Bank investasi global Morgan Stanley kembali memangkas proyeksi harga minyak dunia untuk kedua kalinya dalam kurun waktu sekitar dua pekan. Keputusan tersebut diambil setelah muncul sejumlah faktor yang dinilai dapat meningkatkan risiko kelebihan pasokan atau oversupply di pasar energi global. Beberapa faktor utama yang menjadi perhatian adalah kembali normalnya jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz, tingginya produksi dan ekspor minyak Amerika Serikat, serta melemahnya permintaan dari China.
Dalam laporan terbarunya, Morgan Stanley memperkirakan harga Dated Brent, yang menjadi salah satu acuan utama dalam transaksi minyak fisik dunia, akan berada pada rata-rata US$75 per barel pada kuartal ketiga dan kuartal keempat tahun 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya, dengan penurunan sebesar US$15 per barel untuk kuartal ketiga dan US$5 per barel untuk kuartal keempat.
Tidak hanya itu, lembaga keuangan tersebut juga memangkas proyeksi harga minyak untuk seluruh kuartal pada tahun mendatang. Bahkan, Morgan Stanley memperkirakan harga Dated Brent hanya akan mencapai sekitar US$70 per barel pada akhir tahun 2027. Revisi tersebut menunjukkan adanya kekhawatiran yang semakin besar terhadap kondisi pasar minyak global dalam jangka menengah.
Salah satu faktor utama yang mendorong perubahan proyeksi tersebut adalah kembali normalnya aktivitas pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Selat ini merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia karena menjadi rute utama pengiriman minyak dari negara-negara Timur Tengah menuju berbagai pasar internasional. Sebelumnya, pasar sempat khawatir terhadap gangguan distribusi yang dapat memicu lonjakan harga minyak. Namun, pemulihan yang lebih cepat dari perkiraan justru membuat kekhawatiran tersebut mereda dan meningkatkan potensi bertambahnya pasokan minyak di pasar.
Selain itu, Morgan Stanley juga menyoroti tingginya produksi dan ekspor minyak dari Amerika Serikat. Dalam beberapa tahun terakhir, AS berhasil meningkatkan kapasitas produksinya secara signifikan dan menjadi salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Tingginya produksi tersebut menyebabkan pasokan minyak global terus bertambah, terutama ketika permintaan di sejumlah negara utama tidak mengalami peningkatan yang seimbang.
Faktor lain yang menjadi perhatian adalah melemahnya permintaan minyak dari China. Sebagai salah satu konsumen energi terbesar di dunia, kondisi ekonomi China memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan harga minyak global. Perlambatan ekonomi, melemahnya sektor properti, serta menurunnya aktivitas industri di negara tersebut membuat permintaan terhadap minyak tidak tumbuh sesuai ekspektasi pasar.
Kombinasi antara pasokan yang melimpah dan permintaan yang melemah berpotensi menciptakan kondisi kelebihan pasokan di pasar minyak dunia. Dalam situasi seperti ini, harga minyak biasanya mengalami tekanan karena jumlah minyak yang tersedia lebih besar dibandingkan kebutuhan konsumsi.
Penurunan harga minyak sebenarnya dapat memberikan dampak positif bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Harga energi yang lebih rendah berpotensi mengurangi biaya impor bahan bakar dan membantu mengendalikan inflasi. Selain itu, sektor transportasi dan industri juga dapat memperoleh manfaat dari penurunan biaya operasional.
Namun, di sisi lain, harga minyak yang terlalu rendah dapat memberikan dampak negatif bagi negara-negara produsen minyak dan perusahaan energi. Pendapatan dari sektor migas berpotensi menurun sehingga memengaruhi investasi di bidang eksplorasi dan produksi energi. Penurunan harga yang berkepanjangan juga dapat mengurangi kontribusi sektor energi terhadap pertumbuhan ekonomi global.
Para analis menilai bahwa pergerakan harga minyak dalam beberapa bulan mendatang masih akan sangat dipengaruhi oleh kondisi geopolitik, kebijakan produksi negara-negara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), serta perkembangan ekonomi di negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China.
Meskipun Morgan Stanley telah memangkas proyeksi harga minyak, pasar energi tetap memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi. Perubahan kondisi geopolitik, gangguan pasokan, atau pemulihan ekonomi yang lebih cepat dari perkiraan dapat mengubah arah pergerakan harga minyak dalam waktu singkat.
Karena itu, pelaku pasar dan pemerintah di berbagai negara perlu terus memantau perkembangan situasi global. Prediksi mengenai risiko oversupply yang disampaikan Morgan Stanley menjadi peringatan bahwa keseimbangan antara pasokan dan permintaan minyak dunia masih menjadi tantangan utama bagi pasar energi internasional dalam beberapa tahun ke depan.