Terbaru
Paris Membara Gelombang Panas Dini 33°C Paksa Kota Mode Tetapkan Status Waspada “Salmokji” Pecahkan Rekor 23 Tahun, Film Horor Korea Ini Picu Demam Wisata Uji Nyali Investigasi Berlanjut Cuaca Ekstrem Diduga Kuat Jadi Pemicu Blackout Massal di Sumatera Mitos atau Fakta? Ahli Gizi Ungkap Kandungan Kolesterol Daging Kambing Game Kingdom Come Baru Dikabarkan Target Rilis Tahun Depan, Fans RPG Mulai Hype Duduk Perkara Anggaran Kurban Habiburokhman Tegaskan Bantuan Sapi Kurban Presiden dari APBN Tidak Menyalahi Aturan Hukum Industri Otomotif Indonesia 2026 Berubah Drastis, Mobil Listrik China Mulai Kuasai Pasar Era Baru Layanan Korlantas SIM Digital Resmi Rilis, Cek Pakai QR dan Perpanjangan Kini Bisa Online Paris Membara Gelombang Panas Dini 33°C Paksa Kota Mode Tetapkan Status Waspada “Salmokji” Pecahkan Rekor 23 Tahun, Film Horor Korea Ini Picu Demam Wisata Uji Nyali Investigasi Berlanjut Cuaca Ekstrem Diduga Kuat Jadi Pemicu Blackout Massal di Sumatera Mitos atau Fakta? Ahli Gizi Ungkap Kandungan Kolesterol Daging Kambing Game Kingdom Come Baru Dikabarkan Target Rilis Tahun Depan, Fans RPG Mulai Hype Duduk Perkara Anggaran Kurban Habiburokhman Tegaskan Bantuan Sapi Kurban Presiden dari APBN Tidak Menyalahi Aturan Hukum Industri Otomotif Indonesia 2026 Berubah Drastis, Mobil Listrik China Mulai Kuasai Pasar Era Baru Layanan Korlantas SIM Digital Resmi Rilis, Cek Pakai QR dan Perpanjangan Kini Bisa Online

Pantai Kartika di Sultra Hancur Dirusak Keserakahan Tambang

D Dina 28 Mei 2026 9 dilihat 3 menit baca

Pantai Kartika yang dulu menjadi surga wisata di Sulawesi Tenggara kini tinggal kenangan. Keindahan alam hasil karya Tuhan yang pernah memukau setiap mata yang memandangnya berubah drastis menjadi pemandangan memilukan. Aktivitas pertambangan yang diduga tidak terkendali telah meluluhlantakkan kawasan pesisir tersebut, menyisakan kerusakan ekologis yang sulit diperbaiki.

Lokasi yang dulunya ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara itu sekarang hanya menyisakan tumpukan lumpur, genangan air keruh, dan lubang-lubang bekas galian tambang. Pohon-pohon rindang yang dulu menjadi tempat berteduh berguguran tak tersisa. Suara debur ombak yang menenangkan kini berganti dengan deru mesin alat berat dan truk pengangkut material tambang yang hilir mudik sepanjang hari.

Pantai Kartika sebenarnya memiliki potensi wisata yang sangat besar. Hamparan pasir putihnya yang lembut, air laut berwarna biru kehijauan, serta terumbu karang yang masih hidup menjadikannya salah satu destinasi favorit di Sultra. Banyak keluarga menghabiskan akhir pekan di sini, anak-anak bermain air, sementara para nelayan melaut dengan perahu tradisional mereka. Potret kedamaian itu sekarang benar-benar lenyap.

Kerusakan mulai terlihat sejak beberapa tahun terakhir, saat izin usaha pertambangan mulai diterbitkan untuk kawasan di sekitar pantai. Perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah tersebut diduga mengabaikan aturan sempadan pantai dan tidak menjalankan kewajiban reklamasi. Limbah tambang berupa tanah, batu, dan material sisa pencucian mineral dibuang begitu saja ke aliran sungai kecil yang bermuara tepat di Pantai Kartika. Akibatnya, air laut menjadi keruh, terumbu karang mati, dan biota laut menghilang.

Nelayan setempat mengaku pendapatan mereka kini merosot tajam. Ikan yang biasanya melimpah di perairan Pantai Kartika seolah menghilang. Tidak hanya itu, perahu-perahu kecil mereka seringkali rusak terkena material tajam sisa tambang yang terbawa arus laut. Beberapa nelayan terpaksa beralih profesi menjadi buruh tambang dengan upah yang tidak menentu.

Sektor pariwisata yang sebelumnya menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir juga runtuh total. Penginapan, warung makan, dan penyewaan perahu wisata tutup satu per satu karena tidak ada lagi wisatawan yang berani datang. Bau menyengat dari limbah tambang serta pemandangan pantai yang rusak menjadi alasan utama tidak ada lagi orang yang ingin berkunjung.

Warga sekitar yang merasa tidak berdaya sempat melaporkan kondisi ini ke berbagai pihak. Mulai dari pemerintah desa, kecamatan, hingga dinas lingkungan hidup setempat. Namun hingga saat ini tidak ada tindakan nyata yang diambil. Bahkan aktivitas tambang justru semakin masif. Truk-truk besar datang dan pergi setiap hari, menggali lebih dalam dan merusak lebih luas.

Aktivis lingkungan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang sempat melakukan kajian lapangan menyebut bahwa kerusakan Pantai Kartika sudah memasuki tahap kritis. Pemulihan alami akan membutuhkan waktu puluhan tahun, itupun jika aktivitas tambang segera dihentikan. Mereka meminta pemerintah provinsi untuk mencabut izin tambang yang beroperasi di kawasan sempadan pantai serta meminta penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan yang terjadi.

Sementara itu, pihak perusahaan tambang belum memberikan keterangan resmi. Beberapa kali wartawan mencoba menghubungi perwakilan perusahaan, namun hingga berita ini diturunkan belum ada jawaban. Warga setempat justru menerima ancaman dan intimidasi setelah beberapa kali menggelar aksi protes kecil-kecilan.

Kerusakan Pantai Kartika bukanlah kasus pertama di Indonesia. Banyak pantai indah di berbagai daerah yang mengalami nasib serupa akibat tambang. Namun tragedi ini menjadi pengingat bahwa alam tidak bisa diperkosa terus-menerus tanpa ada konsekuensi. Jika keserakahan tambang tidak segera dihentikan, maka bukan hanya Pantai Kartika yang akan lenyap, tetapi juga masa depan anak cucu yang berhak menikmati keindahan bumi Indonesia.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
D

Ditulis oleh

Dina

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait