Rasa bosan bisa menghinggapi siapa saja, termasuk mereka yang bekerja di ketinggian puluhan ribu kaki di atas permukaan bumi. Itulah yang dialami seorang pilot instruktur dari Flight Training Adelaide, Australia, yang pada suatu pagi di bulan Februari memutuskan untuk melampiaskan kejenuhannya dengan cara yang tidak biasa: menuliskan pesan "I'M BORED" alias "aku bosan" langsung di langit, menggunakan lintasan terbang pesawatnya sendiri.
Kejadian unik ini bermula dari tugas rutin yang sebenarnya cukup membosankan. Pilot tersebut lepas landas dari Bandara Parafield, di utara Adelaide, sekitar pukul 08.53 pagi waktu setempat menggunakan pesawat latih jenis Diamond Star. Tujuan penerbangannya adalah menguji atau "melapangkan" (running in) mesin baru pesawat tersebut, sebuah prosedur standar yang biasanya mengharuskan pilot terbang berputar-putar di kecepatan tertentu selama beberapa jam sebelum pesawat itu resmi digunakan untuk latihan terbang siswa.
Alih-alih terbang dalam pola lurus yang membosankan, sang pilot memilih rute berkelok yang jika dilihat dari atas membentuk huruf demi huruf. Selama hampir tiga jam mengudara, dari pukul 08.53 hingga 11.57, ia mengarahkan pesawatnya membentuk lintasan yang kemudian terbaca sebagai kalimat "I'M BORED" di atas wilayah Princes Highway, Australia Selatan. Direktur Flight Training Adelaide, Pine Pienaar, saat dimintai konfirmasi media setempat hanya menanggapi santai bahwa rute tersebut memang tidak direncanakan secara resmi, namun sang pilot rupanya "sedang bosan". "Namanya juga instruktur muda, mau bagaimana lagi," ujarnya.
Yang membuat aksi ini semakin menarik adalah cara orang-orang mengetahuinya. Pesan "aku bosan" itu sama sekali tidak terlihat oleh warga yang berada di darat, sebab jaraknya terlalu tinggi dan tidak membentuk jejak asap seperti pertunjukan udara pada umumnya. Pesan tersebut hanya bisa terdeteksi lewat aplikasi pelacak penerbangan berbasis GPS seperti FlightAware dan Flightradar24, yang merekam setiap pergerakan pesawat secara real time dan menampilkannya dalam bentuk garis lintasan di peta digital. Para penggemar dunia penerbangan yang kebetulan sedang memantau radar itulah yang pertama kali menyadari ada sesuatu yang aneh dengan pola terbang pesawat tersebut, lalu menangkap layarnya dan menyebarkannya ke media sosial hingga akhirnya diberitakan oleh sejumlah media internasional.
Fenomena pilot "menggambar" di langit lewat lintasan GPS ternyata bukan hal yang benar-benar baru. Menurut pihak FlightAware, cukup umum bagi pilot untuk berkreasi menelusuri kata atau gambar tertentu saat terbang, mulai dari lambang hati untuk lamaran romantis, ucapan selamat ulang tahun, hingga bentuk-bentuk unik lainnya yang muncul di sistem pelacakan mereka. Fenomena ini bahkan disamakan dengan tren di kalangan pelari dan pesepeda yang menggunakan aplikasi pelacak seperti Strava untuk membentuk gambar tertentu di peta kota lewat rute yang mereka tempuh.
Dari sisi keamanan penerbangan, otoritas setempat menegaskan bahwa aksi semacam ini tergolong tidak biasa namun bukan pelanggaran serius, selama pilot tetap mematuhi seluruh aturan keselamatan penerbangan yang berlaku. Juru bicara Otoritas Keselamatan Penerbangan Sipil Australia (CASA), Peter Gibson, menjelaskan bahwa setiap pilot pada dasarnya memang merencanakan lintasan terbang dari titik keberangkatan ke tujuan, namun bagaimana bentuk lintasan itu ketika muncul di radar adalah hal lain. Selama pesawat diterbangkan dengan aman dan sesuai prosedur, bentuk pola terbangnya bukan menjadi masalah utama bagi otoritas penerbangan.
Seorang pensiunan pilot Qantas A380, Chris Wilson, turut memberikan pandangannya. Ia menilai aksi tersebut sebagai sesuatu yang jarang ia temui sepanjang kariernya, namun secara umum tergolong aman karena pilot tetap mengikuti jalur GPS yang telah direncanakan. Menurutnya, kemungkinan besar pelakunya adalah pilot muda yang sedang mengumpulkan jam terbang dan mencari cara untuk mengusir kebosanan selama tugas rutin yang monoton.
Terlepas dari kontroversi kecil soal izin rute yang tidak resmi, kisah pilot "aku bosan" ini pada akhirnya menjadi pengingat ringan bahwa di balik kokpit pesawat, ada manusia biasa yang juga bisa merasa jenuh dengan rutinitas pekerjaannya. Bedanya, jika kebanyakan orang melampiaskan kebosanan lewat obrolan singkat dengan rekan kerja atau menonton video di ponsel, pilot ini memilih cara yang jauh lebih megah: menuliskan perasaannya langsung di kanvas langit, menggunakan pesawat seberat ratusan kilogram sebagai penanya sendiri.