Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Indonesia menjadi salah satu persoalan paling serius yang mendapat perhatian pada September 2026. Dampak kebakaran tidak hanya terlihat dari luas wilayah yang terbakar dan munculnya kabut asap, tetapi juga mulai terasa pada kesehatan masyarakat. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan jumlah kasus gangguan pernapasan yang berkaitan dengan kebakaran meningkat lebih dari dua kali lipat hanya dalam waktu sekitar satu pekan.
Hingga 9 September 2026, lebih dari 113.000 orang dilaporkan mengalami gangguan pernapasan yang berkaitan dengan kebakaran. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan sekitar 50.891 kasus yang tercatat pada 1 September.
Lonjakan tersebut menjadi perhatian karena kebakaran tahun ini terjadi di tengah kondisi cuaca yang sangat panas dan kering. Sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan menjadi kawasan yang paling terdampak, sementara asap juga mulai memberikan dampak terhadap negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Reuters melaporkan bahwa musim kebakaran tahun ini disebut sebagai salah satu yang terparah dalam lebih dari satu dekade. Kondisi tersebut diperburuk oleh suhu tinggi dan kekeringan yang berkaitan dengan fenomena super-El Niño.
Lebih dari 12,5 juta orang di tujuh provinsi dilaporkan telah terpapar asap dan kabut akibat kebakaran. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran maupun wilayah yang terkena dampak asap.
Pemerintah kemudian meningkatkan langkah penanganan kesehatan. Hampir satu juta masker telah disalurkan untuk masyarakat, sementara ratusan konsentrator oksigen dan ribuan tenaga medis juga dikerahkan ke wilayah terdampak.
Dampak Karhutla Tidak Hanya pada Lingkungan
Karhutla selama ini sering dipandang sebagai persoalan lingkungan karena berkaitan dengan kerusakan hutan, lahan gambut, emisi karbon, dan hilangnya habitat satwa. Namun, kondisi tahun ini memperlihatkan bahwa kebakaran juga telah berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat.
Asap hasil pembakaran dapat membawa berbagai partikel dan polutan yang masuk ke saluran pernapasan. Paparan dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang telah memiliki masalah kesehatan tertentu.
Ketika konsentrasi polutan meningkat, masyarakat dapat mengalami berbagai keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, hingga gangguan pernapasan yang membutuhkan penanganan medis.
Peningkatan jumlah kasus dari sekitar 50.000 menjadi lebih dari 113.000 dalam waktu singkat menunjukkan bahwa dampak kesehatan dapat berkembang dengan cepat apabila kebakaran terus berlangsung.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan titik api. Pemerintah juga harus memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan kesehatan selama kualitas udara memburuk.
Kebakaran Meluas di Sumatera dan Kalimantan
Sumatera dan Kalimantan menjadi dua kawasan yang paling banyak mengalami dampak kebakaran. Kedua wilayah tersebut memiliki kawasan hutan dan lahan yang luas sehingga ketika terjadi musim kering berkepanjangan, risiko kebakaran dapat meningkat.
Kondisi tanah yang kering membuat api lebih mudah menyebar. Di wilayah tertentu, kebakaran lahan gambut juga menjadi tantangan tersendiri karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan secara cepat.
Asap dari kebakaran kemudian dapat terbawa angin menuju wilayah lain. Akibatnya, daerah yang jauh dari lokasi titik api juga dapat mengalami penurunan kualitas udara.
Fenomena tersebut membuat karhutla menjadi masalah lintas wilayah. Pemerintah daerah harus bekerja sama dengan pemerintah pusat untuk melakukan pemadaman dan mengurangi paparan masyarakat terhadap asap.
Dampaknya bahkan tidak berhenti di wilayah Indonesia. Kabut asap dilaporkan telah memengaruhi negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.
Jepang Ikut Membantu Penanganan
Besarnya skala kebakaran juga mendorong bantuan internasional. Jepang dilaporkan mengirimkan tiga helikopter CH-47 Chinook untuk membantu operasi pemadaman melalui udara di Kalimantan Barat.
Penggunaan pesawat atau helikopter dalam operasi pemadaman menjadi penting ketika titik api berada di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Pesawat dapat membawa air dan menjatuhkannya langsung ke kawasan yang terbakar sehingga membantu mempercepat proses pemadaman.
Namun, operasi pemadaman udara tetap harus dilakukan bersamaan dengan penanganan dari darat. Tanpa pengendalian sumber api, kebakaran dapat kembali muncul setelah operasi pemadaman selesai.
Selain itu, kondisi cuaca juga menjadi faktor penting. Angin kencang dan suhu tinggi dapat membuat api kembali membesar serta menyulitkan petugas dalam mengendalikan kebakaran.
Luas Lahan Terbakar Terus Menjadi Perhatian
Data yang dikutip Reuters menunjukkan sekitar 202.000 hektare lahan telah terbakar sepanjang Januari hingga Juli 2026. Organisasi lingkungan YKAN memperkirakan terdapat tambahan sekitar 600.000 hektare lahan yang terbakar pada Agustus.
Angka tersebut menunjukkan betapa besar skala persoalan yang harus dihadapi Indonesia.
Besarnya area yang terbakar juga berpotensi meningkatkan emisi karbon. Kebakaran hutan dan lahan dapat melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer, terutama ketika terjadi pada kawasan hutan dan lahan gambut.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi komitmen Indonesia dalam mengurangi emisi dan mencapai target lingkungan. Jika kebakaran terus berlangsung dalam skala besar, target pengurangan emisi dapat semakin sulit dicapai.
Selain persoalan emisi, kerusakan ekosistem juga menjadi konsekuensi jangka panjang. Hutan yang terbakar membutuhkan waktu untuk kembali pulih. Kehilangan vegetasi dapat memengaruhi habitat satwa dan meningkatkan risiko degradasi lahan.
Tekanan terhadap Pemerintah Meningkat
Meningkatnya kasus gangguan pernapasan memberikan tekanan tambahan kepada pemerintah untuk mempercepat penanganan karhutla.
Pemerintah tidak hanya dituntut memadamkan kebakaran, tetapi juga memastikan masyarakat mendapatkan informasi yang akurat mengenai kondisi udara. Informasi tersebut penting agar masyarakat dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada dalam kondisi buruk.
Fasilitas kesehatan di wilayah terdampak juga harus dipersiapkan menghadapi peningkatan jumlah pasien dengan keluhan pernapasan.
Dalam kondisi ekstrem, pemerintah dapat mempertimbangkan berbagai langkah perlindungan masyarakat, termasuk distribusi masker, penyediaan ruang dengan udara yang lebih bersih, penguatan layanan kesehatan, hingga pembatasan aktivitas tertentu jika kondisi memburuk.
Namun, solusi jangka panjang tetap berada pada upaya mencegah kebakaran sejak awal.
Pencegahan Lebih Penting daripada Pemadaman
Pengalaman tahun ini menunjukkan bahwa Indonesia perlu memperkuat sistem pencegahan karhutla. Pemantauan titik panas, patroli kawasan rawan, pengelolaan lahan gambut, serta penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal menjadi bagian penting dalam strategi tersebut.
Perusahaan dan masyarakat di kawasan rawan kebakaran juga memiliki peran penting dalam mencegah munculnya titik api.
Perubahan iklim dan kondisi cuaca ekstrem dapat membuat risiko kebakaran semakin sulit diprediksi. Karena itu, sistem peringatan dini perlu terus dikembangkan agar pemerintah dapat bertindak sebelum kebakaran berkembang menjadi bencana besar.
Karhutla juga menunjukkan hubungan erat antara persoalan lingkungan, kesehatan, dan ekonomi. Ketika kebakaran membesar, masyarakat dapat mengalami gangguan kesehatan, aktivitas ekonomi terganggu, transportasi dapat terdampak, sementara pemerintah harus mengeluarkan biaya besar untuk pemadaman dan penanganan korban.
Kondisi tersebut membuat pencegahan kebakaran menjadi jauh lebih penting dibandingkan hanya mengandalkan operasi pemadaman ketika bencana sudah meluas.
Untuk saat ini, pemerintah masih menghadapi tantangan besar dalam mengendalikan kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Lonjakan kasus gangguan pernapasan menjadi peringatan bahwa dampak karhutla sudah menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Dengan lebih dari 113.000 kasus gangguan pernapasan tercatat hingga 9 September dan jutaan orang terpapar asap, penanganan karhutla perlu dilakukan secara cepat dan terkoordinasi.
Bukan hanya pemerintah pusat dan daerah, tetapi juga masyarakat, perusahaan, organisasi lingkungan, serta negara-negara mitra perlu bekerja sama untuk mengurangi dampak kebakaran.
Jika kebakaran dapat segera dikendalikan, risiko kesehatan dan kerusakan lingkungan dapat ditekan. Namun, jika kondisi panas dan kering terus berlanjut sementara titik api masih bermunculan, Indonesia harus bersiap menghadapi dampak yang lebih luas terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, dan perekonomian.
Fakta terbaru mengenai lonjakan gangguan pernapasan ini menunjukkan bahwa karhutla bukan sekadar masalah kebakaran hutan. Ini telah menjadi persoalan kesehatan publik dan lingkungan yang membutuhkan penanganan serius.