Niat Manfaatkan Limbah Organik, Mengapa Sisa MBG Justru Mematikan Bagi Ikan?

S Sawalika 25 Agu 2026 0 dilihat 4 menit baca

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah sejak awal 2025 memang membawa berkah bagi jutaan anak sekolah, ibu hamil, dan balita di seluruh Indonesia. Namun di balik dapur-dapur besar yang beroperasi setiap hari, muncul persoalan baru yang jarang dibahas: ke mana perginya sisa makanan dan air limbah dari ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut? Niat baik memanfaatkan sisa makanan sebagai pakan ikan justru berujung petaka di sejumlah daerah, dengan ikan-ikan yang mati massal setelah "diberi makan" limbah MBG.

Salah satu kasus yang sempat viral di media sosial terjadi ketika seorang peternak berniat menghemat biaya pakan dengan membeli nasi sisa MBG dalam jumlah besar untuk kolam ikannya. Alih-alih menekan pengeluaran, seluruh ikan di kolam tersebut justru ditemukan mati mendadak dan mengambang di permukaan air. Video bangkai ikan yang beredar luas ini memicu pertanyaan besar dari warganet: sejak kapan ikan konsumsi diberi pakan nasi begitu saja tanpa pengolahan lebih lanjut?

Kasus serupa juga terjadi di sejumlah pekon atau desa, di mana warga mengeluhkan ikan-ikan peliharaan mereka mati massal setelah air limbah dari dapur MBG mengalir ke saluran irigasi yang terhubung dengan kolam mereka. Meski pengelola dapur setempat menyatakan bahwa yang dibuang hanyalah air bekas cucian peralatan masak, fakta bahwa dapur tersebut belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) menjadi sorotan utama.

Secara ilmiah, ada beberapa alasan mengapa limbah organik dari dapur MBG bisa berbahaya bagi ekosistem perairan jika tidak diolah dengan benar.

Pertama, kandungan bahan organik dalam sisa makanan sangat tinggi, mulai dari nasi, sisa sayur, lemak, hingga protein hewani. Ketika bahan-bahan ini masuk langsung ke air dalam jumlah besar, mikroorganisme pengurai akan bekerja keras memecahnya. Proses penguraian ini menyedot oksigen terlarut dalam air secara drastis. Air limbah dengan kadar BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) yang tinggi, bila masuk ke kolam atau sungai tanpa pengolahan, akan menciptakan kondisi anoksik atau kekurangan oksigen. Ikan yang bergantung pada oksigen terlarut untuk bernapas pun mati lemas.

Kedua, nasi dan sisa makanan yang diberikan langsung sebagai pakan, tanpa proses fermentasi atau pengolahan ulang, dapat mengendap di dasar kolam dan membusuk. Pembusukan ini menghasilkan gas beracun seperti amonia dan hidrogen sulfida yang sangat toksik bagi ikan, bahkan dalam konsentrasi rendah sekalipun.

Ketiga, air limbah dapur industri bukan sekadar "air kotor biasa". Selain sisa bahan pangan, air tersebut juga mengandung minyak, lemak, deterjen dari proses pencucian, dan dalam kasus tertentu residu bahan kimia lain. Lapisan minyak dan lemak yang mengapung di permukaan air dapat menghalangi pertukaran oksigen antara udara dan air, memperparah kondisi kekurangan oksigen di dalam kolam.

Sebenarnya, gagasan memanfaatkan sisa makanan MBG sebagai sumber pakan bukanlah ide yang keliru. Beberapa pihak, termasuk Kantor Staf Kepresidenan, sudah mendorong pemanfaatan sisa makanan sebagai bahan baku budi daya maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF), yang kemudian bisa diolah menjadi pakan ikan dan ternak berkualitas tinggi dengan kandungan protein sekitar 35 persen. Sejumlah peternak bahkan berhasil menekan biaya operasional secara signifikan dengan mengandalkan sisa makanan MBG yang diolah lewat maggot, ampas tahu untuk pakan sapi, hingga kotoran ternak yang dijadikan pupuk.

Perbedaan mendasar antara kisah sukses dan kisah gagal ini terletak pada satu kata: pengolahan. Sisa makanan yang langsung dibuang ke kolam atau saluran air tanpa melalui proses biokonversi, fermentasi, atau penyaringan lemak dan padatan justru menjadi racun bagi ekosistem perairan. Sebaliknya, sisa makanan yang diproses lebih dulu, misalnya melalui maggot BSF atau instalasi pengolahan air limbah sederhana, mampu menjadi sumber daya ekonomi yang bernilai tanpa merusak lingkungan.

Dengan potensi limbah pangan program MBG yang diperkirakan mencapai ribuan ton per hari secara nasional, persoalan ini bukan lagi isu kecil. Tanpa standar pengolahan limbah yang jelas di setiap dapur MBG serta edukasi kepada masyarakat yang ingin memanfaatkan sisa makanan sebagai pakan, niat baik untuk mengurangi sampah dan menghemat biaya justru bisa berbalik menjadi bencana lingkungan dan kerugian ekonomi, seperti yang dialami para peternak ikan yang kehilangan seluruh hasil budi dayanya dalam semalam.

Pelajaran dari berbagai kejadian ini jelas: memanfaatkan limbah organik memang langkah yang tepat menuju ekonomi sirkular, tetapi tanpa pengolahan yang benar, niat baik itu bisa berubah menjadi ancaman nyata bagi kehidupan di air.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait