Setelah delapan tahun memimpin Federal Reserve, Jerome Powell resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai Ketua bank sentral Amerika Serikat kemarin pada Jumat, 15 Mei 2026 waktu setempat.
Kepergian Powell dari kursi tertinggi Federal Reserve menandai berakhirnya salah satu periode kepemimpinan paling penuh ujian dalam sejarah ekonomi modern. Selama dua periode, ia memimpin Amerika Serikat menghadapi pandemi global, lonjakan inflasi tertinggi dalam empat dekade, gejolak pasar keuangan, hingga tekanan politik yang menguji independensi lembaga moneter paling berpengaruh di dunia.
Powell pertama kali ditunjuk oleh Donald Trump pada 2018, lalu kembali dipercaya oleh Joe Biden untuk menjalani masa jabatan kedua pada 2022. Dukungan lintas pemerintahan tersebut mencerminkan kepercayaan besar terhadap kemampuannya menjaga stabilitas ekonomi di tengah situasi yang sering kali tak menentu.
Kepemimpinan Powell ditandai oleh tiga momen penting yang membentuk warisannya.
Ketika pandemi COVID-19 mengguncang dunia pada 2020 dan menyebabkan jutaan warga Amerika kehilangan pekerjaan, Federal Reserve di bawah arahannya bergerak cepat. Suku bunga dipangkas hingga mendekati nol persen, sementara likuiditas dalam jumlah besar disuntikkan ke sistem keuangan untuk mencegah krisis yang lebih dalam. Langkah itu membantu menjaga denyut ekonomi tetap hidup ketika dunia nyaris berhenti berputar.
Namun, perjalanan Powell tidak sepenuhnya mulus. Pada 2021, ia sempat menilai lonjakan inflasi pasca-pandemi hanya bersifat sementara. Pandangan tersebut kemudian terbukti terlalu optimistis. Ketika inflasi menembus 9,1 persen, Federal Reserve terpaksa melakukan siklus kenaikan suku bunga paling agresif dalam beberapa dekade.
Meski sempat dikritik, Powell pada akhirnya dipuji karena berhasil menurunkan inflasi tanpa mendorong ekonomi Amerika ke jurang resesi. Pencapaian ini dikenal sebagai soft landing, sebuah hasil yang sebelumnya dianggap sulit dicapai bahkan oleh banyak ekonom senior.
Yang membuat transisi kali ini semakin menarik adalah keputusan Powell untuk tetap bertahan di Federal Reserve sebagai anggota Dewan Gubernur. Berbeda dengan banyak pendahulunya yang memilih mundur sepenuhnya setelah masa jabatan sebagai ketua berakhir, Powell memutuskan untuk melanjutkan tugas hingga masa jabatannya sebagai gubernur berakhir pada Januari 2028.
Keputusan ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menjaga kesinambungan kebijakan moneter dan mempertahankan independensi bank sentral dari dinamika politik yang terus berubah.
“Saya yakin Federal Reserve harus selalu membuat keputusan berdasarkan analisis yang ketat, bukan pertimbangan politik,” ujar Powell dalam pernyataan perpisahannya.
Keputusan tersebut diambil di tengah meningkatnya sorotan terhadap proyek renovasi markas Federal Reserve senilai 2,5 miliar dolar AS yang sedang ditinjau oleh United States Department of Justice. Powell menegaskan bahwa integritas lembaga harus tetap dijaga di atas segala kepentingan.
Tongkat estafet kini berpindah kepada Kevin Warsh, mantan gubernur Federal Reserve yang telah memperoleh persetujuan United States Senate. Warsh akan menghadapi tantangan besar, mulai dari tekanan inflasi global, ketegangan geopolitik, hingga kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi Amerika tetap sehat.
Powell menyatakan bahwa dirinya akan mengambil peran yang tenang dan tidak akan menjadi “ketua bayangan.” Meski demikian, kehadirannya di ruang rapat Federal Reserve diperkirakan tetap menjadi sumber stabilitas dan pengalaman yang berharga.
Bagi pasar keuangan global, Jerome Powell bukan sekadar pejabat bank sentral. Ia adalah sosok yang memegang kemudi ketika badai ekonomi datang silih berganti. Dengan gaya tenang, keputusan yang sering kali sulit, dan komitmen terhadap independensi lembaga, Powell meninggalkan jejak yang akan terus dikenang dalam sejarah kebijakan moneter dunia.
Era kepemimpinannya telah berakhir, tetapi warisan sang penjaga stabilitas ekonomi Amerika akan tetap terasa dalam setiap keputusan Federal Reserve di tahun-tahun mendatang.