Rupiah Lepas dari Jerat Pelemahan dan Tembus Zona Hijau

S Sawalika 29 Jul 2026 0 dilihat 3 menit baca

Setelah tertekan selama empat hari perdagangan beruntun, nilai tukar rupiah akhirnya berhasil berbalik arah dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Pembalikan ini menjadi angin segar bagi pasar keuangan domestik yang sempat dibayangi kekhawatiran mendalam dalam sepekan terakhir.

Mengacu pada data Refinitiv, mata uang Garuda ditutup terapresiasi 0,06% ke posisi Rp18.045 per dolar AS. Angka ini sekaligus memutus rentetan pelemahan yang telah berlangsung sejak akhir pekan lalu, ketika rupiah berulang kali menyentuh level psikologis Rp18.000-an.

Pergerakan rupiah hari ini sebenarnya diwarnai drama tersendiri. Pada pembukaan pukul 09.02 WIB, rupiah justru dibuka melemah 0,25% ke posisi Rp18.100 per dolar AS, kembali menyentuh level psikologis yang sempat membuat pelaku pasar waswas. Bahkan sepanjang sesi pagi, tekanan terhadap rupiah masih terasa kuat seiring fluktuasi harga minyak dunia yang terus membebani mata uang negara-negara net importir energi seperti Indonesia.

Namun seiring berjalannya waktu, tekanan tersebut berangsur mereda. Rupiah perlahan merangkak naik hingga akhirnya berhasil menembus zona hijau pada penutupan sore hari. Posisi penutupan tercatat 55 poin lebih kuat dibandingkan level pembukaan — sebuah pembalikan yang cukup tajam untuk ukuran perdagangan satu hari.

Penguatan rupiah tidak lepas dari melemahnya indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Pada pukul 15.00 WIB, DXY tercatat melemah 0,12% ke posisi 101,29, koreksi yang lebih dalam dibandingkan pelemahan tipis 0,01% pada sesi pagi.

Pelemahan dolar AS ini terjadi menjelang pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan rilis Rabu waktu AS, atau Kamis dini hari waktu Indonesia. Meski greenback masih mendapat sokongan dari permintaan aset aman di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kekuatannya berangsur luntur sepanjang hari seiring sikap wait and see pelaku pasar.

Saat ini pasar memperhitungkan peluang sekitar sepertiga bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Selain keputusan suku bunga itu sendiri, investor juga akan mencermati pernyataan resmi The Fed untuk membaca arah kebijakan moneter AS ke depan, termasuk sinyal dari Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh.

Di tengah dinamika pasar yang masih fluktuatif, Bank Indonesia (BI) menegaskan kembali komitmennya menjaga stabilitas rupiah, terutama di tengah tingginya ketidakpastian global dan berlangsungnya masa transisi kepemimpinan di internal bank sentral menyusul mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo secara mendadak pekan ini.

Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyampaikan bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prasyarat utama untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

"Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," ujar Erwin.

Ia menambahkan bahwa upaya menjaga rupiah tidak hanya mengandalkan instrumen suku bunga. BI turut mengoptimalkan sejumlah instrumen moneter lain, termasuk triple intervention di pasar valuta asing yang mencakup pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta memperkuat Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas insentif swap dan hedging DNDF.

Langkah-langkah tersebut, menurut Erwin, ditujukan untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan, sekaligus mendorong masuknya aliran modal asing ke dalam negeri.

Meski berhasil kembali ke zona hijau hari ini, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati sejumlah faktor risiko dalam beberapa hari ke depan. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada harga minyak global, proses transisi kepemimpinan di Bank Indonesia, serta arah kebijakan suku bunga The Fed pascapengumuman FOMC menjadi katalis utama yang akan menentukan apakah momentum penguatan rupiah ini dapat berlanjut atau justru kembali tertekan.

Bagi pelaku pasar dan masyarakat yang berencana melakukan transaksi valuta asing, penguatan rupiah hari ini setidaknya memberi sedikit ruang bernapas setelah tekanan bertubi-tubi dalam sepekan terakhir. Namun kewaspadaan terhadap volatilitas tetap dianjurkan, mengingat sejumlah sentimen besar masih menanti di depan mata.

Bagikan artikel ini:

WhatsApp X / Twitter Facebook
S

Ditulis oleh

Sawalika

Jurnalis & Kontributor RianSA — Portal Berita Terpercaya.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama berkomentar!

Artikel Terkait

Bursa Asia Bersiap Menguat, IPO Anthropic Kembali Bangkitkan Minat Investor terhadap AI

Bursa Asia Bersiap Menguat, IPO Anthropic Kembali Bangkitkan Minat Investor terhadap AI

Bursa saham Asia diperkirakan bergerak menguat pada perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026, mengikuti tren positif di Wall Street setelah pengajuan dokumen penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) Anthropic PBC kembali menarik perhatian investor terhadap industri kecerdasan buatan...

27 Okt 2026

Bitcoin Turun di Bawah US$80.000, Investor Kembali Mencermati Tren AI

Bitcoin Turun di Bawah US$80.000, Investor Kembali Mencermati Tren AI

Harga Bitcoin kembali melemah hingga turun di bawah level US$80.000 pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Pelemahan tersebut terjadi ketika perhatian investor mulai beralih ke kebangkitan saham-saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), menjelang pengumuman kinerja keuangan sejumlah perusahaan...

27 Okt 2026

Indeks Harga Saham Gabungan Mengalami Volatilitas Tajam Akibat Wacana Penyesuaian Klasifikasi Pasar oleh MSCI

Indeks Harga Saham Gabungan Mengalami Volatilitas Tajam Akibat Wacana Penyesuaian Klasifikasi Pasar oleh MSCI

Laju Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia bergerak sangat fluktuatif dan berada di bawah tekanan besar pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Pergerakan IHSG yang diwarnai gelombang aksi jual intensif ini menyita perhatian luas dari para pelaku pasar modal, analis...

27 Okt 2026

Bisnis Digital Membuka Peluang bagi UMKM, Kepercayaan Pelanggan Menjadi Modal Utama

Bisnis Digital Membuka Peluang bagi UMKM, Kepercayaan Pelanggan Menjadi Modal Utama

Jakarta  — Pemanfaatan teknologi digital memberikan kesempatan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menjangkau pelanggan di luar lingkungan tempat usaha. Melalui toko daring, media sosial, layanan pesan, dan pembayaran digital, pelaku usaha dapat memasarkan produk tanpa harus membuka...

27 Okt 2026