Krisis Yen, BOJ Dituntut Bertindak Cepat

S Sawalika 01 Sep 2026 0 dilihat 4 menit baca

Mata uang yen Jepang kembali bergejolak dalam beberapa pekan terakhir, memaksa otoritas moneter dan fiskal Tokyo turun tangan dengan langkah-langkah yang jarang terjadi. Yen sempat anjlok ke level terlemah dalam empat dekade, mendekati 164 per dolar AS, sebelum akhirnya Jepang dan Amerika Serikat melakukan intervensi bersama untuk membeli yen—langkah koordinasi pertama semacam ini sejak 1998. Meski intervensi tersebut sempat mendorong yen menguat hingga mendekati 155 per dolar dalam reli empat sesi berturut-turut, tekanan struktural yang mendasarinya belum benar-benar teratasi, dan mata uang Jepang kembali melemah ke kisaran 158–159 per dolar hanya dalam hitungan hari.

Pelemahan yen bukan fenomena baru, melainkan hasil akumulasi dari kesenjangan suku bunga yang lebar antara Jepang dan Amerika Serikat. Suku bunga kebijakan Bank of Japan (BOJ) saat ini berada di level 1,0 persen, tertinggi sejak September 1995, sementara suku bunga acuan Federal Reserve AS berada jauh lebih tinggi di kisaran 3,50–3,75 persen. Selisih besar ini mendorong investor global menjalankan strategi carry trade: meminjam dalam yen berbunga rendah untuk kemudian diinvestasikan pada aset berimbal hasil lebih tinggi di negara lain. Akibatnya, arus modal terus mengalir keluar dari Jepang, menambah tekanan jual terhadap yen.

Selain kesenjangan suku bunga, yen juga tertekan oleh kekhawatiran fiskal yang meningkat, biaya energi dan impor yang tinggi, serta lonjakan pembelian minyak mentah yang turut menggerus surplus neraca berjalan Jepang. Data terbaru menunjukkan surplus neraca berjalan Jepang menyempit pada Juni, meski ekspor produk elektronik terkait kecerdasan buatan (AI) tetap kuat.

Menariknya, intervensi kali ini melibatkan Amerika Serikat secara langsung—sesuatu yang jarang terjadi dalam sejarah modern. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan dukungan tegas terhadap langkah Jepang, menyebut Washington "tidak akan ragu untuk berpartisipasi dalam intervensi bersama lebih lanjut" jika diperlukan. Ia juga secara terbuka mendesak BOJ untuk mempercepat kenaikan suku bunga guna mengoreksi apa yang disebutnya sebagai "undervaluasi substansial" pada yen.

Sinyal dari Washington ini mengubah kalkulasi pasar secara signifikan. Sebagian analis, termasuk dari Mizuho Securities, menilai intervensi bersama tersebut secara tidak langsung menciptakan semacam "utang budi" Jepang kepada AS, sehingga kemungkinan BOJ menaikkan suku bunga pada pertemuan September—bukan Desember seperti perkiraan sebelumnya—semakin besar. Pasar bahkan telah memasukkan probabilitas sekitar 60 persen bahwa BOJ akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen pada pertemuan berikutnya.

Bank of Japan sendiri berada dalam posisi serba sulit. Di satu sisi, risalah rapat BOJ Juni dan Juli menunjukkan kekhawatiran yang terus meningkat terhadap risiko inflasi yang melampaui target 2 persen, didorong oleh kenaikan harga minyak mentah yang cepat merambat ke harga konsumen serta pasar tenaga kerja yang ketat. Survei BOJ bahkan mencatat lebih dari 83 persen responden memperkirakan harga-harga akan lebih tinggi setelah satu tahun ke depan. Gubernur BOJ Kazuo Ueda telah memberikan sinyal paling eksplisit sejauh ini bahwa kenaikan suku bunga lebih awal dapat terjadi, meski bank sentral tetap mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan Juli lalu dengan voting 8-1—satu anggota dewan, Hajime Takata, bahkan mendesak kenaikan langsung ke 1,25 persen.

Di sisi lain, BOJ juga harus mempertimbangkan dampak sistemik dari kenaikan suku bunga yang terlalu agresif. Jika Jepang mengakhiri era suku bunga ultra-rendah secara tiba-tiba, hal ini berisiko memicu pembalikan besar-besaran pada carry trade global senilai triliunan dolar, yang dapat mengguncang pasar keuangan dunia. Ada pula kekhawatiran bahwa jika Jepang—sebagai salah satu pemegang obligasi pemerintah AS terbesar—terpaksa menjual aset Treasury-nya untuk mendanai intervensi mata uang secara sepihak, hal itu bisa memicu lonjakan imbal hasil obligasi AS yang tidak diinginkan.

Para ekonom memperingatkan bahwa jika BOJ terus menunda tindakan tegas, kredibilitasnya sebagai penjaga stabilitas harga bisa dipertaruhkan. Ekonom kepala Allianz, Mohamed El-Erian, menegaskan bahwa kunci untuk memperbaiki "kesalahan harga" pada mata uang adalah mendapatkan bauran kebijakan yang tepat, dan semakin lama Jepang menunda langkah tersebut, semakin sulit pula tujuan dari intervensi bersejarah ini tercapai.

Dengan pertemuan kebijakan September yang kini menjadi sorotan utama pasar global, dunia menanti apakah Bank of Japan akan benar-benar mengambil langkah tegas menaikkan suku bunga, atau kembali memilih kehati-hatian yang selama ini menjadi ciri khasnya—sebuah keputusan yang konsekuensinya akan terasa jauh melampaui batas-batas Jepang sendiri.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait