasional dan stabilitas nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
H

Ditulis oleh

Herman

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait