Menjaga Syahdu Waisak di Borobudur Saat Kuota Turis Dibatasi Ketat

N Nair 30 Mei 2026 16 dilihat 2 menit baca

Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, perayaan Waisak di Borobudur terasa berbeda — lebih sunyi, lebih bermakna, dan lebih dalam. Tapi siapa yang boleh hadir, dan siapa yang harus rela mengalah?

Ada sesuatu yang berubah di Borobudur musim Waisak ini. Tidak ada desak-desakan di pelataran candi. Tidak ada tongkat selfie yang menjulang di antara stupa. Yang ada: cahaya lilin, kidung puja, dan ribuan umat yang hadir dengan niat berbeda dari sekadar wisata.

Pembatasan kuota kunjungan yang diterapkan pengelolaan Borobudur beberapa waktu lalu menuai pro dan kontra. Di satu sisi, candi yang masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO ini memang membutuhkan perlindungan dari erosi akibat kunjungan masif. Setiap tahun jutaan langkah kaki menapaki batu purba yang usianya lebih dari seribu tahun.

Di sisi lain, pembatasan itu menimbulkan pertanyaan soal aksesibilitas. Siapa yang berhak hadir? Mereka yang mampu membayar tiket dengan harga lebih tinggi? Atau umat Buddha yang datang jauh-jauh untuk beribadah, bukan untuk foto-foto?

Pemerintah dan pengelola tampaknya bergerak ke arah zonasi: area ritual yang dilindungi untuk keperluan ibadah, zona wisata dengan kapasitas terkontrol, dan program edukasi untuk meningkatkan kualitas kunjungan — bukan sekadar kuantitas.

Borobudur bukan hanya milik Indonesia. Dia milik kemanusiaan. Dan justru karena itu, cara kita menjaganya adalah cermin dari seberapa dewasa kita memperlakukan warisan yang tidak bisa dibangun ulang. Paling tidak, tahun ini, candi itu bisa kembali bernapas — dan yang hadir bisa benar-benar mendengarnya.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
N

Ditulis oleh

Nair

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Resmi Dibangun, PSEL Kota Bekasi Mampu Olah 1.500 Ton Sampah Jadi Energi Listrik per Hari

Resmi Dibangun, PSEL Kota Bekasi Mampu Olah 1.500 Ton Sampah Jadi Energi Listrik per Hari

JAKARTA – Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi secara resmi memulai proyek pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) berskala masif. Infrastruktur modern yang berlokasi di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu ini diproyeksikan mampu mengolah volume limbah hingga 1.500...

28 Agu 2026

Survei Efektivitas Hybrid Working Pola Kerja Fleksibel Sukses Naikkan Retensi Karyawan di Industri Startup dan Media Digital

Survei Efektivitas Hybrid Working Pola Kerja Fleksibel Sukses Naikkan Retensi Karyawan di Industri Startup dan Media Digital

JAKARTA — Penerapan pola kerja fleksibel ( hybrid working ) terbukti memberikan dampak positif yang signifikan terhadap stabilitas tenaga kerja di sektor teknologi dan media digital Indonesia. Berdasarkan hasil survei efektivitas tata kelola kerja terbaru pada kuartal III 2026, perusahaan...

27 Agu 2026

Demo 27 Agustus 2026 Digelar di Sejumlah Titik Jakarta, RUU Perampasan Aset Jadi Salah Satu Tuntutan

Demo 27 Agustus 2026 Digelar di Sejumlah Titik Jakarta, RUU Perampasan Aset Jadi Salah Satu Tuntutan

Aksi demonstrasi berlangsung di sejumlah titik Jakarta pada 27 Agustus 2026, dengan kawasan Gedung DPR/MPR RI menjadi salah satu lokasi utama.

27 Agu 2026

Momen Haru Deddy Corbuzier Melepas Sang Ibunda, Ditemani Keluarga di Tengah Suasana Duka

Momen Haru Deddy Corbuzier Melepas Sang Ibunda, Ditemani Keluarga di Tengah Suasana Duka

Sebagai seorang pengamat dan penulis yang mengikuti dinamika dunia hiburan, hari ini, Rabu (26/08/2026), saya mendapati sebuah kabar yang menyentuh hati. Presenter sekaligus figur publik ternama, Deddy Corbuzier , tengah berduka mendalam setelah sang ibunda tercinta, Ibu Heniwaty, mengembuskan napas...

27 Agu 2026