Mengkhawatirkan, Mata Satelit Tunjukkan Mencairnya Es Greenland dan Antartika Secara Drastis

S Sawalika 20 Sep 2026 0 dilihat 3 menit baca

Data pemantauan satelit terbaru kembali mengonfirmasi sebuah kenyataan yang sulit dibantah: lapisan es di Greenland dan Antartika, dua wadah air beku terbesar di planet ini, terus menyusut dengan laju yang mengkhawatirkan. Temuan ini bukan sekadar catatan ilmiah biasa, melainkan alarm keras bagi masa depan garis pantai di seluruh dunia.

Sebuah studi baru yang menggabungkan data dari 27 misi satelit berhasil merekonstruksi riwayat perubahan massa es sejak akhir 1970-an, jauh lebih panjang dari catatan sebelumnya yang hanya dimulai pada 1990-an. Dengan menggabungkan satelit milik Badan Antariksa Eropa (ESA) dan NASA, para ilmuwan mampu memetakan volume lapisan es di Antartika sejak 1979 dan di Greenland sejak 1972.

Hasilnya sangat mengejutkan. Sepanjang periode 1979 hingga 2023, Greenland dan Antartika bersama-sama kehilangan sekitar 11,3 triliun ton es, sebuah jumlah yang menambah 3,14 sentimeter pada kenaikan permukaan laut global. Dari total kehilangan tersebut, Greenland menyumbang kehilangan terbesar dengan sekitar 6.215 miliar ton, sementara Antartika kehilangan sekitar 4.780 miliar ton sepanjang periode penelitian.

Yang membuat temuan ini semakin serius adalah polanya. Pada dekade 1970-an hingga 1990-an, kondisi lapisan es relatif stabil, namun pencairan kemudian mulai terjadi dan meningkat tajam memasuki tahun 2010-an. Bahkan menurut data lain, laju kehilangan es meningkat hingga empat kali lipat selama periode 1980-an sampai 2010-an.

Salah satu temuan paling penting dari riset ini adalah soal penyebab utama hilangnya es. Selama ini banyak orang mengasumsikan pencairan es kutub terutama disebabkan oleh suhu udara yang memanas. Namun kenyataannya berbeda. Sekitar 84 persen kehilangan massa es berkaitan dengan perubahan dinamika gletser, terutama meningkatnya aliran es dari daratan menuju laut, bukan dari lelehan di permukaan akibat udara panas.

Ilmuwan es dari Universitas California, Irvine, Eric Rignot, yang terlibat dalam studi ini menegaskan bahwa lapisan es benar-benar mencair dengan cepat. Fenomena ini didorong terutama oleh air laut yang lebih hangat, yang mengikis lapisan es dari bawah dan sisi-sisinya, sehingga gletser mengalir lebih cepat ke lautan. Salah satu contoh paling dramatis adalah Gletser Jakobshavn di Greenland, yang kini menyusut hingga 50 meter per hari.

Ismail Otosaka, salah satu peneliti dalam kolaborasi internasional ini, menjelaskan bahwa terdapat tren yang jelas berupa lapisan es yang terus kehilangan lebih banyak massa dari dekade ke dekade, khususnya pada es yang dilepaskan ke laut, dan hal itu memiliki kaitan erat dengan perubahan iklim.

Menariknya, data terbaru menunjukkan adanya perlambatan sementara pada periode 2020 hingga 2023. Di Antartika Timur, hujan salju yang lebih tinggi dari biasanya menambah massa es sehingga menutupi sebagian kehilangan es dari gletser di wilayah lain, sementara musim panas yang relatif lebih sejuk di Greenland turut mengurangi pencairan di permukaan. Es laut Antartika pada 2026 pun tercatat sedikit membaik dibanding beberapa tahun terakhir yang mengalami penurunan sangat tajam.

Namun para peneliti buru-buru mengingatkan agar publik tidak salah membaca kabar ini sebagai tanda pemulihan. Kondisi tersebut kemungkinan besar hanya variasi jangka pendek, bukan pembalikan dari tren jangka panjang. Ilmuwan NASA, Walt Meier, juga menekankan bahwa fluktuasi semacam ini bukan hal yang mengejutkan mengingat besarnya variasi tahunan pada es laut Antartika sepanjang catatan satelit.

Badan Antariksa Eropa mencatat bahwa Greenland dan Antartika kini bersama-sama menyumbang sekitar seperempat dari total kenaikan permukaan laut global. Angka ini menjadi peringatan serius, mengingat jutaan penduduk di wilayah pesisir dunia—termasuk banyak kota besar di Indonesia—sangat rentan terhadap kenaikan air laut sekalipun hanya beberapa sentimeter.

Data satelit yang semakin panjang dan akurat ini memberi para ilmuwan gambaran yang jauh lebih jelas tentang bagaimana lapisan es merespons pemanasan global, khususnya pemanasan lautan. Sayangnya, gambaran itu justru memperkuat kekhawatiran bahwa proses pencairan es kutub tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, melainkan terus berlanjut seiring meningkatnya suhu bumi akibat aktivitas manusia.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Umat Hindu di Seluruh Indonesia Merayakan Hari Raya Pagerwesi 2026 dengan Peneguhan Iman dan Tradisi Kebersamaan

Umat Hindu di Seluruh Indonesia Merayakan Hari Raya Pagerwesi 2026 dengan Peneguhan Iman dan Tradisi Kebersamaan

BALI — Umat Hindu di berbagai wilayah Indonesia merayakan perayaan suci Hari Raya Pagerwesi pada Rabu, 4 November 2026. Hari suci yang dirayakan setiap 210 hari sekali pada Somiswara wuku Watugunung ini menjadi puncak dari rangkaian hari suci keagamaan yang...

04 Nov 2026

Peringatan Hari Kerohanian Nasional 2026 Menjadi Momentum Merawat Toleransi dan Kerukunan Bangsa di Tengah Keberagaman

Peringatan Hari Kerohanian Nasional 2026 Menjadi Momentum Merawat Toleransi dan Kerukunan Bangsa di Tengah Keberagaman

JAKARTA — Bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Kerohanian Nasional yang jatuh pada Selasa, 3 November 2026. Peringatan tahunan ini menjadi pengingat krusial bagi seluruh lapisan masyarakat untuk terus merawat toleransi interaksi antarumat beragama, menghormati hak beribadah, serta memperkokoh persatuan nasional...

03 Nov 2026

Gerebek Kampung Bahari Tim Gabungan Polda Metro Jaya bersama BNN Amankan Puluhan Pelaku dan Mesin Pencetak Ekstasi

Gerebek Kampung Bahari Tim Gabungan Polda Metro Jaya bersama BNN Amankan Puluhan Pelaku dan Mesin Pencetak Ekstasi

JAKARTA — Aparat kepolisian dari Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya bersama Bareskrim Polri dan Badan Narkotika Nasional (BNN) melancarkan penggerebekan berskala besar di kawasan Kampung Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Minggu, 1 November 2026. Operasi mendadak yang digelar...

02 Nov 2026

Terobosan Program Perumahan MBR: Kementerian PKP Buka Peluang Bantuan Bedah Rumah bagi Penghuni Rumah Kontrakan

Terobosan Program Perumahan MBR: Kementerian PKP Buka Peluang Bantuan Bedah Rumah bagi Penghuni Rumah Kontrakan

JAKARTA, 2 NOVEMBER 2026 — Langkah konkrit kembali dihadirkan pemerintah dalam meretas persoalan pemukiman layak huni di tanah air. Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) secara resmi meluncurkan skema terobosan baru dalam program bantuan pembenahan rumah swadaya atau bedah rumah....

02 Nov 2026