Terbaru
Lanskap Politik Indonesia 2026: Antara Informasi Cepat dan Partisipasi Kritis Konser Musik Bertabur Bintang Internasional Resmi Diadakan di Jakarta Era Baru Dunia Medis, Rumah Sakit Indonesia Resmi Uji Coba Operasi Jarak Jauh Berbasis AI dan Jaringan 5G Revolusi Transportasi Publik, Kereta Cepat Jalur Selatan Resmi Beroperasi Komersial Menuju Transisi Energi Bersih, Indonesia Resmi Operasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung Terbesar di Asia Tenggara Tonggak Baru Pertahanan Maritim, Indonesia Bersiap Sambut Kapal Induk Pertama "KRI Gajah Mada" Menyoroti Transformasi Pertahanan Laut, Kapal Induk Pertama Indonesia Resmi Sandang Nama KRI Gajah Mada Momen Haru Deddy Corbuzier Melepas Sang Ibunda, Ditemani Keluarga di Tengah Suasana Duka Lanskap Politik Indonesia 2026: Antara Informasi Cepat dan Partisipasi Kritis Konser Musik Bertabur Bintang Internasional Resmi Diadakan di Jakarta Era Baru Dunia Medis, Rumah Sakit Indonesia Resmi Uji Coba Operasi Jarak Jauh Berbasis AI dan Jaringan 5G Revolusi Transportasi Publik, Kereta Cepat Jalur Selatan Resmi Beroperasi Komersial Menuju Transisi Energi Bersih, Indonesia Resmi Operasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung Terbesar di Asia Tenggara Tonggak Baru Pertahanan Maritim, Indonesia Bersiap Sambut Kapal Induk Pertama "KRI Gajah Mada" Menyoroti Transformasi Pertahanan Laut, Kapal Induk Pertama Indonesia Resmi Sandang Nama KRI Gajah Mada Momen Haru Deddy Corbuzier Melepas Sang Ibunda, Ditemani Keluarga di Tengah Suasana Duka

Pantai Kartika di Sultra Hancur Dirusak Keserakahan Tambang

D Dina 28 Mei 2026 24 dilihat 3 menit baca

Pantai Kartika yang dulu menjadi surga wisata di Sulawesi Tenggara kini tinggal kenangan. Keindahan alam hasil karya Tuhan yang pernah memukau setiap mata yang memandangnya berubah drastis menjadi pemandangan memilukan. Aktivitas pertambangan yang diduga tidak terkendali telah meluluhlantakkan kawasan pesisir tersebut, menyisakan kerusakan ekologis yang sulit diperbaiki.

Lokasi yang dulunya ramai dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara itu sekarang hanya menyisakan tumpukan lumpur, genangan air keruh, dan lubang-lubang bekas galian tambang. Pohon-pohon rindang yang dulu menjadi tempat berteduh berguguran tak tersisa. Suara debur ombak yang menenangkan kini berganti dengan deru mesin alat berat dan truk pengangkut material tambang yang hilir mudik sepanjang hari.

Pantai Kartika sebenarnya memiliki potensi wisata yang sangat besar. Hamparan pasir putihnya yang lembut, air laut berwarna biru kehijauan, serta terumbu karang yang masih hidup menjadikannya salah satu destinasi favorit di Sultra. Banyak keluarga menghabiskan akhir pekan di sini, anak-anak bermain air, sementara para nelayan melaut dengan perahu tradisional mereka. Potret kedamaian itu sekarang benar-benar lenyap.

Kerusakan mulai terlihat sejak beberapa tahun terakhir, saat izin usaha pertambangan mulai diterbitkan untuk kawasan di sekitar pantai. Perusahaan tambang yang beroperasi di wilayah tersebut diduga mengabaikan aturan sempadan pantai dan tidak menjalankan kewajiban reklamasi. Limbah tambang berupa tanah, batu, dan material sisa pencucian mineral dibuang begitu saja ke aliran sungai kecil yang bermuara tepat di Pantai Kartika. Akibatnya, air laut menjadi keruh, terumbu karang mati, dan biota laut menghilang.

Nelayan setempat mengaku pendapatan mereka kini merosot tajam. Ikan yang biasanya melimpah di perairan Pantai Kartika seolah menghilang. Tidak hanya itu, perahu-perahu kecil mereka seringkali rusak terkena material tajam sisa tambang yang terbawa arus laut. Beberapa nelayan terpaksa beralih profesi menjadi buruh tambang dengan upah yang tidak menentu.

Sektor pariwisata yang sebelumnya menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir juga runtuh total. Penginapan, warung makan, dan penyewaan perahu wisata tutup satu per satu karena tidak ada lagi wisatawan yang berani datang. Bau menyengat dari limbah tambang serta pemandangan pantai yang rusak menjadi alasan utama tidak ada lagi orang yang ingin berkunjung.

Warga sekitar yang merasa tidak berdaya sempat melaporkan kondisi ini ke berbagai pihak. Mulai dari pemerintah desa, kecamatan, hingga dinas lingkungan hidup setempat. Namun hingga saat ini tidak ada tindakan nyata yang diambil. Bahkan aktivitas tambang justru semakin masif. Truk-truk besar datang dan pergi setiap hari, menggali lebih dalam dan merusak lebih luas.

Aktivis lingkungan dari sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang sempat melakukan kajian lapangan menyebut bahwa kerusakan Pantai Kartika sudah memasuki tahap kritis. Pemulihan alami akan membutuhkan waktu puluhan tahun, itupun jika aktivitas tambang segera dihentikan. Mereka meminta pemerintah provinsi untuk mencabut izin tambang yang beroperasi di kawasan sempadan pantai serta meminta penegakan hukum terhadap pelanggaran lingkungan yang terjadi.

Sementara itu, pihak perusahaan tambang belum memberikan keterangan resmi. Beberapa kali wartawan mencoba menghubungi perwakilan perusahaan, namun hingga berita ini diturunkan belum ada jawaban. Warga setempat justru menerima ancaman dan intimidasi setelah beberapa kali menggelar aksi protes kecil-kecilan.

Kerusakan Pantai Kartika bukanlah kasus pertama di Indonesia. Banyak pantai indah di berbagai daerah yang mengalami nasib serupa akibat tambang. Namun tragedi ini menjadi pengingat bahwa alam tidak bisa diperkosa terus-menerus tanpa ada konsekuensi. Jika keserakahan tambang tidak segera dihentikan, maka bukan hanya Pantai Kartika yang akan lenyap, tetapi juga masa depan anak cucu yang berhak menikmati keindahan bumi Indonesia.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
D

Ditulis oleh

Dina

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Gempa Terkini Magnitudo 4,0 Getarkan Malang, Berpusat di Kedalaman 24 Km

Gempa Terkini Magnitudo 4,0 Getarkan Malang, Berpusat di Kedalaman 24 Km

JAKARTA – Wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, dan sekitarnya kembali diguncang oleh peristiwa gempa bumi tektonik pada hari ini. Berdasarkan rilis data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi yang terjadi tercatat memiliki kekuatan Magnitudo 4,0 ....

25 Agu 2026

Lombok Berduka, Kebakaran di Desa Adat Sade Sabtu Malam Lahap 120 Bangunan Tradisional

Lombok Berduka, Kebakaran di Desa Adat Sade Sabtu Malam Lahap 120 Bangunan Tradisional

LOMBOK TENGAH – Suasana duka dan keprihatinan mendalam menyelimuti Desa Adat Sade, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Musibah kebakaran hebat melalap kawasan permukiman tradisional suku Sasak tersebut pada Sabtu malam. Berdasarkan pendataan awal dari tim penanggulangan bencana setempat,...

24 Agu 2026

Fenomena Gerhana Bulan Sebagian Akhir Agustus 2026 Mengapa Tidak Dapat Diamati dari Indonesia?

Fenomena Gerhana Bulan Sebagian Akhir Agustus 2026 Mengapa Tidak Dapat Diamati dari Indonesia?

JAKARTA _ Fenomena astronomi selalu berhasil menarik perhatian publik, termasuk peristiwa Gerhana Bulan Sebagian yang diproyeksikan terjadi pada akhir Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama konsorsium peneliti astronomi nasional merilis analisis ilmiah mengenai peristiwa langit tersebut. Hasil...

23 Agu 2026

Kebakaran Lahan Taman Nasional Way Kambas Diduga Disengaja, Polisi Turun Tangan Selidiki Penyebabnya

Kebakaran Lahan Taman Nasional Way Kambas Diduga Disengaja, Polisi Turun Tangan Selidiki Penyebabnya

JAKARTA – Kawasan hutan dan padang savana di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Lampung, mengalami kebakaran cukup hebat sejak Jumat siang. Kobaran api yang dengan cepat merambat akibat cuaca kering dan tiupan angin kencang membuat ratusan hektare...

23 Agu 2026